Selular.ID – Samsung melalui chipset terbarunya, Exynos 2600, dilaporkan mencatat skor ray tracing yang impresif dalam pengujian awal pada perangkat prototipe Galaxy S26.
Dalam laporan tersebut, Exynos 2600 menunjukkan performa ray tracing yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.
Ray tracing merupakan teknik rendering grafis yang mensimulasikan perilaku cahaya secara realistis untuk menghasilkan bayangan, pantulan, dan pencahayaan yang lebih akurat pada gim maupun aplikasi grafis.
Teknologi ini semakin menjadi fokus dalam pengembangan GPU mobile karena meningkatnya kebutuhan grafis kelas konsol di perangkat smartphone.
GSMArena menyebutkan bahwa hasil uji sintetis memperlihatkan peningkatan signifikan pada pengujian yang secara khusus mengukur kemampuan ray tracing hardware.
Meskipun angka detailnya berasal dari hasil benchmark internal yang belum dikonfirmasi secara resmi oleh Samsung, skor tersebut menunjukkan lompatan kinerja dibanding Exynos generasi sebelumnya.
Exynos 2600 dikabarkan menggunakan arsitektur GPU terbaru berbasis AMD RDNA yang sebelumnya telah diadopsi Samsung pada lini Exynos 2200 dan Exynos 2400.
Kolaborasi Samsung dengan AMD dalam mengintegrasikan arsitektur grafis RDNA ke chipset mobile menjadi strategi jangka panjang perusahaan untuk meningkatkan daya saing grafis di segmen flagship.
Integrasi ray tracing hardware memungkinkan pemrosesan efek cahaya dilakukan langsung oleh unit grafis, bukan melalui simulasi perangkat lunak, sehingga meningkatkan efisiensi dan kualitas visual.
Galaxy S26 yang disebut-sebut menjadi perangkat pertama dengan Exynos 2600 diperkirakan akan diluncurkan pada awal 2027, mengikuti siklus tahunan seri Galaxy S.
Selama beberapa generasi terakhir, Samsung menerapkan strategi penggunaan dua varian chipset untuk lini flagship-nya, yakni Exynos untuk pasar tertentu dan Snapdragon dari Qualcomm untuk wilayah lain.
Namun, laporan terbaru mengindikasikan Samsung tengah berupaya memperkuat kembali posisi Exynos agar lebih kompetitif secara global.
Peningkatan performa grafis, khususnya dalam ray tracing, memiliki implikasi langsung pada industri gim mobile.
Pengembang kini mulai mengadaptasi engine seperti Unreal Engine dan Unity agar mendukung ray tracing pada perangkat mobile yang kompatibel.
Dengan skor benchmark yang lebih tinggi, Exynos 2600 berpotensi memberikan pengalaman visual yang lebih realistis pada gim kelas AAA versi mobile.
Selain sektor gim, kemampuan ray tracing juga relevan untuk aplikasi augmented reality (AR) dan komputasi visual lainnya.
Samsung sendiri dalam beberapa tahun terakhir memperluas fokus pada performa AI dan grafis sebagai bagian dari strategi diferensiasi produk premium.
Chipset modern tidak hanya mengandalkan CPU berperforma tinggi, tetapi juga unit pemrosesan grafis (GPU) dan neural processing unit (NPU) yang kuat untuk mendukung AI generatif, fotografi komputasional, serta pemrosesan visual real-time.
Meski hasil benchmark awal terlihat menjanjikan, performa akhir perangkat komersial tetap akan bergantung pada optimalisasi perangkat lunak, manajemen termal, dan efisiensi daya.
Ray tracing dikenal sebagai fitur yang membutuhkan daya komputasi besar, sehingga efisiensi menjadi faktor penting dalam implementasi pada smartphone dengan batasan baterai dan suhu.
Samsung belum memberikan pernyataan resmi terkait detail teknis lengkap Exynos 2600 maupun konfirmasi final penggunaan chipset tersebut pada Galaxy S26.
Namun, kemunculan skor benchmark ini menegaskan bahwa perusahaan terus mengembangkan lini Exynos untuk bersaing di segmen premium yang semakin kompetitif.
Baca Juga:Ada Apa Dengan Samsung Galaxy Z TriFold? Dilaporkan Alami Masalah Teknis Pasca-Rilis
Jika performa grafis yang ditunjukkan dalam pengujian tersebut terealisasi pada perangkat final, Exynos 2600 dapat memperkuat posisi Samsung dalam menghadirkan pengalaman gaming dan grafis kelas atas di smartphone flagship generasi berikutnya.













































