FKUB Deiyai Serukan Penyelesaian Konflik Mogodagi dan Minta Pemerintah Pastikan Keamanan Warga

1 day ago 11

Nabire, 29 November 2025 – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Deiyai menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa kekerasan yang terjadi di Kampung Mogodagi, Distrik Kapiraya, yang menewaskan seorang pendeta dan menyebabkan warga mengungsi ke hutan. Seruan itu disampaikan dalam doa bersama dan pembacaan pernyataan sikap di Gereja Kingmi Kefas Mugou Waghete, Sabtu (29/11/2025).

Dalam pernyataan resmi yang dibacakan Ketua FKUB Deiyai, lembaga tersebut menegaskan turut berduka atas kematian Pdt. Neles Peuki, Gembala Jemaat Kingmi Mogodagi, yang dibunuh secara sadis pada insiden kekerasan 24 November 2025. FKUB menilai tindakan kekerasan tersebut tidak dapat dibenarkan dan bertentangan dengan nilai agama mana pun.

Dampak Konflik: Rumah Dibakar, Warga Mengungsi, Enam Luka-Luka

Berdasarkan informasi yang dihimpun FKUB, insiden kekerasan di Mogodagi melibatkan warga Mimika Wee dan warga Mee. Peristiwa itu menyebabkan:

  • Beberapa rumah warga dibakar

  • Sejumlah warga melarikan diri ke hutan dan belum dipastikan keberadaannya

  • Enam warga mengalami luka akibat benda tajam dan tumpul

  • Satu korban meninggal dunia, yakni Pdt. Neles Peuki

FKUB menyatakan konflik tersebut telah menimbulkan hilangnya rasa aman warga untuk beraktivitas, termasuk kegiatan keagamaan, dan membuat beberapa keluarga kehilangan tempat tinggal.

Lima Sikap FKUB

FKUB Kabupaten Deiyai mengeluarkan lima sikap resmi, yakni:

  1. Menyatakan duka mendalam atas meninggalnya Pdt. Neles Peuki.

  2. Menolak segala bentuk kekerasan yang dinilai bertentangan dengan ajaran agama.

  3. Mendesak agar warga yang mengungsi ke hutan segera dipastikan keberadaannya dan diberikan jaminan keamanan.

  4. Meminta adanya rehabilitasi bagi warga yang mengalami trauma dan keluarga korban.

  5. Menekankan pentingnya pemulihan situasi pasca konflik untuk memulihkan kerukunan warga Mee dan Mimika We.

Tiga Saran untuk Pemerintah dan Pihak Terkait

FKUB juga menyampaikan tiga saran penting untuk mencegah konflik serupa:

  1. Pemda dan DPRD Deiyai diminta memastikan keamanan dan pemenuhan kebutuhan warga pengungsi, terutama menjelang perayaan Natal 2025.

  2. Mendorong penyelesaian akar persoalan konflik secara damai dan tuntas agar kekerasan tidak terulang.

  3. Penyelesaian tapal batas dan rekonsiliasi harus melibatkan lembaga adat dan tokoh agama, yang dinilai memahami situasi sosial dan kultural kedua pihak.

FKUB berharap langkah-langkah tersebut dapat segera ditindaklanjuti demi membangun kembali rasa aman dan kerukunan antar warga di wilayah perbatasan Deiyai–Mimika.

[Nabire.Net]

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |