Nabire, 5 Februari 2026 – Senator Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) asal Provinsi Papua Tengah, Eka Kristina Murib Yeimo, S.Pd., M.Si, menegaskan bahwa pendekatan militeristik yang diterapkan di Papua tidak menyelesaikan konflik. Sebaliknya, pendekatan tersebut justru memperparah penderitaan masyarakat sipil di wilayah konflik.
Pernyataan itu disampaikan Eka Kristina dalam diskusi publik bertajuk “Dampak Pendekatan Militer di Papua” yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di Kantor YLBHI, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Diskusi publik tersebut menghadirkan empat narasumber, yakni Senator DPD RI Paul Finsen Mayor, Senator DPD RI Eka Kristina Murib Yeimo, perwakilan YLBHI Imanuel Gobay, serta akademisi STF Romo Setyo Wibowo.
Dalam pemaparannya, Eka Kristina menyampaikan bahwa dampak pendekatan militeristik terhadap masyarakat sipil di wilayah konflik Papua sangat memprihatinkan. Hal tersebut didasarkan pada hasil temuan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) periode 2023–2025, serta hasil kerja Tim Panitia Khusus (Pansus) Papua Tengah yang melakukan kunjungan lapangan ke Kabupaten Puncak, Intan Jaya, dan Dogiyai.
“Berdasarkan hasil kunjungan saya ke Sinak, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah, pendekatan militer di Papua tidak menyelesaikan konflik. Justru menimbulkan masalah serius di sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, gangguan psikososial, hingga berujung pada pelanggaran Hak Asasi Manusia,” tegas Eka Kristina.
Sebagai Senator DPD RI perwakilan Papua Tengah, Eka Kristina mengaku telah menyampaikan langsung kepada Presiden Republik Indonesia agar negara segera memfasilitasi dialog damai bagi seluruh pihak yang bertikai, baik OPM/TPNPB/ULMWP maupun TNI/Polri.
“Saya meminta Bapak Presiden sebagai Kepala Negara Republik Indonesia untuk memfasilitasi dialog damai dengan menghadirkan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai mediator,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan kemanusiaan dalam menyikapi konflik Papua. Eka Kristina menyerukan kepada seluruh pihak untuk menghentikan kekerasan dan saling membunuh.
“Manusia adalah makhluk ciptaan paling mulia, diciptakan bukan untuk saling membunuh. Sebagai perempuan Papua dan Senator asal Papua Tengah, saya berbicara atas dasar kemanusiaan,” ungkapnya.
Selain itu, ia mengimbau kelompok bersenjata di wilayah pegunungan Papua untuk menghentikan kekerasan dan menempuh jalan damai. Menurutnya, konflik bersenjata telah menempatkan masyarakat sipil sebagai korban, termasuk akibat pencurian senjata dan penguasaan sumber daya alam yang bukan menjadi haknya.
“Stop kekerasan, stop saling membunuh dan mencuri. Kasihan masyarakat yang terus menjadi korban,” tutup Eka Kristina Murib Yeimo.
[Nabire.Net/Sitti Hawa]

15 hours ago
6













































