Red Hat Soroti Transformasi Telco dan Cloud di Indonesia

4 hours ago 3

Selular.ID – Red Hat melalui Ben Panic, Vice President Global Sales Telco Centre of Excellence sekaligus Head of APAC Telco Sales, memaparkan arah transformasi industri telekomunikasi di kawasan Asia Pasifik (APAC), termasuk Indonesia, yang kini bergerak menuju adopsi horizontal telco cloud, evolusi menjadi techco, serta pemanfaatan AI dan sovereign cloud.

Pernyataan ini disampaikan dalam sesi media yang menyoroti perubahan arsitektur jaringan dan model bisnis operator seluler di tengah percepatan implementasi 5G.

Menurut Ben Panic, sejak era virtualisasi jaringan sekitar 2014, banyak operator di APAC membangun infrastruktur dalam model vertikal atau silo, di mana perangkat keras dan perangkat lunak terikat dalam satu vendor.

Model tersebut kini mulai ditinggalkan. Operator beralih ke pendekatan horizontal telco cloud, yang memungkinkan pemisahan antara hardware dan software sehingga operator dapat memilih berbagai komponen dari vendor berbeda sesuai kebutuhan.

Pendekatan ini dinilai memberikan fleksibilitas lebih tinggi sekaligus efisiensi biaya operasional. Selain itu, operator dapat menghindari ketergantungan pada satu vendor, sekaligus mempercepat inovasi layanan.

“Untuk memonetisasi jaringan 5G, operator membutuhkan fleksibilitas dalam memilih mitra aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar lokal,” ujar Ben Panic.

Ia juga mencontohkan sejumlah operator global seperti KDDI di Jepang, StarHub di Singapura melalui inisiatif PolyCloud, serta Vodafone Idea di India yang telah mengadopsi pendekatan ini.

Transformasi ini juga sejalan dengan perubahan identitas industri telekomunikasi yang kini bergerak menjadi perusahaan teknologi atau techco.

Operator tidak lagi hanya mengandalkan layanan konektivitas seperti suara dan data, tetapi mulai mengembangkan sumber pendapatan baru berbasis infrastruktur digital.

Upaya ini mencakup pengembangan kapabilitas internal, kepemilikan intellectual property, serta investasi pada talenta teknologi.

Di Indonesia, transformasi menuju techco disebut membuka peluang baru, terutama dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang teknologi digital.

Operator mulai membangun kemampuan internal untuk mendukung layanan berbasis AI dan otomatisasi jaringan.

Dalam jangka panjang, menuju 2030, jaringan telekomunikasi diproyeksikan akan semakin otonom dengan dukungan kecerdasan buatan, seiring pengembangan teknologi menuju 6G.

Selain itu, pemanfaatan AI saat ini masih banyak difokuskan pada kebutuhan internal operator.

Implementasinya mencakup peningkatan efisiensi network operations center (NOC), deteksi gangguan jaringan secara proaktif, serta peningkatan layanan pelanggan melalui chatbot dan sistem interaksi berbasis AI.

Meski demikian, peran manusia masih tetap dominan dalam pengambilan keputusan.

Ben Panic, Vice President Global Sales Telco Centre of Excellence sekaligus Head of APAC Telco SalesBen Panic, Vice President Global Sales Telco Centre of Excellence Red Hat sekaligus Head of APAC Telco Sales Red Hat

Topik lain yang mengemuka adalah sovereign cloud, yang menjadi perhatian utama di berbagai negara di APAC dan EMEA.

Pemerintah di sejumlah negara seperti India, Jepang, Singapura, Indonesia, dan Australia mulai menekankan pentingnya kedaulatan data dengan memastikan data strategis tetap berada di dalam negeri.

Dalam konteks ini, operator telekomunikasi dinilai memiliki posisi strategis karena memiliki infrastruktur, pengalaman operasional, serta kedekatan dengan regulasi.

Ben Panic mengungkapkan bahwa sebagian operator mulai mengevaluasi kembali penggunaan public cloud karena faktor biaya yang dinilai meningkat.

Tren ini mendorong pergeseran kembali ke solusi on-premise atau hybrid cloud yang lebih selaras dengan kebutuhan sovereign cloud.

Ia memperkirakan tren konvergensi antara public cloud, private cloud, dan sovereign cloud akan semakin kuat hingga periode 2026–2027, khususnya di kawasan APAC.

Di Indonesia sendiri, operator telekomunikasi saat ini menghadapi tantangan modernisasi sistem yang masih didominasi teknologi legacy, baik di sisi jaringan maupun IT.

Kondisi ini mendorong kebutuhan transformasi yang lebih cepat agar operator dapat menghadirkan layanan baru ke pasar dalam waktu singkat, bahkan dalam hitungan jam atau menit.

Indonesia disebut memiliki keunggulan karena dapat memanfaatkan pembelajaran dari implementasi di negara lain, sehingga tidak perlu menghadapi risiko sebagai early adopter.

Dalam kurun waktu 9 hingga 24 bulan ke depan, percepatan adopsi arsitektur cloud modern diperkirakan akan semakin terlihat di industri telekomunikasi nasional.

Modernisasi ini juga berkaitan erat dengan efisiensi biaya operasional dan pengurangan technical debt yang selama ini menjadi beban akibat penggunaan sistem lama.

Dengan beralih ke platform terbuka dan berbasis cloud, operator dapat meningkatkan skalabilitas sekaligus mempercepat inovasi layanan.

Red Hat dalam hal ini memposisikan diri sebagai mitra teknologi yang menyediakan platform terbuka dan ekosistem untuk mendukung transformasi tersebut. Perusahaan juga terlibat dalam proses asesmen dan penyusunan roadmap modernisasi bagi operator.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa industri telekomunikasi di Indonesia tengah memasuki fase penting dalam transformasi digital.

Dengan kombinasi adopsi cloud, AI, dan strategi sovereign cloud, operator diharapkan mampu memperkuat daya saing sekaligus membuka peluang bisnis baru di era ekonomi digital.

Baca Juga: Red Hat AI 3 Hadirkan Inferensi Terdistribusi untuk Beban Kerja Produksi

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |