Akademisi Indonesia dan Australia Soroti Ancaman Punahnya Ratusan Bahasa Papua

1 day ago 11

Nabire, 14 Mei 2026 – Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire mengadakan seminar internasional bertema “Pelaksanaan dan Pengembangan Bahasa Daerah Papua di Era Globalisasi” pada Rabu, 13 Mei 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya akademik dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah Papua yang kini mulai menghadapi ancaman kepunahan.

Seminar menghadirkan sejumlah akademisi dan peneliti bahasa dari Indonesia maupun luar negeri. Dua pembicara utama yang tampil dalam kegiatan itu adalah Dr. Yohana Wembise dari Universitas Cendrawasih dan Dr. Laura Arnold dari Australian National University.

Dalam pemaparannya, Dr. Yohana Wembise menjelaskan bahwa Papua memiliki kekayaan bahasa yang sangat besar dibanding wilayah lain di dunia. Ia menyebut terdapat sekitar 770 bahasa yang tersebar di Papua dan Papua Nugini, sementara sekitar 260 bahasa berada di wilayah Papua Indonesia.

Menurutnya, keberagaman bahasa tersebut menjadi identitas budaya yang harus dijaga bersama. Namun, penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda Papua kini terus mengalami penurunan karena semakin dominannya penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

“Papua itu unik karena memiliki bahasa yang sangat banyak. Tidak ada tempat lain di dunia yang memiliki keberagaman bahasa seperti Papua,” ujarnya.

(Dr. Yohana Wembise)(Dr. Yohana Wembise)

Ia menilai pelestarian bahasa daerah perlu dimulai dari lingkungan keluarga dengan membiasakan anak-anak menggunakan bahasa ibu sejak dini. Generasi muda juga didorong untuk kembali mempelajari bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya Papua.

Selain membahas pelestarian bahasa, seminar internasional tersebut turut mengangkat metode penelitian linguistik yang dapat dilakukan untuk mendokumentasikan bahasa daerah Papua. Metode itu meliputi rekaman bahasa, wawancara dengan tokoh adat, hingga pengumpulan cerita rakyat sebagai bahan penelitian dan arsip budaya.

Hasil dokumentasi tersebut nantinya diharapkan menjadi sumber referensi bagi generasi mendatang dalam memahami struktur, kosakata, dan kekayaan budaya bahasa Papua.

Sementara itu, Dr. Laura Arnold dari Australian National University menyampaikan bahwa Papua merupakan salah satu kawasan dengan tingkat keberagaman bahasa tertinggi di dunia. Ia mengaku tertarik melakukan penelitian di Papua karena struktur bahasa di wilayah tersebut sangat berbeda dibanding bahasa-bahasa lain di berbagai negara.

(Dr. Laura Arnold dari Australian National University)(Dr. Laura Arnold dari Australian National University)

Namun, ia mengingatkan bahwa keberadaan bahasa daerah di Papua kini berada dalam kondisi mengkhawatirkan, khususnya di wilayah pesisir.

“Sekitar 40 persen bahasa daerah diperkirakan tidak lagi digunakan dalam 50 tahun ke depan jika generasi sekarang tidak lagi menuturkan bahasa daerahnya,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen bahasa daerah di Papua saat ini berada dalam status terancam punah. Karena itu, generasi muda diminta untuk bangga menggunakan bahasa daerah mereka dalam kehidupan sehari-hari.

“Bahasa daerah itu keren. Kita harus bangga menggunakan bahasa sendiri,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Satya Wiyata Mandala, Dr. Petrus Tekege, mengatakan seminar internasional tersebut menjadi bagian dari strategi pengembangan kampus menuju target unggul pada 2029.

Ia menjelaskan bahwa USWIM terus memperluas jaringan kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri, termasuk universitas di Australia, China, Jakarta, Bali, hingga kerja sama dengan Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Universitas Nasional, dan Universitas Gadjah Mada.

(Rektor Universitas Satya Wiyata Mandala, Dr. Petrus Tekege)(Rektor Universitas Satya Wiyata Mandala, Dr. Petrus Tekege)

Menurutnya, seminar internasional tersebut menjadi langkah awal membangun kolaborasi penelitian dan pengembangan bahasa daerah Papua bersama berbagai universitas luar negeri.

“Kalau kita tidak peduli, bahasa daerah pasti akan hilang. Karena itu seminar ini penting untuk mendorong kesadaran bersama tentang pelestarian bahasa dan budaya Papua,” kata Dr. Petrus.

USWIM Nabire juga berharap pemerintah daerah dapat mendukung pelestarian bahasa daerah melalui penerapan kurikulum muatan lokal berbasis bahasa daerah di sekolah-sekolah. Langkah tersebut dinilai penting agar bahasa dan identitas budaya Papua tetap terjaga di tengah perkembangan teknologi digital dan arus globalisasi.

[Nabire.Net/Marten Dogomo]

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |