TrendForce: Kenaikan Harga Memori Tekan Produksi Smartphone 2026

20 hours ago 10

Selular.ID – TrendForce, firma riset pasar teknologi terkemuka, memperingatkan bahwa lonjakan harga komponen memori (memory chips) berpotensi menekan produksi smartphone global secara drastis sepanjang 2026.

Dalam press release yang dirilis pada 11 Februari 2026, TrendForce menyatakan bahwa harga memori yang meroket belum menujukkan tanda-tanda melandai dan diprediksi mampu mendorong penurunan produksi smartphone hingga sekitar 10% secara tahunan (YoY) menjadi sekitar 1,135 miliar unit pada 2026.

Laporan ini menyoroti bahwa lonjakan harga kontrak memori — khususnya untuk konfigurasi umum 8GB + 256GB — dilaporkan meningkat hampir 200% YoY pada quarter pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara historis, biaya memori hanya menyumbang sekitar 10–15% dari total biaya komponen (bill of materials/BOM) smartphone.

Kini, angka tersebut meningkat tajam menjadi sekitar 30–40%, sehingga memaksa produsen mempertimbangkan penyesuaian harga jual atau merombak spesifikasi produk untuk melindungi margin laba.

TrendForce menjelaskan bahwa tekanan harga ini tercipta akibat ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan global yang semakin melebar. Permintaan memori untuk kebutuhan server dan infrastruktur artificial intelligence (AI) terus memakan kapasitas produksi, sementara suplai memori konvensional yang ditujukan bagi smartphone dan perangkat konsumen lainnya tetap terbatas.

Kondisi ini diperparah dengan penurunan inventaris memori yang dilaporkan turun di bawah tingkat yang sehat, yakni kurang dari empat minggu stok, yang memaksa pembeli untuk membeli pada harga tinggi demi menjaga jalur produksi tetap berjalan.

Dalam konteks dampak merek, TrendForce memproyeksikan bahwa dampak penurunan produksi tidak merata di seluruh ekosistem smartphone global. Samsung, pemimpin pasar yang juga produsen memori terintegrasi vertikal, diperkirakan akan mengalami decline lebih moderat dibandingkan kompetitor lain.

Sedangkan Apple dinilai relatif lebih tahan terhadap tekanan harga memori berkat fokusnya pada model premium dengan daya tahan konsumen terhadap harga lebih tinggi. Sebaliknya, merek yang mengandalkan perangkat entry-level seperti Xiaomi dan Transsion mungkin menghadapi downward revisions dalam produksi bila tekanan biaya terus berlanjut.

Lebih jauh, laporan ini juga mencatat bahwa tekanan harga memori bisa mendorong beberapa strategi penyesuaian pasar: beberapa vendor mungkin menaikkan harga ritel perangkat mereka, sedangkan yang lain mungkin menurunkan spesifikasi atau mengalihdayakan konfigurasi untuk menekan biaya.

Tren downgrade ini diperkirakan akan memengaruhi kombinasi spesifikasi mid-range dan entry-level di pasar, sekaligus memperlambat peningkatan kapasitas memori yang biasa terjadi dari tahun ke tahun.

TrendForce menekankan bahwa kondisi pasar smartphone saat ini tidak hanya dipicu oleh kenaikan harga memori, tetapi juga oleh faktor struktural lain, termasuk meningkatnya periode replacement cycle konsumen yang melihat kebutuhan fungsional smartphone dasar lebih terpenuhi.

Situasi ini, menurut analis, memperkecil insentif konsumen untuk sering melakukan upgrade, sehingga menambah tekanan terhadap volume produksi.

Implikasi ke Depan
Tekanan harga komponen memori diperkirakan akan terus membentuk dinamika pasar smartphone sepanjang 2026. Tekanan biaya ini tidak hanya memengaruhi keputusan harga dan strategi produk vendor, tetapi juga potensi pergeseran pola konsumsi dan preferensi pasar secara global.

TrendForce memandang bahwa bahkan jika tren harga memori stabil di masa mendatang, perubahan struktural permintaan konsumen kemungkinan besar akan terus membatasi pertumbuhan produksi dalam jangka pendek.

Baca Juga: TrendForce: Pasar Smartphone Global H1-2023 Capai Titik Terendah

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |