Selular.ID – Sebagian besar pengguna iPhone masih enggan upgrade ke iOS 26 meskipun sistem operasi terbaru dari Apple itu telah tersedia sejak September 2025. Survei dan laporan adopsi terbaru menunjukkan sejumlah kekhawatiran dan hambatan yang membuat sebagian pengguna memilih tetap bertahan pada versi iOS sebelumnya.
Menurut hasil survei yang dirilis awal 2026, sekitar 22 persen responden pengguna iPhone dewasa di AS belum memperbarui perangkatnya ke iOS 26 meski pemberitahuan pembaruan sudah muncul di perangkat. Sebagian besar responden bahkan tidak segera menanggapi peringatan pembaruan tersebut.
Temuan lain dari survei independen juga menunjukkan bahwa alasan pengguna enggan upgrade berkaitan dengan beberapa aspek pengalaman penggunaan dan persepsi risiko. Kekhawatiran terhadap dampak pembaruan pada performa, daya tahan baterai, serta tampilan antarmuka baru disebut sebagai sejumlah faktor utama yang memengaruhi keputusan tersebut.
Desain Liquid Glass yang Kontroversial
Salah satu alasan terbesar pengguna iPhone ragu melakukan update adalah perubahan desain antarmuka di iOS 26, yang dikenal dengan istilah Liquid Glass.
Desain ini memperkenalkan elemen visual semi-transparan dan efek estetika baru yang cukup berbeda dibandingkan versi sebelumnya.
Walaupun Apple berargumen bahwa Liquid Glass memberikan tampilan yang lebih modern dan konsisten antar perangkat, banyak pengguna menganggap tampilan baru ini kurang nyaman untuk dilihat dalam penggunaan sehari-hari. Beberapa kritik menilai keterbacaan teks menurun dan visualnya terasa terlalu ramai.
Lebih lanjut, desain yang dramatis ini juga memicu reaksi beragam di komunitas teknologi, di mana sejumlah pengguna melaporkan bahwa elemen jendela transparan justru mengganggu penggunaan normal, terutama di kondisi pencahayaan kuat atau saat membaca teks panjang.
Perubahan antarmuka yang signifikan semacam ini kerap menjadi faktor yang membuat sebagian pengguna lebih memilih menunda atau bahkan enggan melakukan pembaruan besar, khususnya jika perubahan tersebut memengaruhi kebiasaan penggunaan mereka sehari-hari.
Kekhawatiran Performa dan Baterai
Selain tampilan, kekhawatiran akan penurunan performa dan baterai juga menjadi alasan penting mengapa pengguna enggan upgrade ke iOS 26.
Data survei menunjukkan sekitar 24,2 persen pengguna khawatir bahwa iOS 26 dapat berdampak negatif pada daya tahan baterai, sementara 23,8 persen lainnya mengungkapkan kekhawatiran tentang performa perangkat setelah pembaruan.
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar, meskipun Apple sering menjelaskan bahwa beberapa dampak awal seperti penggunaan baterai lebih tinggi biasanya terjadi sementara karena proses pengindeksan data setelah update besar. Namun, persepsi awal itu tetap memengaruhi keputusan banyak pengguna.
Faktor lain yang memengaruhi persepsi pengguna adalah kebutuhan ruang penyimpanan yang relatif besar untuk melakukan pembaruan — mencapai puluhan gigabyte — sehingga pengguna dengan iPhone berkapasitas lebih kecil merasa enggan meluangkan ruang untuk update.

Kurangnya Informasi dan Kebiasaan Pengguna
Alasan lain yang cukup dominan adalah kurangnya kesadaran bahwa pembaruan iOS 26 sudah tersedia. Beberapa responden mengaku tidak tahu bahwa update telah dirilis, sementara sebagian lain meyakini bahwa perangkat mereka akan melakukan pembaruan secara otomatis.
Hasil survei juga menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna cenderung menunda pembaruan sistem operasi untuk melihat laporan pengalaman dari pengguna yang telah meng-upgrade terlebih dahulu. Sikap menunggu itu mencerminkan preferensi terhadap stabilitas dan pengalaman terbukti daripada sekadar memasang update baru secepat mungkin.
Selain itu, sebagian pengguna bersikap santai dan hanya akan memperbarui jika aplikasi tertentu tidak lagi kompatibel dengan versi iOS yang lebih lama. Preferensi semacam ini adalah hal umum di kalangan pengguna smartphone karena beragamnya kebutuhan penggunaan perangkat.

Dampak Tingkat Adopsi iOS 26
Tingkat adopsi iOS 26 secara global tercatat lebih rendah dibandingkan rilis iOS sebelumnya pada tahapan waktu yang sama setelah peluncuran. Laporan analitik menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil dari keseluruhan pengguna yang sudah menjalankan versi iOS 26 saat ini.
Rendahnya tingkat adopsi tersebut berdampak langsung pada ekosistem aplikasi, di mana pengembang dan penyedia layanan harus mempertimbangkan kompatibilitas dengan versi iOS lebih lama dalam jangka waktu lebih panjang. Hal ini berbeda dari pola pembaruan di masa lalu, di mana versi baru sistem operasi Apple umumnya diadopsi lebih cepat karena dukungan aplikasi yang berkembang pesat.
Fenomana adopsi yang lambat ini menunjukkan bagaimana preferensi pengguna terhadap stability over novelty, atau menjadikan rasa aman dan kinerja yang sudah terbukti, lebih diutamakan daripada antusiasme terhadap fitur baru saja.

Implikasi untuk Pengguna dan Industri
Bagi pengguna iPhone yang mempertimbangkan upgrade, penting untuk menimbang antara fitur baru dan kebutuhan stabilitas perangkat. Meskipun iOS 26 membawa sejumlah fitur terbaru seperti peningkatan kemampuan asisten pintar dan alat baru lain, rendahnya tingkat adopsi mencerminkan bahwa manfaat tersebut belum dirasakan oleh semua pengguna secara merata.
Sementara itu, dari perspektif industri, pola adopsi yang lebih lambat ini memberikan wawasan penting bagi pengembang aplikasi dan penyedia layanan digital. Mereka perlu memastikan bahwa aplikasi tetap kompatibel dan tidak mengalami gangguan bagi pengguna yang masih menggunakan versi iOS sebelumnya.
Ke depan, Apple kemungkinan akan terus mendorong adopsi iOS 26, terutama dengan pembaruan keamanan terbaru dan fitur tambahan yang stabil, sekaligus memberi alasan lebih kuat bagi pengguna yang masih ragu untuk memperbarui perangkat mereka.
Fenomena enggan upgrade ke iOS 26 menunjukkan bahwa keputusan pembaruan software tidak semata tentang fitur terbaru, tetapi juga soal kenyamanan, performa, dan kepercayaan pengguna terhadap stabilitas pengalaman digital mereka.
Baca Juga: Cara Perbaiki Face ID yang Bermasalah Setelah Update iOS 26













































