Hotspot di Papua Tengah Meningkat, Nabire Jadi Wilayah dengan Sebaran Tertinggi

12 hours ago 7

Nabire, Sebaran titik panas atau hotspot di Papua Tengah menunjukkan peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Kabupaten Nabire menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian setelah jumlah titik panas di daerah tersebut melonjak pada pemantauan 13 September 2026.

Kepala Stasiun Meteorologi Nabire, Husain Kamadi, mengatakan pemantauan Stasiun Meteorologi Douw Aturure mencatat 376 titik hotspot di Papua Tengah hingga 13 September 2026.

Dari keseluruhan titik tersebut, sebanyak 41 berada dalam kategori kepercayaan rendah, 328 titik memiliki tingkat kepercayaan sedang, sedangkan tujuh lainnya masuk kategori kepercayaan tinggi.

Menurut Husain, klasifikasi tersebut menggambarkan tingkat kemungkinan suatu titik panas berkaitan dengan keberadaan api di lapangan. Titik dengan tingkat kepercayaan rendah masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, sementara kategori sedang menunjukkan kemungkinan yang lebih besar.

Adapun titik dengan tingkat kepercayaan tinggi perlu mendapat perhatian lebih cepat karena memiliki kemungkinan besar berkaitan dengan titik api aktif.

“Untuk tingkat kepercayaan tinggi, ini menunjukkan kemungkinan besar adanya titik api aktif dan perlu segera ditindaklanjuti,” jelas Husain saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Senin (14/9/2026).

Lonjakan Hotspot Mulai Terlihat Sejak 10 September

Peningkatan hotspot di Papua Tengah mulai terlihat sejak 10 September 2026. Pada hari tersebut, data BMKG mencatat 160 titik panas di wilayah Papua Tengah.

Sebaran itu terdiri atas 12 titik dengan tingkat kepercayaan rendah, 125 titik kategori sedang, dan 23 titik kategori tinggi. Kabupaten Puncak menjadi penyumbang terbanyak dengan 116 titik, sedangkan Nabire mencatat 12 titik yang seluruhnya berada pada tingkat kepercayaan sedang.

Sehari berikutnya, jumlah hotspot kembali bertambah menjadi 210 titik. Rinciannya, 11 titik kategori rendah, 173 titik sedang, dan 26 titik tinggi.

Di Nabire, jumlah titik panas pada 11 September tercatat 25 titik, dengan tiga kategori rendah, 20 sedang, dan dua kategori tinggi.

Pada 12 September, total hotspot Papua Tengah sedikit berubah menjadi 203 titik, terdiri atas 35 titik kepercayaan rendah, 166 sedang, dan dua titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Memasuki 13 September, Nabire menjadi wilayah dengan sebaran hotspot terbanyak berdasarkan rincian kabupaten yang disampaikan BMKG. Tercatat 122 titik hotspot, terdiri atas 25 titik kategori rendah, 95 sedang, dan dua titik kategori tinggi.

Kabupaten Dogiyai berada setelah Nabire dengan 31 titik, yang terdiri atas empat titik kepercayaan rendah dan 27 titik kategori sedang.

Potensi Karhutla Masih Tinggi

Husain menjelaskan bahwa data hotspot merupakan salah satu informasi yang digunakan BMKG untuk memantau potensi kebakaran hutan dan lahan. Pemantauan tersebut juga berkaitan dengan analisis mengenai tingkat kemudahan terjadinya kebakaran, potensi penyebaran api, hingga kondisi yang mendukung peningkatan intensitas kebakaran.

Namun, keberadaan hotspot tidak secara otomatis berarti seluruh titik merupakan kebakaran aktif. Karena itu, diperlukan verifikasi dan koordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.

“Ini perlu ada kajian khusus dan bisa berkoordinasi dengan instansi terkait, dalam hal ini teman-teman dari TNI-Polri,” kata Husain.

Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena potensi kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan diperkirakan masih berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi dalam empat hari ke depan.

Hujan Belum Diperkirakan Signifikan

BMKG masih memprakirakan adanya hujan di sejumlah wilayah Papua Tengah dalam sepekan mendatang. Namun, curah hujan tersebut diperkirakan belum cukup signifikan untuk sepenuhnya mengatasi kondisi kering.

Pada 14–16 September, hujan ringan hingga sedang berpotensi terjadi di Mimika, Puncak, dan Puncak Jaya. Sementara pada 17–20 September, peluang hujan masih terdapat di Mimika, Intan Jaya, Paniai, Puncak, dan Puncak Jaya.

Untuk Nabire, masyarakat diminta tetap mewaspadai kondisi panas dan udara kering yang diperkirakan masih berlangsung.

Analisis curah hujan September juga menunjukkan sebagian besar wilayah Papua Tengah berada dalam kategori curah hujan rendah, sekitar 20–50 milimeter per bulan.

Warga Diminta Tidak Membakar Lahan

BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat memperkuat langkah pencegahan kebakaran. Warga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, membakar sampah di area terbuka, maupun membuang puntung rokok sembarangan.

Sosialisasi mengenai bahaya kebakaran juga dinilai perlu diperluas, terutama di kawasan dengan tingkat kerawanan tinggi.

“Apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran, kami mengimbau masyarakat segera melaporkan kepada pihak yang berwenang agar dapat segera ditindaklanjuti,” pungkas Husain.

Dengan meningkatnya hotspot dan masih tingginya potensi karhutla, kewaspadaan masyarakat serta koordinasi lintas instansi menjadi penting untuk mencegah kebakaran meluas dan mengurangi dampaknya terhadap lingkungan maupun aktivitas warga.

[Nabire.Net/Sitti Hawa]

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |