Selular.ID – Cloudera mengumumkan perluasan kemampuan Cloudera AI Inference dan Cloudera Data Warehouse dengan Trino ke lingkungan on-premise pada 10 Februari 2026, memungkinkan perusahaan menjalankan kecerdasan buatan (AI) dan analitik tingkat lanjut secara langsung di pusat data mereka.
Ekspansi ini bertujuan memastikan akses data terpadu yang aman dan terkelola untuk workflow AI di lingkungan multi-cloud, edge, dan on-premise.
Pengumuman resmi tersebut menjelaskan bahwa kemampuan baru ini hadir untuk mendukung organisasi yang beralih dari eksperimen AI ke tahap produksi (production), dengan fokus pada keamanan, latensi rendah, kepatuhan terhadap regulasi, dan biaya operasional yang lebih terprediksi.
Menurut State of Enterprise AI and Data Architecture, hampir separuh perusahaan menyimpan data di data warehouse, sehingga akses AI yang aman dan efisien menjadi kebutuhan utama.
Cloudera menyatakan bahwa kemampuan AI Inference kini tersedia di on-premise untuk mendukung penerapan dan penskalaan model AI kelas enterprise—termasuk Large Language Models (LLM), deteksi penipuan, computer vision, suara, dan berbagai use case lain—langsung di pusat data tanpa perlu memindahkan data sensitif ke cloud publik.
Teknologi ini diakselerasi oleh kolaborasi dengan NVIDIA, meliputi NVIDIA AI stack, GPU NVIDIA Blackwell, NVIDIA Dynamo-Triton Inference Server, serta microservices NVIDIA NIM.
Cloudera menyebut pendekatan ini menghasilkan efisiensi biaya, kendali penuh atas latensi, dan pengelolaan data yang lebih sesuai dengan kebijakan internal perusahaan. Hal ini juga mengurangi risiko pelanggaran regulasi dan kompleksitas operasional yang selama ini menjadi tantangan saat data berpindah lintas lingkungan.
Cloudera Data Warehouse dengan Trino yang kini dapat dioperasikan di on-premise juga membawa manfaat keamanan, governance (tata kelola), dan observability (ketertelusuran) terpusat. Kapabilitas ini dirancang untuk mempercepat akses ke insight bisnis dari data kompleks sambil tetap menjaga aspek keamanan dan kepatuhan.

Dalam pengumuman yang sama, Cloudera juga menghadirkan peningkatan pada Cloudera Data Visualization, yang menyederhanakan alur kerja berbasis AI dalam lingkungan pusat data maupun cloud.
Fitur baru tersebut mencakup AI annotation yang menghasilkan ringkasan dan konteks otomatis untuk grafik atau visual, sehingga mempercepat pemahaman data tanpa penulisan manual.
Cloudera menyebutkan sejumlah peningkatan lain pada Data Visualization, termasuk fitur AI yang lebih tahan terhadap gangguan sementara (transient failures), serta kemampuan analitik penggunaan yang lebih rinci untuk mendukung pemantauan dan optimasi.
Sistem pencatatan query AI juga kini mencatat ID pesan dan traceability, yang berdampak pada transparansi alur analitik dan kemudahan penyelesaian masalah operasional.
Selain itu, Cloudera mengumumkan penyederhanaan pengaturan admin melalui parameter konfigurasi terbaru, yang mempermudah manajemen peran admin serta integrasi dengan single sign-on (SSO) tanpa perlu mengandalkan hard-coded credentials atau kredensial yang tertanam secara statis.
“Peningkatan ini memberikan tingkat kontrol dan fleksibilitas yang belum pernah ada sebelumnya bagi pelanggan kami,” ujar Leo Brunnick, Chief Product Officer Cloudera. Brunnick menegaskan bahwa dengan ketiga kemampuan — AI Inference, Data Warehouse dengan Trino, dan Data Visualization yang berjalan on-premise — organisasi dapat menerapkan AI dan analitik secara aman tepat di lokasi data utama mereka.
Cloudera juga menyoroti pentingnya pemenuhan regulasi dan tata kelola data di Indonesia. Sherlie Karnidta, Country Manager Cloudera Indonesia, menyatakan bahwa kemampuan menjalankan AI langsung di pusat data membantu perusahaan di Indonesia mengontrol latensi dan menjaga data sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) serta panduan tata kelola AI dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Ia menyebut bahwa AI bukan lagi proyek percobaan di perusahaan, tetapi telah menjadi bagian dari operasi bisnis yang nyata.
Kolaborasi teknis antara Cloudera dan NVIDIA juga ditonjolkan dalam pengumuman tersebut. Pat Lee, Vice President, Strategic Enterprise Partnerships NVIDIA, mengatakan kerja sama ini memberikan pelanggan kemampuan untuk menerapkan dan menskalakan AI inference menggunakan GPU NVIDIA Blackwell, sistem Dynamo-Triton, dan microservices NIM, sehingga menghasilkan pengendalian biaya dan efisiensi operasional pusat data yang lebih baik.
Latar belakang inisiatif ini muncul di tengah pergeseran strategi perusahaan dalam menghadapi tantangan data modern. Banyak organisasi kini mencari model operasi yang menggabungkan keamanan, performa, dan kepatuhan regulasi, terutama saat data tersebar di cloud, pusat data internal, maupun perbatasan jaringan edge.
Dengan perluasan layanan AI dan data yang kini mencakup lingkungan on-premise, Cloudera berharap pelanggan dapat mengelola data dan analitik secara terpadu tanpa mengorbankan aspek keamanan atau operasional.
Fitur yang diperkenalkan juga bertujuan mempercepat adopsi AI dalam proses bisnis inti serta mempermudah integrasi berbagai teknologi analitik dalam satu platform.
Pengumuman ini menjadi indikator bahwa penyedia solusi data dan AI global semakin mengakomodasi kebutuhan organisasi untuk memadukan kekuatan cloud dan on-premise, sekaligus memberi pilihan yang lebih fleksibel bagi perusahaan yang memiliki aturan ketat terkait lokasi dan keamanan data.
Teknologi yang digabungkan Cloudera dan NVIDIA diperkirakan membuka peluang bagi perusahaan besar untuk memperluas penggunaan AI dalam skala yang lebih terkendali dan terukur.
Perluasan ini juga selaras dengan tren adopsi AI dan strategi data modern, di mana akses data yang cepat, aman, dan terkelola menjadi pilar penting dalam mencapai efisiensi dan inovasi digital di tingkat enterprise.
Baca Juga: Prediksi Cloudera 2026: Perusahaan Tinjau Ulang Metode Adopsi AI Mereka














































