Selular.ID – Garmin Indonesia pada 20 Februari 2026 di Jakarta mengumumkan peluncuran Garmin Health Research Grant 2026, sebuah program pendanaan riset yang membuka akses pemanfaatan data wearable untuk penelitian kesehatan di Indonesia.
Melalui kolaborasi dengan Fitrockr, Garmin memperluas penggunaan ekosistem Garmin Health guna mendukung studi ilmiah berbasis data dari perangkat smartwatch.
Inisiatif ini menegaskan posisi Garmin bukan hanya sebagai produsen perangkat gaya hidup dan olahraga, tetapi juga sebagai penyedia teknologi pemantauan kesehatan berbasis sensor yang telah digunakan dalam berbagai penelitian medis global.
Garmin menyatakan bahwa perkembangan teknologi wearable dalam beberapa tahun terakhir telah menjadikan perangkat di pergelangan tangan sebagai sumber data kesehatan yang semakin relevan bagi komunitas ilmiah.
Chandrawidhi Desideriani, Marketing Communications Senior Manager Garmin Indonesia, mengatakan bahwa banyak pengguna belum menyadari potensi ilmiah dari perangkat yang mereka gunakan setiap hari.
“Banyak pengguna Garmin di Indonesia belum menyadari bahwa mereka mengenakan ‘laboratorium mini’ setiap hari. Melalui dukungan terhadap Fitrockr dan komunitas riset, kami ingin menunjukkan bahwa metrik kesehatan seperti Heart Rate Variability (HRV) dan Sleep Score bukan sekadar angka, melainkan indikator medis yang validitasnya dipercaya oleh ilmuwan global,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Program Garmin Health Research Grant 2026 memberikan kesempatan bagi universitas dan institusi kesehatan di Indonesia untuk memanfaatkan data dari perangkat Garmin dalam penelitian berbasis bukti.
Ekosistem Garmin Health menyediakan akses terhadap berbagai metrik seperti detak jantung, variabilitas detak jantung (HRV), tingkat stres, kualitas tidur, hingga pemantauan aktivitas fisik harian.
press release 1920×1440 – 48Teknologi sensor optik detak jantung yang tertanam pada lini perangkat seperti seri Venu dan Instinct, menurut perusahaan, telah digunakan dalam studi yang meneliti gangguan kecemasan, kualitas tidur, stres kronis, serta pemulihan pascaoperasi.
Sensor ini bekerja dengan metode photoplethysmography (PPG), yakni teknik optik untuk mengukur perubahan volume darah di bawah kulit, yang kemudian diterjemahkan menjadi data detak jantung dan variabilitasnya.
Dalam kolaborasi ini, Fitrockr berperan sebagai platform analitik yang mengolah data mentah dari perangkat Garmin menjadi laporan terstruktur yang dapat digunakan oleh dokter maupun peneliti.
Fitrockr membantu mengintegrasikan dan memvisualisasikan jutaan titik data kesehatan sehingga lebih mudah dianalisis dalam konteks klinis maupun akademik. Pendekatan ini memungkinkan pemantauan pasien atau partisipan riset secara jarak jauh tanpa memerlukan perangkat medis tambahan.
Garmin menyebut bahwa pembaruan algoritma dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan akurasi metrik kesehatan, termasuk fitur seperti Body Battery dan Stress Tracking.
Body Battery merupakan indikator estimasi energi tubuh yang dihitung berdasarkan kombinasi HRV, aktivitas, dan kualitas tidur, sementara Stress Tracking memanfaatkan variabilitas detak jantung untuk mendeteksi respons fisiologis terhadap tekanan.
Bagi pengguna di Indonesia, perusahaan menilai pendekatan ini relevan dengan kebutuhan kesehatan preventif. Data wearable dapat menjadi referensi tambahan ketika berkonsultasi dengan tenaga medis, terutama untuk isu seperti gangguan tidur, stres berkepanjangan, atau kelelahan kronis.
Selain itu, peluang riset lokal terbuka untuk mengkaji isu kontekstual, misalnya dampak polusi udara terhadap kualitas tidur dan tingkat stres masyarakat perkotaan.
Garmin menekankan bahwa pendekatan berbasis data memungkinkan pemantauan kesehatan secara kontinu, bukan hanya saat pengguna berolahraga. Perangkat wearable merekam metrik sepanjang hari, termasuk saat tidur dan beraktivitas rutin.
Dengan dukungan analitik dari Fitrockr, data tersebut dapat diolah menjadi wawasan kesehatan yang lebih komprehensif.
Secara global, tren pemanfaatan wearable dalam penelitian medis terus berkembang seiring meningkatnya adopsi perangkat pintar dan kemajuan komputasi awan. Garmin melalui unit Garmin Health sebelumnya telah bekerja sama dengan berbagai institusi riset internasional untuk mendukung studi klinis berbasis data real-time.
Melalui Garmin Health Research Grant 2026, Garmin Indonesia menyatakan komitmennya untuk mendorong kolaborasi ilmiah di tingkat lokal dan mempercepat inovasi kesehatan berbasis teknologi.
Program ini diharapkan memperluas kesadaran bahwa smartwatch tidak hanya berfungsi sebagai pelacak aktivitas, tetapi juga sebagai perangkat pengumpul data kesehatan yang dapat dimanfaatkan dalam penelitian dan pendekatan preventif berbasis bukti.
Baca Juga: Garmin Connect Janjikan Fitur Latihan Adaptif dan Pencegahan Cedera Bagi Penggunanya












































