Yapkema Papua Latih Mama-mama Watiyai Olah Ubi Jadi Produk Bernilai Tambah

2 days ago 15

Deiyai, 28 Maret 2026 – Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (Yapkema) Papua kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat dengan menyelenggarakan pelatihan peningkatan kualitas produk bagi perempuan (mama-mama) di Kampung Watiyai, Kabupaten Deiyai, Jumat (27/03).

Kegiatan ini diikuti oleh belasan peserta yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga yang selama ini menggantungkan penghidupan dari hasil kebun. Selama ini, praktik usaha yang dilakukan masih terbatas pada penjualan bahan mentah tanpa pengolahan, sehingga nilai tambah yang diperoleh relatif rendah.

Pelatihan menghadirkan praktisi sekaligus sarjana gizi, Beti Tekege, yang memfasilitasi pembelajaran melalui pendekatan praktik langsung. Peserta dilatih mengolah ubi jalar (nota) menjadi berbagai produk olahan seperti kue donat dan keripik, dengan penekanan pada peningkatan kualitas rasa, tekstur, dan tampilan produk.

Selain keterampilan teknis, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pendekatan ekonomi Owaadaa yang disampaikan oleh staf Yapkema, Pigai Wegobi. Pendekatan ini menekankan pentingnya pengelolaan potensi lokal sebagai dasar pembangunan ekonomi komunitas. Kegiatan dipandu oleh Nikson Kotouki selaku Petugas Lapangan Program Owaadaa di Deiyai.

Dalam dinamika pasar lokal yang semakin berkembang, kualitas dan variasi produk menjadi faktor penting dalam menarik minat konsumen. Salah satu peserta, Mariana Madai, mengungkapkan bahwa dirinya kerap menerima masukan dari pembeli terkait produk yang dijual.

“Ada pembeli yang bilang kue yang kami jual rasanya sama saja, sehingga mereka tidak tertarik membeli lagi. Mereka minta kalau bisa ada variasi rasa,” ujarnya.

Melalui pelatihan ini, mama-mama didorong untuk melakukan inovasi produk agar mampu bersaing dan menjawab kebutuhan pasar di lingkungan sekitar.

Selama ini, rata-rata peserta menjual ubi jalar dalam bentuk mentah tanpa diversifikasi produk. Padahal, bahan baku lokal tersebut tersedia dalam jumlah melimpah dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Pelatihan juga memperkenalkan alternatif pengolahan ubi jalar menjadi keripik sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada produk makanan dari luar daerah.

Pendampingan yang dilakukan Yapkema Papua selama kurang lebih dua tahun menunjukkan dampak positif terhadap peningkatan kapasitas usaha dan pendapatan masyarakat.

Salah satu peserta, Fince Yeimo, mengaku telah merasakan manfaat dari pelatihan yang diberikan.

“Saya berterima kasih karena setelah Yapkema datang melatih, saya sudah bisa mendapatkan penghasilan dari jualan kue. Saya membuat donat dan kue bulat dari ubi sesuai pelatihan. Itu saya jual, dan dapat uang. Karena banyak yang suka,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa usahanya kini berkembang secara bertahap.

“Sekarang saya sudah bisa membeli tepung per sak, sebelumnya hanya membeli secara eceran. Saya juga pernah mendapatkan pendapatan hingga jutaan rupiah, terutama saat melayani kebutuhan konsumsi kegiatan gereja,” jelasnya.

Kegiatan serupa sebelumnya telah dilaksanakan di Kabupaten Dogiyai pada pekan lalu, dan direncanakan akan dilanjutkan di Kabupaten Paniai pada pekan mendatang kepada kelompok mama-mama dampingan Yapkema.

Melalui kegiatan ini, Yapkema Papua menegaskan pentingnya pembangunan ekonomi berbasis komunitas yang bertumpu pada potensi lokal, serta mendorong masyarakat menjadi pelaku utama dalam sistem ekonomi di wilayahnya.

[Nabire.Net]

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |