Selular.ID – Palo Alto Networks menegaskan pentingnya keamanan siber berbasis AI dalam mendukung inovasi bisnis di Indonesia, melalui ajang Ignite on Tour Jakarta yang digelar di Jakarta pada 23 April 2026.
Perusahaan keamanan siber global ini menyoroti bahwa adopsi kecerdasan artifisial (AI) yang semakin luas harus diimbangi dengan sistem perlindungan yang mampu mengimbangi kecepatan dan kompleksitas ancaman digital.
Dalam forum tersebut, Haji Munshi, Managing Director and Vice President ASEAN Palo Alto Networks, menjelaskan bahwa era agentic AI—yakni penggunaan agen AI yang dapat bertindak secara mandiri di berbagai lini bisnis—telah memperluas permukaan serangan siber.
AI kini tidak hanya digunakan dalam layanan pelanggan, tetapi juga merambah sistem backend hingga aplikasi berbasis browser.
Menurut Munshi, kondisi ini menciptakan paradoks baru. Di satu sisi, AI membuka peluang besar bagi efisiensi dan inovasi. Namun di sisi lain, teknologi yang sama dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk meningkatkan skala, kecepatan, dan presisi serangan.
“Rata-rata organisasi kini menggunakan 83 alat keamanan dari 29 penyedia. Model ini tidak lagi efektif. Konsolidasi menjadi keharusan untuk menghadapi ancaman yang bergerak secepat mesin,” ujar Munshi dalam pernyataannya.
Data dari Unit 42 menunjukkan peningkatan signifikan dalam kecepatan serangan siber. Sepanjang 2025, sekitar 25% insiden keamanan dengan respons tercepat mencapai tahap eksfiltrasi data—yakni proses pencurian data keluar dari sistem—dalam waktu sedikit lebih dari satu jam.
Angka ini jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata 4,8 jam pada tahun sebelumnya. Temuan ini memperkuat urgensi bagi organisasi untuk mempercepat deteksi dan respons terhadap ancaman.
Palo Alto Networks menilai pendekatan keamanan yang terfragmentasi justru memperlambat respons dan meningkatkan risiko.
Kompleksitas sistem keamanan yang terdiri dari banyak alat berbeda membuat organisasi sulit mengintegrasikan data dan mengambil tindakan secara cepat.
Dalam konteks ini, konsolidasi platform keamanan menjadi strategi utama yang ditawarkan perusahaan.
Secara operasional, Palo Alto Networks mengklaim memproses hingga 500 miliar peristiwa keamanan (security events) dan mencegah sekitar 30 miliar serangan setiap hari.
Kapabilitas ini didukung oleh pemanfaatan AI dan otomatisasi untuk mendeteksi pola ancaman secara real-time.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan ingin memastikan bahwa organisasi, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dapat mengakses tingkat perlindungan yang setara dengan perusahaan global.
Di Indonesia, dorongan terhadap adopsi AI juga sejalan dengan kebijakan pemerintah, termasuk Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (Stranas KA) yang bertujuan mempercepat pemanfaatan AI untuk pertumbuhan ekonomi.
Palo Alto Networks menyatakan bahwa kehadirannya di Indonesia dirancang untuk mendukung arah kebijakan tersebut, khususnya dalam memastikan bahwa inovasi digital berjalan seiring dengan keamanan.
Munshi menambahkan bahwa pertanyaan utama bagi organisasi saat ini bukan lagi apakah mereka akan mengadopsi AI, melainkan seberapa cepat mereka dapat mengamankannya.
Hal ini dinilai krusial untuk menjaga daya saing di pasar yang semakin terdigitalisasi.
Dengan meningkatnya integrasi AI dalam operasional bisnis, kebutuhan akan sistem keamanan yang terintegrasi dan adaptif diperkirakan akan terus tumbuh.
Palo Alto Networks menempatkan konsolidasi platform dan pemanfaatan AI sebagai fondasi untuk menghadapi lanskap ancaman yang semakin kompleks, sekaligus mendukung percepatan transformasi digital di Indonesia.
Baca Juga: Duet Telkom – Palo Alto Networks Dorong Kesiapan Talenta Cyber Security Masa Depan













































