Polisi Ungkap Motif Remaja Bunuh Mantan Pacar di Nabire

12 hours ago 10

Nabire, Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Nabire berhasil mengungkap kasus pembunuhan terhadap seorang siswi SMP yang ditemukan meninggal dunia dalam kondisi terbakar di Kampung Waroki, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Polisi menyebut pelaku diduga telah merencanakan pembunuhan tersebut karena takut rahasia hubungan intimnya dengan korban diketahui oleh kedua orang tuanya.

Kasus yang menggemparkan masyarakat Nabire ini terungkap hanya beberapa jam setelah jasad korban ditemukan pada Kamis (30/7/2026) malam.

Berdasarkan jumpa pers di Mapolres Nabire, Jumat (31/07), polisi menjelaskan bahwa korban CKC dan pelaku AWS sama-sama masih berusia 14 tahun dan pernah menjalin hubungan asmara sejak Mei 2026.

Hubungan tersebut kemudian berakhir sekitar akhir Juni 2026 setelah pelaku menjalin hubungan dengan perempuan lain. Menurut hasil pemeriksaan polisi, sejak putus korban beberapa kali mengancam akan memberitahukan kepada orang tua pelaku mengenai hubungan intim yang pernah mereka lakukan.

Ancaman tersebut diduga menjadi pemicu utama munculnya niat pelaku untuk menghabisi nyawa korban.

Dalam pemeriksaan, pelaku mengaku sempat memblokir nomor WhatsApp korban agar tidak lagi dihubungi. Namun setiap kali komunikasi kembali terbuka, korban disebut kembali mengancam akan mengungkap rahasia tersebut kepada keluarga pelaku.

Polisi mengungkapkan bahwa rasa takut dan tekanan yang dirasakan pelaku akhirnya berkembang menjadi rencana pembunuhan.

Menurut hasil penyidikan, pelaku sebenarnya telah berniat menghabisi korban sejak pertengahan Juli 2026 ketika keduanya sempat merencanakan pertemuan terakhir. Namun rencana tersebut urung dilakukan karena pelaku memiliki jadwal latihan silat.

Kesempatan itu akhirnya datang pada Kamis (30/7/2026). Sekitar pukul 15.00 WIT, pelaku menghubungi korban dan mengajak bertemu.

Sebelum berangkat, pelaku diduga telah menyiapkan sejumlah barang, di antaranya sebilah pisau dapur, sebotol minyak tanah yang dimasukkan ke dalam botol air mineral, serta korek api. Seluruh barang tersebut disimpan di dalam bagasi sepeda motor yang digunakannya.

Korban kemudian dijemput di lokasi yang telah disepakati sebelum keduanya menuju kawasan Kampung Waroki yang relatif jauh dari permukiman warga.

Setibanya di lokasi, pelaku sempat mengeluarkan pisau dan mengancam korban. Korban yang ketakutan berusaha melarikan diri. Pelaku kemudian membuang pisau agar korban kembali percaya dan mendekatinya.

Saat korban berada di dekat pelaku, terjadi perkelahian hingga korban terjatuh. Berdasarkan pengakuan pelaku kepada penyidik, korban kemudian dicekik dari belakang hingga tidak berdaya.

Setelah itu, pelaku mengambil minyak tanah yang telah dipersiapkan sebelumnya, menyiramkannya ke tubuh korban, lalu membakar korban menggunakan korek api sebelum melarikan diri dari lokasi.

Usai melakukan aksinya, pelaku pulang ke rumah dan mengaku bermain gim di telepon genggam untuk menghilangkan rasa takut.

Jasad korban ditemukan warga sekitar pukul 21.00 WIT dalam kondisi terbakar. Tim Satreskrim Polres Nabire bersama Unit Identifikasi langsung mendatangi lokasi, melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), serta membawa jenazah ke RSUD Nabire untuk proses identifikasi dan visum.

Identitas korban akhirnya diketahui setelah polisi mendatangi rumah orang tuanya sekitar pukul 01.20 WIT. Dari keterangan keluarga, diketahui korban terakhir kali berpamitan untuk bertemu mantan pacarnya.

Informasi tersebut menjadi titik awal penyelidikan hingga polisi berhasil mengamankan pelaku di kediamannya di Jalan Kendari, Kelurahan Kalisusu, pada Jumat (31/7/2026) sekitar pukul 02.40 WIT.

Dalam pemeriksaan, pelaku mengakui seluruh perbuatannya. Polisi kemudian kembali ke lokasi kejadian dan berhasil menemukan barang bukti berupa pisau yang sebelumnya dibuang ke semak-semak.

Selain pisau, polisi juga mengamankan sepeda motor, botol berisi minyak tanah, telepon genggam milik korban dan pelaku, serta sejumlah barang bukti lainnya.

Kasus ini menjadi perhatian serius masyarakat karena melibatkan dua anak yang masih berstatus pelajar SMP. Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat pentingnya pengawasan orang tua, pendidikan mengenai relasi yang sehat, serta pendampingan psikologis bagi remaja dalam menghadapi persoalan hubungan dan tekanan sosial.

Saat ini, penyidik Satreskrim Polres Nabire masih melengkapi berkas perkara serta mendalami seluruh rangkaian kejadian untuk proses hukum lebih lanjut sesuai ketentuan peradilan anak yang berlaku di Indonesia.

[Nabire.Net/Sitti Hawa]

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |