Selular.ID – Cisco mendorong organisasi di Indonesia untuk segera memperkuat infrastruktur AI setelah temuan terbaru menunjukkan 40% organisasi berisiko kehilangan nilai bisnis akibat ancaman AI Infrastructure Debt atau utang infrastruktur AI.
Peringatan ini disampaikan dalam ajang Cisco Connect Indonesia 2026 yang digelar di Jakarta, Selasa (28/1/2026), dan dihadiri pemimpin industri, pakar teknologi, serta Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) Nezar Patria.
Forum tahunan ini menjadi panggung peluncuran Cisco AI Readiness Index 2025, laporan global yang mengukur kesiapan organisasi dalam mengadopsi dan mengoptimalkan kecerdasan buatan.
Hasilnya menunjukkan adanya kesenjangan signifikan antara organisasi yang siap secara infrastruktur dengan mereka yang bergerak cepat mengadopsi AI, namun belum membangun fondasi teknologi yang memadai.
Managing Director Cisco Indonesia, Cin Cin Go, menegaskan bahwa keputusan infrastruktur yang diambil hari ini akan menentukan kemampuan organisasi dalam memaksimalkan nilai AI di masa depan.
“Para pemimpin AI merancang arsitektur secara berbeda. Mereka membangun fondasi berbasis jaringan, memprioritaskan infrastruktur daya, melakukan optimalisasi berkelanjutan, serta mengintegrasikan keamanan sejak awal,” ujarnya dalam sesi utama Cisco Connect Indonesia 2026.
Ancaman Nyata AI Infrastructure Debt di Indonesia
Cisco mendefinisikan AI Infrastructure Debt sebagai kondisi ketika organisasi mengadopsi AI lebih cepat dibandingkan kesiapan infrastruktur pendukungnya. Utang ini tidak selalu terlihat di awal, namun dapat memicu hambatan serius terhadap inovasi, meningkatkan risiko keamanan, serta menekan efisiensi operasional dalam jangka menengah hingga panjang.
Berdasarkan AI Readiness Index 2025, tanda-tanda awal risiko tersebut sudah muncul di Indonesia. Banyak organisasi mulai menerapkan agen AI dan beban kerja berbasis kecerdasan buatan, namun belum diimbangi dengan kesiapan jaringan, daya listrik, dan sistem keamanan yang memadai.
Data Cisco menunjukkan hanya 29% organisasi di Indonesia yang menilai jaringan mereka sudah optimal untuk mendukung beban kerja AI. Di sisi lain, 43% organisasi mengakui masih kekurangan infrastruktur daya, padahal hampir separuh responden memperkirakan beban kerja AI akan tumbuh lebih dari 50% dalam beberapa tahun ke depan.
AI Pacesetters dan Kesenjangan Kesiapan Infrastruktur
Dalam laporan ini, Cisco mengelompokkan organisasi global ke dalam beberapa kategori kesiapan AI. Hanya sekitar 13% perusahaan secara global yang masuk kategori AI Pacesetters, yakni organisasi yang berada di garis depan adopsi AI dan mampu menghasilkan nilai bisnis secara konsisten.
Kelompok AI Pacesetters ini memiliki karakteristik yang jelas. Sebanyak 97% di antaranya telah mengimplementasikan AI pada skala dan kecepatan yang dibutuhkan untuk membuka berbagai use case sekaligus mencapai return on investment (ROI) yang terukur. Keunggulan tersebut tidak semata berasal dari besarnya investasi, melainkan dari keputusan infrastruktur yang diambil lebih awal dan terarah.
Sebaliknya, organisasi yang terlambat membangun fondasi infrastruktur berisiko terjebak dalam AI Infrastructure Debt, di mana biaya perbaikan dan optimalisasi di kemudian hari menjadi jauh lebih besar dibandingkan investasi awal yang seharusnya dilakukan.
Biaya Kumulatif dari Utang Infrastruktur AI
Cisco menyoroti bahwa dampak AI Infrastructure Debt bersifat kumulatif. Ketika organisasi terus menambah beban kerja AI tanpa memperbaiki infrastruktur dasar, risiko operasional dan keamanan akan meningkat seiring waktu.
Salah satu temuan penting adalah cepatnya adopsi agen AI di Indonesia. Sebanyak 97% organisasi di Indonesia dilaporkan telah menerapkan agen AI otonom. Namun, hanya 42% yang merasa mampu mengamankan agen AI tersebut secara memadai. Ketimpangan ini menciptakan celah keamanan yang berpotensi dimanfaatkan oleh ancaman siber.
Di sisi lain, organisasi yang termasuk AI Pacesetters menunjukkan pendekatan yang lebih seimbang. Sekitar 96% Pacesetters telah menerapkan agen AI, dan 75% di antaranya mampu mengamankannya dengan baik karena keamanan dirancang sejak awal, bukan ditambahkan belakangan.
Empat Pilihan Arsitektur Pembeda Pemimpin AI
Melalui AI Readiness Index 2025, Cisco mengidentifikasi empat pilihan arsitektur utama yang membedakan pemimpin AI dari organisasi lainnya. Keempat faktor ini menjadi fondasi penting untuk menghindari AI Infrastructure Debt.
1. Mengantisipasi keterbatasan daya sejak awal
Lebih dari separuh organisasi di Indonesia memproyeksikan pertumbuhan beban kerja AI di atas 50% dalam tiga hingga lima tahun. Namun, kesiapan infrastruktur daya masih tertinggal. Secara global, 96% AI Pacesetters telah membangun infrastruktur khusus untuk mengoptimalkan konsumsi daya, jauh di atas rata-rata organisasi di Indonesia yang berada di angka 57%.
2. Menjadikan jaringan sebagai fondasi utama
Alih-alih hanya fokus pada komputasi, AI Pacesetters memprioritaskan jaringan untuk mencegah bottleneck. Sebanyak 81% Pacesetters menilai jaringan mereka sudah optimal untuk AI, dibandingkan 29% organisasi di Indonesia. Integrasi AI dengan jaringan juga lebih tinggi pada Pacesetters, mencapai 79%, sementara di Indonesia masih di kisaran 51%.
3. Optimalisasi berkelanjutan sebagai standar operasional
Bagi Pacesetters, penerapan model AI bukan titik akhir. Sekitar 72% memanfaatkan pemantauan berkelanjutan dengan retraining otomatis, sehingga model dapat diperbarui hampir tanpa downtime. Di Indonesia, praktik ini baru diterapkan oleh 38% organisasi, yang berdampak pada lambatnya siklus peningkatan performa AI.
4. Keamanan yang mendukung kecepatan inovasi
Keamanan menjadi bagian integral dari arsitektur AI pada Pacesetters. 84% Pacesetters global telah menerapkan enkripsi end-to-end dengan pemantauan berkelanjutan. Di Indonesia, angka ini masih berada di 56%, menunjukkan ruang perbaikan yang signifikan seiring meningkatnya kompleksitas sistem AI.

Peran Cisco dalam Membangun Infrastruktur AI-Ready
Melalui Cisco Connect Indonesia 2026, Cisco menegaskan posisinya sebagai penyedia infrastruktur krusial di era AI. Perusahaan menghadirkan berbagai sesi pendalaman dan demo langsung untuk menunjukkan bagaimana implementasi AI dapat disederhanakan melalui portofolio terintegrasi.
Cisco memperkenalkan pendekatan menyeluruh, mulai dari pusat data yang AI-ready, lingkungan kerja yang siap menghadapi masa depan, hingga ketahanan digital. Strategi ini dirancang untuk membantu organisasi, baik di sektor enterprise maupun publik, membangun fondasi AI yang aman dan berkelanjutan.
Sebagai pemimpin teknologi global, Cisco juga terus membawa inovasi terbaru ke pasar Indonesia. Beberapa solusi yang diperkenalkan antara lain Cisco Unified Edge, arsitektur AI tervalidasi, Secure AI Factory hasil kolaborasi dengan NVIDIA, serta kapabilitas jaringan generasi berikutnya yang dirancang untuk mendukung beban kerja AI berskala besar.
Cisco AI Readiness Index 2025: Gambaran Global
Cisco AI Readiness Index 2025 merupakan studi global yang kini memasuki tahun ketiga. Survei ini dilakukan secara double-blind terhadap 8.000 pemimpin senior IT dan bisnis yang bertanggung jawab atas strategi AI di organisasi dengan lebih dari 500 karyawan.
Studi ini mencakup 30 pasar dan 26 industri, memberikan gambaran komprehensif tentang kesiapan AI di berbagai wilayah. Salah satu temuan konsisten dari laporan ini adalah bahwa AI Pacesetters memiliki peluang empat kali lebih besar untuk mencatat peningkatan kinerja finansial dan produktivitas dibandingkan organisasi lainnya.
Mengukur Posisi Organisasi dalam Perjalanan AI
Cisco juga menyediakan AI Readiness Assessment Tool yang memungkinkan organisasi mengukur posisi mereka dalam spektrum kesiapan AI. Alat ini mengevaluasi kombinasi infrastruktur, strategi, data, talenta, budaya, dan tata kelola, sehingga organisasi dapat memahami area yang perlu diperkuat.
Pendekatan ini menekankan bahwa kesiapan AI tidak hanya soal teknologi, tetapi juga tentang bagaimana organisasi menyelaraskan investasi infrastruktur dengan tujuan bisnis jangka panjang.
Implikasi bagi Transformasi Digital Indonesia
Temuan Cisco menegaskan bahwa percepatan adopsi AI di Indonesia harus diimbangi dengan pembangunan infrastruktur yang matang. Tanpa fondasi yang kuat, potensi AI untuk mendorong produktivitas dan inovasi berisiko tidak tercapai secara optimal.
Melalui Cisco Connect Indonesia 2026, pesan yang disampaikan cukup jelas: organisasi perlu bergerak cepat, namun tetap terukur. Keputusan infrastruktur yang tepat hari ini akan menentukan kemampuan Indonesia dalam memanfaatkan AI sebagai penggerak utama transformasi digital dan pertumbuhan ekonomi di masa depan.
Baca Juga: Apple Kembali Diselidiki Perancis Soal Rekaman Siri












































