Tangis Ibu Chelsea Pecah, Siswi SMP Korban Pembunuhan di Nabire Dikenang Sebagai Anak Penurut dan Bertanggung Jawab

14 hours ago 7

Nabire, Duka mendalam masih menyelimuti keluarga Chelsea (CKC), siswi SMP di Kabupaten Nabire yang menjadi korban pembunuhan. Dalam wawancara pada Sabtu malam (2/8), sang ibu, Maria Tasik, mengenang putrinya sebagai sosok anak yang pendiam di luar rumah, tetapi ceria, terbuka, dan penuh tanggung jawab ketika berada bersama keluarga.

Bagi Maria, kehilangan Chelsea bukan hanya kehilangan seorang anak, tetapi juga sosok yang selama ini menjadi penolong di rumah dan teman setia dalam setiap aktivitasnya.

Maria menceritakan bahwa sejak duduk di bangku Sekolah Dasar hingga SMP, Chelsea selalu dipercaya menjadi ketua kelas. Kepercayaan itu diterimanya karena dikenal disiplin dan mampu memberi contoh kepada teman-temannya.

“Dia selalu cerita kepada saya kalau dipilih lagi menjadi ketua kelas. Saya selalu bilang, kalau jadi ketua harus kasih contoh yang baik, disiplin dan bertanggung jawab,” ujar Maria.

Nasihat itu, menurutnya, benar-benar diterapkan Chelsea dalam kehidupan sehari-hari. Ia selalu berusaha datang lebih awal ke sekolah agar dapat memastikan kelas dalam keadaan bersih sebelum kegiatan belajar dimulai.

Bahkan ketika suatu hari terlambat bangun karena alarm tidak terdengar, Chelsea tetap memutuskan berangkat ke sekolah meski sadar akan mendapat hukuman.

“Saya bilang tidak usah masuk dulu karena sudah terlambat. Tapi dia bilang harus mengembalikan baju petugas upacara dan siap menerima hukuman. Pulang sekolah dia cerita kalau memang dihukum, tapi dia bilang itu memang kesalahannya,” kenang Maria.

7y6u

Maria mengingat dengan jelas momen terakhir sebelum Chelsea meninggalkan rumah.

Sepulang sekolah sekitar pukul 14.30 WIT, Chelsea masih mengenakan seragam sekolah. Saat diajak ikut mendampingi pekerjaan sensus ekonomi yang dijalani ibunya sebagai mitra Badan Pusat Statistik (BPS), Chelsea mengaku kelelahan.

“Dia bilang, ‘Mama, panas sekali’. Saya kira hanya kepanasan karena baru pulang sekolah,” tutur Maria.

Tak lama kemudian, Maria melihat Chelsea tertidur di kamar masih mengenakan seragam sekolah. Ia pun membiarkan putrinya beristirahat sebelum dirinya berangkat bekerja.

“Itu terakhir kali saya lihat dia,” ucapnya dengan suara lirih.

Rajin Membantu Orang Tua

Maria juga membantah berbagai komentar di media sosial yang menyebut putrinya sering keluar rumah tanpa tujuan.

Menurutnya, selama ini Chelsea kerap ikut membantu pekerjaan sensus ekonomi ketika masa libur sekolah. Meski belum menghasilkan uang sendiri, Chelsea membantu mengambil foto bangunan, menandai lokasi, hingga mendokumentasikan data yang dibutuhkan.

“Orang bilang dia sering keluar. Padahal dia keluar untuk bantu saya kerja. Dia ikut sejak masih SD,” katanya.

Chelsea bahkan sering mengatakan ingin cepat besar agar bisa bekerja dan membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

“Dia pernah bilang, ‘Mama, kapan saya cepat besar supaya bisa cari uang seperti Mama’,” tutur Maria.

Menjadi Pengganti Sosok Ayah

Chelsea kehilangan ayahnya sejak masih berusia sekitar dua tahun. Meski masih kecil, Maria menilai putrinya memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap keluarga.

Di rumah, Chelsea kerap membantu memasak, mencuci, hingga membeli kebutuhan sehari-hari. Ia bahkan sering memastikan ibu dan kakaknya sudah makan sebelum dirinya beristirahat.

“Kalau saya pulang capek, dia langsung bantu. Kadang saya minta ambil minum atau belanja, dia selalu siap. Buat saya, dia seperti pengganti bapaknya di rumah,” kata Maria.

Menurutnya, sifat perhatian Chelsea menjadi alasan mengapa kepergiannya meninggalkan luka yang sangat mendalam bagi keluarga.

Meminta Keadilan untuk Chelsea

Di akhir wawancara, Maria menyampaikan harapannya agar proses hukum terhadap pelaku berjalan secara adil.

Dengan suara bergetar, ia mengaku masih sulit menerima kondisi jenazah putrinya akibat tindakan yang disebutnya sangat kejam.

“Saya sudah tidak mengenali wajah anak saya. Itu yang paling membuat saya tidak bisa menerima,” katanya sambil menangis.

Maria memahami bahwa pelaku masih berusia di bawah umur. Namun, ia berharap proses peradilan tetap mempertimbangkan beratnya perbuatan yang telah menghilangkan nyawa putrinya.

“Saya hanya ingin ada keadilan untuk Chelsea. Apakah hukuman beberapa tahun setimpal dengan nyawa anak saya?” ujarnya.

Kasus pembunuhan Chelsea mengundang perhatian masyarakat Nabire dan memicu berbagai reaksi di media sosial. Banyak warga menyampaikan belasungkawa sekaligus berharap aparat penegak hukum dapat mengusut perkara tersebut hingga tuntas sesuai ketentuan yang berlaku.

Di sisi lain, keluarga korban juga berharap masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi mengenai kehidupan pribadi Chelsea.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat pentingnya perlindungan terhadap anak dan remaja serta perlunya penegakan hukum yang memberikan rasa keadilan bagi korban maupun keluarga. Dukungan psikologis bagi keluarga korban juga dinilai penting agar mereka mampu melalui masa duka yang berat.

Sementara itu, masyarakat Nabire masih menantikan perkembangan proses hukum terhadap kasus tersebut. Keluarga berharap setiap tahapan persidangan berjalan transparan sehingga keadilan yang mereka perjuangkan dapat benar-benar terwujud.

[Nabire.Net/Sitti Hawa]

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |