Populasi Babi di Nabire Turun 60% Akibat ASF, Pemkab Mulai Program Restocking

6 hours ago 6

Nabire, 12 Maret 2026 – Pemerintah Kabupaten Nabire terus melakukan berbagai langkah untuk memulihkan populasi ternak babi yang menurun drastis akibat wabah African Swine Fever (ASF) yang sempat melanda wilayah tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui program restocking atau pengisian kembali kandang ternak masyarakat yang kosong.

Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire, drh. I Dewa Ayu Dwita, K.M., mengatakan program tersebut dilakukan untuk membantu masyarakat, khususnya Orang Asli Papua (OAP), yang kehilangan ternak babi akibat wabah ASF beberapa waktu lalu.

“Pasca wabah ASF, banyak masyarakat yang terpaksa memotong babinya. Karena itu tahun ini kami melakukan program restocking, yaitu pengisian kembali kandang yang kosong dengan bantuan bibit babi kepada masyarakat terdampak,” ujar Dwita kepada awak media usai kegiatan Gerakan Pangan Murah di Nabire, Kamis (12/3/2026).

Dwita menjelaskan, bantuan bibit babi yang diberikan tahun ini jumlahnya terbatas karena adanya efisiensi anggaran pemerintah. Bantuan tersebut hanya disalurkan kepada kelompok peternak yang memenuhi persyaratan sebagai bentuk stimulus untuk memulihkan populasi ternak babi di daerah tersebut.

“Bantuannya tidak banyak, sekitar 100 ekor lebih sedikit, dan hanya diberikan kepada kelompok yang memenuhi syarat. Ini sebagai stimulus agar masyarakat kembali mengembangkan ternak babi,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar memperhatikan pola pemotongan ternak babi demi menjaga keberlanjutan populasi. Menurutnya, babi betina yang masih produktif sebaiknya tidak dipotong karena memiliki peran penting dalam proses pengembangbiakan.

“Pemotongan babi harus diawasi. Babi yang dipotong sebaiknya babi penggemukan, sedangkan babi betina produktif harus dipertahankan untuk menjaga populasi,” katanya.

Dwita mengungkapkan dampak wabah ASF terhadap populasi ternak babi di Kabupaten Nabire cukup besar. Saat ini diperkirakan populasi babi menurun hingga sekitar 60 persen dibandingkan sebelum wabah terjadi.

Ia menjelaskan, meskipun wabah telah berakhir pada Maret 2025, harga daging babi baru mengalami kenaikan signifikan pada November 2025. Hal ini terjadi karena jumlah babi potong semakin berkurang sementara permintaan masyarakat tetap tinggi.

“Selama sekitar delapan bulan harga masih stabil karena populasi masih cukup. Tetapi setelah babi potong mulai berkurang, harga meningkat karena kebutuhan masyarakat tetap tinggi,” ujarnya.

Untuk mengatasi keterbatasan pasokan, pemerintah daerah juga mulai mendatangkan babi hidup dari beberapa daerah lain di Papua, seperti Biak, Serui, Sorong, Manokwari, dan wilayah lainnya.

Meski demikian, harga babi di pasaran masih relatif tinggi karena permintaan masyarakat terus meningkat sementara pasokan masih terbatas.

“Sekarang kita sudah mulai memasukkan babi dari luar daerah, tetapi harga masih tinggi karena kebutuhan masyarakat meningkat sedangkan stok masih terbatas,” jelasnya.

Pemerintah Kabupaten Nabire berharap melalui program restocking, pengawasan pemotongan ternak, serta dukungan kelompok peternak, populasi babi di daerah tersebut dapat pulih secara bertahap sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menekan inflasi daerah.

[Nabire.Net/Musa Boma]

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |