Penyebab iPhone Air Gagal di Pasar Global

2 hours ago 4

Selular.ID – iPhone Air, model iPhone berbodi plastik yang diluncurkan Apple pada 2013, tercatat mengalami penjualan buruk di pasar global karena kombinasi strategi harga, desain, dan spesifikasi yang dinilai tidak sepadan oleh konsumen.

Perangkat yang sejatinya dikenal luas sebagai iPhone 5c itu diposisikan Apple sebagai alternatif “lebih terjangkau” dari iPhone 5s.

Namun, alih-alih menjadi pintu masuk bagi pengguna baru, iPhone Air justru kesulitan menarik minat pembeli di banyak negara, termasuk pasar utama Apple seperti Amerika Serikat dan Eropa.

Mengutip analisis PhoneArena, kegagalan iPhone Air bukan disebabkan satu faktor tunggal. Ada sejumlah keputusan produk dan pemasaran yang secara bersamaan membentuk persepsi negatif di mata konsumen, terutama di kalangan penggemar Apple sendiri.

Strategi Harga yang Tidak “Murah”
Salah satu masalah paling mendasar dari iPhone Air adalah harga jualnya. Apple memasarkan perangkat ini sebagai iPhone yang lebih terjangkau, namun selisih harga
dengan iPhone 5s relatif tipis.

Di banyak pasar, perbedaan harga hanya berkisar sekitar USD 100. Bagi konsumen, selisih tersebut dianggap tidak cukup signifikan untuk mengorbankan fitur premium seperti bodi logam, sensor sidik jari Touch ID, dan kamera yang lebih baik di iPhone 5s.

Akibatnya, calon pembeli yang sudah siap mengeluarkan dana untuk iPhone cenderung memilih model flagship. Sementara konsumen yang benar-benar mencari perangkat murah justru melirik smartphone Android di kelas harga yang sama atau lebih rendah.

Material Plastik yang Bertabrakan dengan Citra Apple
Apple selama bertahun-tahun membangun citra sebagai produsen perangkat premium dengan desain elegan dan material berkualitas tinggi.

Kehadiran iPhone Air dengan bodi plastik polikarbonat dianggap bertolak belakang dengan identitas tersebut.

Meski kualitas plastik yang digunakan Apple tergolong solid, persepsi publik tetap sulit diubah.

Banyak pengguna menganggap iPhone Air terasa “murah”, terutama jika dibandingkan dengan iPhone 5 dan 5s yang menggunakan aluminium.

Persepsi ini menjadi isu besar karena konsumen Apple umumnya tidak hanya membeli fungsi, tetapi juga pengalaman dan status yang melekat pada produk.

Spesifikasi yang Terasa Setengah Hati
Dari sisi performa, iPhone Air memang tidak buruk untuk ukuran masanya. Namun, Apple menggunakan chipset yang sama dengan iPhone 5 generasi sebelumnya, sementara iPhone 5s sudah melangkah lebih jauh dengan prosesor 64-bit.

Kapasitas penyimpanan internal juga menjadi sorotan. iPhone Air hadir dengan opsi 16 GB dan 32 GB, tanpa slot ekspansi.

Di saat aplikasi dan konten multimedia mulai semakin besar, kapasitas ini dianggap cepat terasa penuh.

Kombinasi spesifikasi “tahun lalu” dan harga yang masih relatif tinggi membuat iPhone Air sulit bersaing, baik dengan lini iPhone sendiri maupun dengan kompetitor Android yang lebih agresif.

Warna Cerah yang Tidak Menjadi Daya Tarik Utama
Apple menawarkan iPhone Air dalam berbagai warna cerah seperti biru, hijau, kuning, merah muda, dan putih. Strategi ini ditujukan untuk menarik pengguna muda dan segmen baru.

Namun, pendekatan tersebut tidak sepenuhnya berhasil. Banyak konsumen Apple justru lebih menyukai warna netral dan desain minimalis yang selama ini menjadi ciri khas iPhone.

Alih-alih menjadi nilai tambah, pilihan warna cerah pada iPhone Air dinilai sebagian pengguna sebagai gimmick yang tidak cukup kuat untuk menutupi kekurangan lain dari perangkat tersebut.

Posisi Produk yang Membingungkan
Secara strategi, iPhone Air berada di posisi yang sulit. Terlalu mahal untuk disebut iPhone murah, tetapi terlalu “sederhana” untuk disebut iPhone premium.

Kebingungan posisi ini berdampak langsung pada keputusan beli konsumen. iPhone Air tidak memiliki proposisi nilai yang jelas, baik bagi pengguna lama Apple maupun calon pengguna baru.

PhoneArena menilai, Apple seolah ingin menjangkau pasar menengah tanpa benar-benar menyesuaikan harga dan spesifikasi dengan ekspektasi segmen tersebut.
Dampak terhadap Strategi Apple Selanjutnya

Kegagalan iPhone Air menjadi pelajaran penting bagi Apple. Setelah model ini, Apple lebih berhati-hati dalam merilis iPhone “terjangkau”.

Pendekatan tersebut terlihat pada strategi iPhone SE di tahun-tahun berikutnya. Apple memilih desain lama yang sudah teruji, spesifikasi lebih kuat, dan harga yang relatif lebih rasional untuk menarik segmen yang lebih luas.

Dalam konteks industri, kasus iPhone Air menunjukkan bahwa branding premium tidak selalu cukup jika tidak diimbangi dengan nilai yang jelas bagi konsumen.

Baca Juga:Harga iPhone Air Seken Anjlok 47%, Terparah di Seri iPhone 17

Ke depan, pengalaman ini terus memengaruhi cara Apple memosisikan produk non-flagship mereka, terutama di tengah persaingan smartphone global yang semakin ketat dan sensitif terhadap harga.

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |