Ulat Kayu dari Hutan Siriwo Papua Tengah Jadi Sumber Pangan Tradisional, Begini Cara Masyarakat Mengambilnya

6 hours ago 2
(Ulat Kayu dari Hutan Siriwo Papua Tengah ) (Ulat Kayu dari Hutan Siriwo Papua Tengah )

Nabire, Hutan Papua tidak hanya menyimpan keanekaragaman hayati yang luar biasa, tetapi juga menjadi sumber pangan alami bagi masyarakat adat. Salah satu pangan tradisional yang masih dikonsumsi hingga sekarang adalah ulat kayu, larva yang hidup di dalam batang pohon kering. Keberadaan ulat tersebut kembali ditemukan di kawasan hutan Siriwo, Papua Tengah, pada Sabtu (25/7/2026), memperlihatkan bahwa tradisi memanfaatkan hasil hutan masih terus berlangsung.

Masyarakat setempat telah lama mengenal ulat kayu sebagai salah satu bahan pangan yang berasal langsung dari alam. Kehadirannya dianggap sebagai bagian dari kekayaan hutan sekaligus warisan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun.

Di kawasan pegunungan Siriwo, ulat kayu hidup di bagian dalam batang pohon yang telah mati atau mengering. Untuk mendapatkannya, warga harus membuka lapisan kulit pohon secara hati-hati hingga menemukan larva yang bersembunyi di dalam serat kayu.

Proses pencarian ulat dilakukan menggunakan alat sederhana. Cara tersebut membutuhkan pengalaman karena tidak semua batang pohon menjadi tempat hidup larva. Bentuk ulat kayu sendiri sekilas menyerupai ulat sagu yang lebih dikenal sebagai makanan tradisional di berbagai wilayah Papua.

Salah seorang warga, Demianus Magai, memperlihatkan cara mengambil ulat kayu langsung dari batang pohon di tengah hutan. Ia mengupas kayu secara perlahan hingga menemukan larva yang kemudian dikumpulkan untuk dikonsumsi.

“Di balik batang pohon dan lebatnya hutan, tersimpan sumber kehidupan. Dengan keterampilan dan kearifan lokal, ulat kayu diambil sebagai bagian dari kekayaan alam dan tradisi masyarakat Papua,” ujar Demianus.

Pernyataan tersebut menggambarkan eratnya hubungan masyarakat Papua dengan alam. Pengetahuan mengenai lokasi, waktu pencarian, hingga teknik mengambil ulat kayu diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari budaya lokal.

Secara ilmiah, ulat kayu merupakan fase larva dari kumbang penggerek batang. Dalam sejumlah literatur, salah satu spesies yang sering dikaitkan dengan larva penghuni batang kayu ialah Xystrocera festiva. Larva ini hidup dengan memakan bagian dalam batang pohon dan dikenal sebagai hama pada beberapa jenis tanaman berkayu. Di berbagai daerah, kumbang tersebut juga memiliki sebutan lokal seperti boktor atau penggerek batang.

Meski demikian, bagi masyarakat di sejumlah wilayah Papua, larva tersebut tidak hanya dipandang sebagai bagian dari ekosistem hutan, tetapi juga sebagai sumber protein alami yang telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan.

Tradisi mengonsumsi ulat kayu memiliki kemiripan dengan kebiasaan masyarakat Papua yang mengonsumsi ulat sagu. Keduanya menjadi contoh bagaimana masyarakat adat memanfaatkan sumber daya alam secara langsung dengan tetap mengandalkan pengetahuan lokal mengenai lingkungan sekitar.

Keberadaan pangan tradisional seperti ulat kayu juga menunjukkan pentingnya menjaga kelestarian hutan Papua. Selain berfungsi sebagai habitat berbagai flora dan fauna, hutan menjadi sumber kehidupan yang menopang kebutuhan pangan masyarakat adat sejak dahulu.

Di tengah perkembangan zaman, dokumentasi terhadap tradisi pencarian ulat kayu menjadi langkah penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya Papua kepada masyarakat luas. Selain menjaga warisan leluhur, upaya tersebut juga dapat meningkatkan apresiasi terhadap pengetahuan lokal yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di pedalaman Papua Tengah.

[Nabire.Net/Marten Dogomo]

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |