Selular.ID – Lintasarta menegaskan komitmennya memperkuat solusi kecerdasan buatan (AI) terintegrasi bagi sektor industri melalui pendekatan AI marketspace berbasis model 4C.
Langkah ini diumumkan di Jakarta, 19 Februari 2026, sebagai respons atas meningkatnya kebutuhan perusahaan dalam mengintegrasikan teknologi AI ke sistem operasional secara aman, terukur, dan sesuai regulasi.
Nurendrantoro, Head of Industry Solution Lintasarta, menyatakan bahwa banyak perusahaan di Indonesia telah memiliki strategi AI, namun menghadapi kendala saat tahap implementasi.
Hambatan tersebut meliputi integrasi dengan sistem existing, keterbatasan infrastruktur komputasi, proses pengadaan yang panjang, hingga isu keamanan serta kedaulatan data.
“Indonesia memiliki fondasi inovasi AI yang sangat kuat. Namun agar dampaknya optimal, dibutuhkan wadah yang mampu mengintegrasikan solusi, memperkuat kolaborasi antar pelaku ekosistem, memastikan keamanan data, serta mempercepat implementasi secara terukur. AI marketspace menjadi katalis dan memungkinkan seluruh proses tersebut berjalan lebih sederhana dan efisien,” ujar Nurendrantoro.
Menurut Lintasarta, kompleksitas integrasi menjadi salah satu faktor utama yang memperlambat adopsi AI di berbagai sektor, termasuk manufaktur, keuangan, energi, dan layanan publik.
Implementasi AI tidak hanya membutuhkan model atau aplikasi, tetapi juga kesiapan jaringan (connectivity), infrastruktur komputasi (cloud), sistem keamanan siber (cybersecurity), serta orkestrasi mitra teknologi dalam satu ekosistem yang terstandarisasi.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Lintasarta mengusung pendekatan 4C yang menjadi fondasi AI marketspace perusahaan.
Model ini terdiri dari Connectivity untuk memastikan keandalan jaringan dan transmisi data, Cloud untuk menyediakan skalabilitas infrastruktur komputasi, Cybersecurity guna menjaga keamanan dan kepatuhan data, serta Collaboration yang berperan mengorkestrasi ekosistem mitra dan penyedia solusi.
Sebagai implementasi konkret, Lintasarta menghadirkan Lintasarta AI Marketspace Universe (LAMPU). Platform ini dirancang sebagai kendaraan integrasi berbagai solusi digital dan AI dalam satu ekosistem terpadu.
Di dalamnya, tersedia layanan Software as a Service (SaaS), compute services, Application Programming Interface (API) services, data services, cybersecurity, connectivity, hingga solusi AI dan analytics.
Melalui LAMPU, perusahaan dapat memetakan kebutuhan bisnis, memilih use case yang relevan, dan mengintegrasikan solusi AI tanpa harus membangun seluruh infrastruktur dari awal.
Model ini juga diklaim memungkinkan proses implementasi dan scaling berjalan lebih cepat karena seluruh komponen telah berada dalam kerangka yang terstandarisasi.
Pendekatan AI marketspace juga dinilai dapat memperpendek time-to-value, yakni waktu yang dibutuhkan sejak solusi diimplementasikan hingga memberikan dampak bisnis.
Dalam konteks industri, percepatan ini menjadi krusial karena investasi teknologi harus segera menghasilkan efisiensi operasional, peningkatan produktivitas, atau optimalisasi layanan.
Lintasarta memposisikan diri bukan sekadar sebagai penyedia platform teknologi, melainkan sebagai penyedia solusi terintegrasi yang berorientasi pada kebutuhan industri.
Artinya, fokus tidak hanya pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga pada orkestrasi mitra teknologi, penguatan keamanan data, serta integrasi dengan sistem yang telah berjalan di perusahaan pelanggan.
Secara nasional, langkah ini juga dikaitkan dengan momentum transformasi digital Indonesia.
Pemerintah menargetkan penguatan ekonomi digital dan peningkatan daya saing teknologi sebagai bagian dari visi Indonesia Emas 2045.
Dalam konteks tersebut, pengembangan ekosistem AI yang terintegrasi dinilai menjadi salah satu fondasi penting untuk meningkatkan produktivitas industri dan memperkuat posisi Indonesia di tingkat regional.
Lintasarta menyatakan pendekatan AI marketspace dapat berperan sebagai enabler dan ecosystem builder dalam perjalanan AI nasional.
Dengan menyediakan fondasi infrastruktur, keamanan, dan kolaborasi dalam satu kerangka 4C, perusahaan berharap dapat mempercepat adopsi AI yang tidak hanya inovatif, tetapi juga aman dan sesuai regulasi.
Ke depan, integrasi lintas sektor dan kolaborasi antar pelaku ekosistem akan menjadi faktor penentu keberhasilan implementasi AI di Indonesia.
Baca Juga:Dorong Pemerataan Akses Digital Nasional, Lintasarta Gandeng Starlink
Model terintegrasi seperti yang diusung Lintasarta menunjukkan bahwa percepatan adopsi teknologi tidak hanya bergantung pada kecanggihan solusi, tetapi juga pada kesiapan infrastruktur, keamanan, dan tata kelola yang menyertainya.












































