Dulu Kerap Jadi Raja Ponsel Indonesia, Di Mana Posisi Oppo Sekarang?

1 hour ago 2

Selular.ID – Kompetisi keras di pasar smartphone Indonesia, membuat posisi penguasa pasar kerap berganti. Oppo pun merasakan tekanan tersebut.

Sepanjang 2019 – 2023, vendor yang berbasis di Shenzhen itu, pernah dalam beberapa kuartal dan tahun menguasai pasar Indonesia. Kali pertama Oppo memimpin pasar Indonesia terjadi pada 2019.

Berdasarkan laporan lembaga riset yang berbasis di Singapura, Canalys, pada kuartal kedua 2019, Oppo sukses menggamit 26% pangsa pasar.

Pencapaian tersebut tak hanya menandakan kedigdayaan Oppo di atas para pesaingnya,  namun juga memutus dominasi Samsung yang sebelumnya lama berkuasa di Indonesia sejak 2011.

Dalam periode itu, Canalys mengungkapkan bahwa penjualan Oppo tumbuh fenomenal hingga 54%. Seri A dan F menjadi pendorong utama penjualan Oppo.

Keberhasilan Oppo memuncaki pasar ponsel Indonesia, tak lepas dari kejelian perusahaan merumuskan strategi yang tepat dengan kebutuhan konsumen.

Selain kekuatan distribusi yang menjangkau seluruh wilayah Indonesia, komitmen Oppo yang terus menghadirkan fitur-fitur perangkat kelas premium untuk disuntikkan pada perangkat kelas menengah menjadi kunci sukses Oppo menguasai pasar domestik.

Keberhasilan memuncaki pasar Indonesia untuk kali pertama, menjadi momentum yang berharga. Tak hanya bagi Oppo, namun juga Vivo, di mana keduanya sama-sama bernaung di bawah BBK Group.

Faktanya pada 2020, pasar ponsel di Indonesia semakin didominasi oleh merek-merek China. Membuat Samsung semakin keteteran. Vivo dan Oppo bersaing ketat di posisi teratas.

Sepanjang tahun tersebut, Vivo berhasil menguasai pasar dengan fokus pada segmen low-end, sementara pada kuartal-kuartal tertentu, Oppo dan Vivo bergantian memimpin.

Di tahun berikutnya, Oppo mampu lepas dari bayang-bayang Vivo. Oppo menjadi penguasa pasar smartphone di Indonesia pada 2021 berdasarkan data IDC dengan pangsa pasar sekitar 20,8%.

Baca Juga:

Dengan pencapaian itu, Oppo kembali menempati posisi teratas setelah fokus pada segmen low-end dan berhasil mengirimkan 8,5 juta unit ponsel.

Di tahun selanjutnya, momentum Oppo terus berlanjut. Oppo kembali menjadi penguasa pasar ponsel di Indonesia selama 2022 dengan pangsa pasar mencapai 22,4% menurut data IDC.

Oppo merajai pasar ponsel domestik pada 2022 berkat keunggulan di segmen menengah ke bawah (seri A dan Reno), meskipun secara keseluruhan pengiriman smartphone di Indonesia mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, imbas pandemi Covid-19 yang membuat daya beli masyarakat terpangkas.

Namun pasar Indonesia yang terkenal kompetitif, membuat Oppo tak selamanya mampu mempertahankan posisi puncak.

Periode 2023, menandakan  kembangkitan kembali Samsung. Berdasarkan laporan IDC, raksasa elektronik yang berbasis di Seoul – Korea Selatan itu, berhasil memimpin dengan pangsa pasar 20,0%, menggeser Oppo yang menempati posisi kedua (19,1%).

Kejutan terjadi pada 2024. Transsion yang membawahi tiga merek (Infinix, Tecno, Itel), giliran Transsion Holdings yang sukses mengkudeta merek-merek lain yang sudah kelotokan, termasuk Oppo.

Berdasarkan laporan IDC, Transsion yang membawahi tiga merek (Infinix, Tecno, Itel), menjadi penguasa baru pasar smartphone Indonesia pada 2024.

Tercatat pangsa pasar Transsion di tahun itu sebesar 18,3%, tumbuh pesat sebesar 61,7% secara year-over-year (YoY).

Keberhasilan Transsion menguasai pasar Indonesia, membuat Oppo harus puas berada di peringkat kedua, dengan pangsa pasar 17,8 persen, meski tumbuh 7,6 persen (YoY).

Begitu pun sepanjang 2025, penguasa pasar ponsel di Indonesia kembali berganti. Kali ini Xiaomi yang menjadi jawaranya.

Dinukil dari laporan Omdia yang dirilis pada Februari 2026, Xiaomi yang membawahi dua merek lain, Redmi dan Poco, didaulat sebagai penguasa ponsel Indonesia sepanjang 2025.

Di tengah kerasnya kompetisi, menurunnya daya beli masyarakat, dan siklus pergantian perangkat yang lebih panjang, Xiaomi yang berbasis di Beijing – China, mampu menggamit 19% pangsa pasar.

Menggenapi posisi lima besar di sepanjang 2025, berturut-turut setelah vendor yang identik dengan wana jingga itu adalah Transsion (18%), Samsung (17%), Oppo (16%), dan Vivo (15%).

Ilustrasi terkait Oppo

Kinerja Oppo yang kini menurun, menunjukkan tak mudah mempertahankan posisi yang telah diraih. Surplus jumlah pemain, membuat pasar sangat kompetitif.

Kondisi hyper competition memaksa setiap pemain untuk terus berinovasi, meluncurkan varian terbaru dan terus menerus melakukan brand activation  demi peningkatan pangsa pasar.

Mirip dengan lomba lari marathon, dibutuhkan stamina yang kuat untuk mengarungi kompetisi yang ketat.

Sehingga bagi brand-brand yang tidak memiliki visi jangka panjang, pasar Indonesia mungkin mirip dengan fatamorgana.

Sejak dua dekade terakhir, sudah banyak brand ponsel yang lenyap dari pasar Indonesia. Sebut saja Sony, Lenovo, Coolpad, Hisense, Meizu, Blackberry, Gionee, OnePlus, dan LG.

Nasib yang sama juga menimpa brand lokal, seperti Nexian, HiMax, Mito, IMO, Andromax, Mixcon, Taxco, Evercoss dan Polytron. Semuanya sudah tumbang di telan zaman.

Oppo memang tidak terpental dari lima besar yang merupakan kasta tertinggi vendor-vendor smartphone. Meski demikian, sebagai merek yang pernah menjadi penguasa pasar beberapa tahun lalu, tercecer di posisi empat merupakan alarm keras bagi Oppo untuk segera berbenah, jika tak ingin terlempar dari posisi elit.

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |