Selular.ID – Xiaomi resmi memperkenalkan kacamata pintar dengan harga sekitar Rp3 jutaan yang memungkinkan pengguna melakukan panggilan telepon dan memutar musik tanpa perangkat tambahan, menyasar konsumen yang mulai melirik wearable berbentuk non-konvensional.
Perangkat ini diperkenalkan Xiaomi sebagai bagian dari ekosistem AIoT mereka dan dipasarkan lebih dulu di China.
Kacamata pintar Xiaomi tersebut hadir dengan desain yang menyerupai kacamata biasa, tanpa modul kamera mencolok seperti pada generasi awal smart glasses.
Xiaomi memposisikannya sebagai perangkat audio wearable yang mendukung komunikasi hands-free dan konsumsi konten ringan, selaras dengan gaya hidup urban dan mobilitas tinggi.
Dalam keterangan resminya, Xiaomi menyebut kacamata pintar ini dirancang untuk penggunaan harian dengan fokus pada kenyamanan, kualitas audio, serta integrasi mulus dengan smartphone.
Pendekatan ini menandai strategi Xiaomi yang lebih realistis dalam membawa teknologi kacamata pintar ke pasar massal.
Desain Minimalis, Fokus Kenyamanan Harian
Xiaomi memilih pendekatan desain minimalis agar kacamata pintar ini tidak terasa asing saat digunakan sehari-hari.
Bobotnya diklaim relatif ringan untuk ukuran wearable dengan komponen elektronik terintegrasi, sehingga tetap nyaman dipakai dalam durasi panjang.
Bingkai kacamata menggunakan material yang dirancang tahan terhadap penggunaan harian, termasuk aktivitas di luar ruangan.
Xiaomi juga menyertakan perlindungan dasar terhadap cipratan air dan debu, menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna aktif.
Baca juga:
- Xiaomi Resmi Bawa Mijia Smart Audio Glasses ke Indonesia
- Xiaomi Beri Dukungan Native AirPods di Ponsel Android
Tidak adanya layar atau kamera besar membuat kacamata ini lebih menyerupai aksesori fesyen dibandingkan perangkat teknologi, sebuah strategi yang dinilai penting untuk meningkatkan tingkat adopsi di pasar umum.
Fungsi Utama: Telepon dan Pemutar Musik
Sesuai segmentasinya, fungsi utama kacamata pintar Xiaomi terletak pada kemampuan audio.
Perangkat ini dibekali speaker open-ear yang memungkinkan pengguna mendengarkan musik atau menerima panggilan tanpa menutup telinga sepenuhnya.
Teknologi open-ear ini dirancang agar pengguna tetap sadar terhadap lingkungan sekitar, berbeda dengan earphone in-ear yang sepenuhnya mengisolasi suara luar.
Pendekatan ini relevan untuk aktivitas seperti berjalan kaki, bersepeda santai, atau bekerja di ruang publik.
Untuk panggilan telepon, Xiaomi menyematkan mikrofon dengan sistem peredam kebisingan dasar.
Sistem ini membantu suara pengguna tetap terdengar jelas saat melakukan panggilan di lingkungan ramai.
Kontrol Sentuh dan Integrasi Smartphone
Kacamata pintar ini mendukung kontrol sentuh pada bagian gagang, memungkinkan pengguna mengatur pemutaran musik, menerima atau menolak panggilan, serta mengaktifkan asisten suara yang terhubung ke smartphone.
Integrasi dengan ponsel dilakukan melalui koneksi nirkabel, sehingga seluruh fungsi bergantung pada perangkat utama.
Xiaomi menyederhanakan proses pairing agar dapat digunakan lintas aplikasi komunikasi dan pemutar musik.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Xiaomi tidak berusaha menjadikan kacamata pintar sebagai perangkat mandiri, melainkan sebagai ekstensi smartphone dalam bentuk wearable yang lebih praktis.
Daya Tahan Baterai untuk Aktivitas Sehari
Untuk kebutuhan harian, kacamata pintar Xiaomi dibekali baterai internal yang diklaim mampu bertahan beberapa jam untuk pemutaran musik atau panggilan telepon.
Pengisian daya dilakukan melalui konektor khusus yang dirancang agar tidak mengganggu struktur bingkai.
Xiaomi menyebut efisiensi daya menjadi salah satu fokus utama, mengingat ukuran perangkat yang terbatas.
Oleh karena itu, fitur yang dihadirkan tetap dibatasi pada fungsi esensial tanpa membebani konsumsi baterai.
Dalam konteks penggunaan realistis, daya tahan ini dirancang untuk mendukung aktivitas komuter, pekerjaan singkat, atau penggunaan kasual sepanjang hari.
Posisi Harga dan Segmentasi Pasar
Dengan banderol sekitar Rp3 jutaan, kacamata pintar Xiaomi masuk ke segmen menengah yang relatif lebih terjangkau dibandingkan smart glasses premium dari merek global lain.
Strategi harga ini konsisten dengan pendekatan Xiaomi dalam menekan harga sambil tetap membawa fitur fungsional.
Di rentang harga tersebut, perangkat ini tidak bersaing langsung dengan kacamata pintar berbasis augmented reality (AR).
Sebaliknya, Xiaomi menempatkannya sebagai alternatif earphone nirkabel dengan bentuk berbeda.
Pendekatan ini membuka peluang adopsi dari pengguna yang ingin pengalaman audio hands-free tanpa harus menggunakan earbud atau headphone konvensional.
Kacamata Pintar dalam Strategi AIoT Xiaomi
Peluncuran kacamata pintar ini memperkuat strategi AIoT Xiaomi yang menghubungkan berbagai perangkat pintar dalam satu ekosistem.
Dalam beberapa tahun terakhir, Xiaomi konsisten memperluas lini wearable, mulai dari smartwatch, TWS, hingga perangkat rumah pintar.
Kacamata pintar menjadi eksperimen lanjutan untuk melihat sejauh mana pasar menerima wearable berbentuk non-tradisional.
Dengan fungsi yang sederhana dan harga lebih terjangkau, risiko adopsi dinilai lebih rendah dibandingkan perangkat AR kompleks.
Langkah ini juga menunjukkan bahwa Xiaomi memilih pendekatan bertahap, membangun kebiasaan pengguna terlebih dahulu sebelum menghadirkan teknologi yang lebih canggih.
Potensi Penggunaan di Indonesia
Jika nantinya dipasarkan resmi di Indonesia, kacamata pintar Xiaomi berpotensi menarik minat pengguna urban dan profesional muda.
Kebutuhan akan perangkat komunikasi hands-free cukup relevan di kota besar dengan mobilitas tinggi.
Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait regulasi, preferensi konsumen, serta edukasi pasar mengenai fungsi kacamata pintar.
Tanpa layar atau kamera, nilai jual utama perangkat ini sepenuhnya bergantung pada kenyamanan audio dan desain.
Di sisi lain, harga yang relatif terjangkau dapat menjadi faktor kunci untuk memperluas pasar, terutama bagi pengguna yang sudah familiar dengan ekosistem Xiaomi.
Arah Perkembangan Wearable Non-Konvensional
Kehadiran kacamata pintar Xiaomi menegaskan bahwa pasar wearable masih terus bereksperimen dengan bentuk dan fungsi baru.
Tidak semua inovasi diarahkan pada fitur kompleks; sebagian justru fokus pada penyederhanaan pengalaman pengguna.
Dalam beberapa tahun ke depan, perangkat seperti kacamata pintar berpotensi berkembang seiring peningkatan teknologi audio, baterai, dan integrasi AI.
Bagi produsen, tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara fungsi, desain, dan harga.
Bagi konsumen, pilihan perangkat wearable kini semakin beragam, memberikan fleksibilitas untuk memilih teknologi yang paling sesuai dengan gaya hidup dan kebutuhan sehari-hari.












































