Selular.ID – Lonjakan nilai saham sektor teknologi di bursa global kembali mengukuhkan posisi para petinggi perusahaan digital dalam daftar orang terkaya di dunia pada awal tahun 2026.
Berdasarkan laporan data terbaru, tujuh dari sepuluh posisi teratas miliarder global saat ini ditempati oleh para pemimpin industri teknologi yang menggerakkan inovasi kecerdasan buatan hingga eksplorasi ruang angkasa.
Fenomena ini mencerminkan betapa kuatnya pengaruh ekosistem digital terhadap distribusi kekayaan global di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah.
Kenaikan kapitalisasi pasar perusahaan raksasa seperti Tesla, Amazon, hingga Meta menjadi faktor utama yang melambungkan kekayaan para pendirinya.
Para pemegang saham melihat optimisme tinggi pada pengembangan infrastruktur digital dan solusi berbasis AI yang kian terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari.
Dominasi ini sekaligus menunjukkan bahwa sektor teknologi tetap menjadi mesin pertumbuhan ekonomi paling progresif dibandingkan industri konvensional seperti retail fisik atau energi fosil.
Pergerakan angka kekayaan ini tidak hanya sekadar statistik di atas kertas, melainkan representasi dari pergeseran fokus investasi dunia.
Para investor kini lebih cenderung menaruh aset mereka pada perusahaan yang memiliki visi jangka panjang dalam transformasi digital.
Nama-nama lama yang sempat tergeser kini kembali menduduki posisi puncak berkat efisiensi operasional dan inovasi produk yang tepat sasaran sepanjang tahun lalu.
Daftar Orang Terkaya di Dunia
Berikut daftar lengkap orang terkaya di dunia, lengkap dengan estimasi hartanya, dilansir dari indeks real-time Forbes.
- Elon Musk (844,7 miliar dollar AS) – teknologi (Tesla, SpaceX).
- Larry Page (264,4 miliar dollar AS) – teknologi (Google).
- Sergey Brin (243,9 miliar dollar AS) – teknologi (Google).
- Mark Zuckerberg (226,8 miliar dollar AS) – teknologi (Facebook).
- Jeff Bezos (224,3 miliar dollar AS) – teknologi/e-commerce (Amazon).
- Larry Ellison (186,4 miliar dollar AS) – teknologi (Oracle).
- Bernard Arnault & family (164,8 miliar dollar AS) – barang mewah (LVMH).
- Jensen Huang (161 miliar dollar AS) – teknologi semikonduktor (Nvidia).
- Warren Buffett (150,4 miliar dollar AS) – investasi (Berkshire Hathaway).
- Rob Walton & family (149 miliar dollar AS) – ritel (Walmart).
Daftar di atas juga kurang lebih hampir sama dengan yang dihimpun Bloomberg.
Sama seperti Forbes, dari 10 orang terkaya di dunia, 7 di antaranya adalah pengusaha teknologi.
Berikut daftar orang terkaya di dunia versi indeks real-time Bloomberg.
- Elon Musk (672 miliar dollar AS) – teknologi (Tesla, SpaceX).
- Larry Page (276 miliar dollar AS) – teknologi (Google).
- Sergey Brin (257 miliar dollar AS) – teknologi (Google).
- Jeff Bezos (235 miliar dollar AS) – teknologi (Amazon).
- Mark Zuckerberg (234 miliar dollar AS) – teknologi (Meta/Facebook).
- Larry Ellison (195 miliar dollar AS) – teknologi (Oracle).
- Bernard Arnault (178 miliar dollar AS) – barang mewah (LVMH).
- Jim Walton (155 miliar dollar AS) – ritel (Walmart).
- Jensen Huang (153 miliar dollar AS) – teknologi (Nvidia).
- Warren Buffett (152 miliar dollar AS) – investasi (Berkshire Hathaway).
Perbedaan estimasi keduanya disebabkan oleh penggunaan metodologi yang berbeda.
Melansir dari laman masing-masing, Forbes memperbarui data dari saham publik hampir real-time, yakni setiap 5 menit (dengan delay harga 15 menit).
Sementara Bloomberg, meng-update data secara harian dengan mengestimasikan net worth dari angka final, dihitung setelah penutupan pasar saham di New York.
Baca juga:
- Elon Musk Bantah Starlink Buat Ponsel
- Ribuan CCTV Bisa Terpantau di Google Maps Saat Arus Mudik dan Balik Lebaran 2026
Elon Musk dan Dominasi Industri Masa Depan
Elon Musk tetap mempertahankan posisinya sebagai individu terkaya di planet ini dengan total kekayaan yang terpaut cukup jauh dari pesaing di bawahnya.
Keberhasilan Tesla dalam memperluas pasar kendaraan listrik di Asia dan kemajuan signifikan SpaceX dalam kontrak-kontrak peluncuran satelit menjadi motor utama penambah pundi-pundi kekayaannya.
Kepemimpinan Musk yang kontroversial namun visioner terbukti masih mampu menjaga kepercayaan pasar terhadap stabilitas bisnis yang ia kelola.
Selain Tesla, performa platform media sosial X (sebelumnya Twitter) juga mulai menunjukkan tren stabilisasi pendapatan iklan yang berkontribusi pada penilaian valuasi aset pribadinya.
Musk tidak hanya mengandalkan satu lini bisnis, melainkan membangun ekosistem teknologi yang saling berkaitan, mulai dari transportasi bawah tanah hingga integrasi otak manusia dengan komputer melalui Neuralink.
Strategi diversifikasi ekstrem inilah yang membuatnya sulit digoyahkan dari urutan pertama.
Persaingan Ketat di Lini Bisnis Cloud dan E-commerce
Jeff Bezos mengekor di posisi kedua dengan pertumbuhan kekayaan yang didorong oleh dominasi Amazon di sektor layanan cloud computing (AWS) dan e-commerce.
Meskipun ia sudah tidak menjabat sebagai CEO operasional, kepemilikan sahamnya di Amazon memberikan keuntungan besar saat perusahaan mencatatkan rekor laba pada kuartal terakhir.
Amazon terus memperkuat posisinya melalui otomatisasi logistik yang sangat efisien, sehingga mampu memangkas biaya operasional secara signifikan.
Di sisi lain, sektor retail yang mulai pulih sepenuhnya pascapandemi juga memberikan angin segar bagi bisnis infrastruktur digital yang dikuasai Bezos.
Integrasi AI dalam rekomendasi belanja dan manajemen gudang menjadi kunci mengapa Amazon tetap relevan di tengah gempuran kompetitor baru dari Asia.
Ketahanan model bisnis Amazon dalam menghadapi inflasi global menjadi bukti bahwa sektor teknologi fundamental masih sangat tangguh.
Kebangkitan Meta dan Kejayaan Perusahaan Perangkat Lunak
Mark Zuckerberg mencatatkan kenaikan posisi yang cukup tajam tahun ini berkat performa gemilang Meta Platforms.
Fokus perusahaan pada pengembangan Large Language Models (LLM) dan integrasi fitur AI di Instagram serta WhatsApp berhasil menarik kembali minat pengiklan.
Setelah sempat mengalami penurunan beberapa tahun lalu akibat investasi besar-besaran di Metaverse, kini strategi “Year of Efficiency” yang diterapkan Zuckerberg membuahkan hasil nyata dalam bentuk margin keuntungan yang lebih tebal.
Sementara itu, tokoh-tokoh veteran seperti Bill Gates dan Larry Ellison masih tetap berada dalam daftar elit ini.
Microsoft, yang didukung investasi besar di OpenAI, membuat nilai saham yang dimiliki Gates tetap stabil meski ia kini lebih fokus pada kegiatan filantropi melalui yayasannya.
Larry Ellison melalui Oracle juga menikmati berkah dari migrasi besar-besaran perusahaan di seluruh dunia ke sistem basis data berbasis cloud, yang kini menjadi kebutuhan primer bagi setiap korporasi modern.
Kehadiran Konglomerat Non-Teknologi yang Tersisa
Meski industri teknologi sangat dominan, daftar sepuluh besar ini masih menyisakan ruang bagi pemain dari industri barang mewah dan investasi konvensional.
Bernard Arnault, pemimpin LVMH, menjadi salah satu sosok yang mampu bersaing dengan para bos teknologi.
Kekayaannya yang berasal dari merek-merek ikonik seperti Louis Vuitton dan Dior menunjukkan bahwa pasar barang mewah tetap memiliki basis konsumen yang loyal dan tidak terlalu terdampak oleh volatilitas ekonomi makro.
Warren Buffett, sang “Oracle of Omaha”, juga tetap konsisten berada di jajaran teratas.
Melalui Berkshire Hathaway, Buffett membuktikan bahwa strategi investasi nilai jangka panjang pada perusahaan-perusahaan dengan fundamental kuat seperti Apple, Coca-Cola, dan sektor energi tetap menghasilkan keuntungan konsisten.
Kehadiran Buffett di daftar ini menjadi pengingat bahwa meskipun teknologi adalah masa depan, prinsip-prinsip investasi klasik tetap memiliki tempat yang sangat terhormat di kancah global.














































