Nabire, 22 Juni 2026 – Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan tengah mengkaji dampak masuknya telur dari luar daerah terhadap keberlangsungan usaha peternak lokal di Papua Tengah.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Papua Tengah, Brian Sendoh, mengatakan kajian tersebut diperlukan mengingat melimpahnya produksi telur dari Surabaya yang saat ini didistribusikan ke berbagai wilayah Indonesia, termasuk Papua Tengah.
“Kita tahu bahwa di Surabaya produksi telur sangat melimpah dan didistribusikan ke berbagai provinsi, termasuk Papua Tengah. Karena itu pemerintah perlu melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk mengkaji kemungkinan pembatasan barang yang masuk. Namun semua harus melalui analisis dan kajian yang matang,” kata Brian kepada awak media usai pembukaan Pelatihan Teknis Pengawasan Perdagangan di Aula RRI Nabire, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, hasil kajian tersebut nantinya akan menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan yang tetap memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan perlindungan terhadap pelaku usaha lokal.
Selain membahas perlindungan peternak lokal, Brian mengungkapkan pemerintah juga sedang mendorong penguatan pelaku usaha Orang Asli Papua melalui program pemberdayaan UMKM.
“Kami berencana mengeluarkan surat edaran atau instruksi untuk memberdayakan pengusaha-pengusaha asli Papua yang ada di Provinsi Papua Tengah agar dapat berkembang dan menjadi bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.
Saat ini, kata Brian, terdapat sekitar 40 UMKM yang telah terdata dan tersebar di delapan kabupaten di Papua Tengah. Sebagian besar bergerak di sektor kopi, kerajinan tangan, noken, kerajinan bunga plastik, serta pengolahan produk pangan lokal.
“Kurang lebih ada 40 UMKM yang sudah terdaftar dan menjadi bagian dari program pembinaan pemerintah provinsi,” jelasnya.
Brian menegaskan bahwa pembinaan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada produksi bahan mentah, tetapi diarahkan untuk menghasilkan produk bernilai tambah dan siap dipasarkan.
Menurutnya, Pemerintah Provinsi Papua Tengah juga akan membantu promosi dan pemasaran produk UMKM melalui berbagai kegiatan, termasuk Trade Expo Indonesia yang diselenggarakan setiap tahun oleh Kementerian Perdagangan.
“UMKM yang sudah siap dan memiliki produk unggulan akan kami fasilitasi mengikuti Trade Expo Indonesia. Ini menjadi peluang untuk memperkenalkan produk Papua Tengah ke pasar nasional bahkan internasional,” katanya.
Ia menyebut sektor kopi menjadi salah satu komoditas unggulan yang terus didorong pengembangannya.
Kabupaten Paniai, Dogiyai, dan Puncak dinilai memiliki potensi besar sebagai sentra produksi kopi Papua Tengah.
Karena itu, pemerintah berencana meningkatkan kapasitas petani kopi dan pelaku usaha melalui berbagai program pelatihan, termasuk pelatihan barista bagi generasi muda Orang Asli Papua.
“Kami ingin anak-anak Papua Tengah tidak hanya mampu memproduksi kopi, tetapi juga mampu mengolah dan memasarkannya dengan baik. Potensi kopi Papua Tengah sangat luar biasa,” ujarnya.
Selain kopi, pemerintah juga mendorong pengembangan produk olahan buah merah di Kabupaten Puncak Jaya sebagai salah satu komoditas unggulan daerah.
Brian menambahkan bahwa keberhasilan program pemberdayaan UMKM sangat bergantung pada sinkronisasi antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten.
“Jangan sampai program provinsi dan kabupaten tumpang tindih. Jika kabupaten fokus pada pelatihan, maka provinsi bisa membantu peralatan atau pemasaran. Dengan begitu bantuan yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan pelaku usaha di lapangan,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi tersebut, Pemerintah Provinsi Papua Tengah berharap UMKM lokal semakin berkembang, memiliki daya saing, serta mampu menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah.
[Nabire.Net/Musa Boma]

6 hours ago
1

















































