Mantan Menkominfo Sebut, Infrastruktur Digital Ada, Akses Inklusif Masih Jadi Tantangan

10 hours ago 10

Selular.ID – Fondasi infrastruktur digital Indonesia saat sinilai ini sudah cukup kuat untuk mendukung layanan digital yang lebih inklusif.

Hal tersebut diungapkan Rudiantara, Komisaris Utama Amartha sekaligus mantan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo),

Namun, tantangan terbesar masih berada pada pemerataan akses hingga ke tingkat pengguna akhir, terutama di wilayah yang belum terjangkau jaringan distribusi secara optimal.

Rudiantara menjelaskan bahwa pembangunan jaringan tulang punggung atau backbone nasional telah berlangsung selama bertahun-tahun dan kini telah menjangkau hampir seluruh kabupaten dan kota di Indonesia.

Infrastruktur tersebut menjadi fondasi penting bagi pengembangan ekonomi digital, layanan publik berbasis teknologi, hingga perluasan akses internet di berbagai daerah.

Menurut Rudiantara, persoalan yang masih perlu diselesaikan bukan lagi pada ketersediaan backbone, melainkan distribusi akses dari jaringan utama menuju masyarakat.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Ia menekankan bahwa pengembangan infrastruktur digital harus terus dilakukan mengikuti kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

“Kita backbone hampir seluruh kabupaten dan kota sudah terhubung. Yang menjadi tantangan sekarang adalah akses distribusinya,” ujar Rudiantara, baru-baru ini di Jakarta.

Ia menjelaskan bahwa distribusi jaringan menggunakan kabel masih belum menjangkau banyak wilayah. Kondisi geografis Indonesia yang luas dan terdiri dari ribuan pulau membuat pembangunan jaringan kabel hingga ke titik pengguna membutuhkan investasi yang besar dan waktu yang tidak singkat.

Karena itu, teknologi nirkabel atau radio dinilai menjadi salah satu solusi untuk memperluas akses internet secara lebih cepat dan efisien.

Dalam konteks tersebut, Rudiantara menyoroti pentingnya pemanfaatan spektrum frekuensi yang sesuai dengan karakteristik wilayah.

Salah satu spektrum yang dinilai strategis adalah pita frekuensi 700 MHz yang sebelumnya digunakan untuk siaran televisi analog.

Setelah proses migrasi televisi analog ke digital atau Analog Switch Off (ASO), frekuensi tersebut menjadi salah satu aset penting yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas layanan broadband.

Menurutnya, pita 700 MHz sangat ideal untuk wilayah pedesaan atau daerah rural karena memiliki jangkauan sinyal yang lebih luas dibandingkan frekuensi yang lebih tinggi.

Dengan karakteristik tersebut, operator dapat membangun cakupan layanan yang lebih besar dengan jumlah menara yang relatif lebih sedikit.

Sementara itu, untuk wilayah perkotaan yang memiliki kepadatan pengguna tinggi, pita frekuensi 2,6 GHz dinilai lebih sesuai.

Frekuensi ini menawarkan kapasitas yang lebih besar sehingga mampu mendukung kebutuhan trafik data yang terus meningkat seiring pertumbuhan layanan digital dan adopsi teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).

Pemerintah sendiri sebelumnya telah menyampaikan rencana untuk melelang sejumlah spektrum frekuensi, termasuk pita 700 MHz dan 2,6 GHz, guna mempercepat pengembangan jaringan telekomunikasi generasi berikutnya.

Spektrum tersebut dipandang menjadi salah satu faktor penting dalam memperluas cakupan layanan 4G maupun mempercepat implementasi 5G di Indonesia.

Rudiantara menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur digital tidak boleh berhenti pada proyek-proyek besar.

Seperti jaringan backbone. Infrastruktur harus terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat yang semakin bergantung pada layanan digital, mulai dari pendidikan, kesehatan, keuangan digital, hingga aktivitas ekonomi berbasis internet.

Keberadaan proyek nasional seperti Palapa Ring yang menghubungkan berbagai wilayah Indonesia melalui jaringan serat optik menjadi fondasi penting dalam transformasi digital nasional.

Namun, manfaat jaringan tersebut baru dapat dirasakan secara maksimal apabila akses distribusi hingga ke pengguna akhir dapat diperluas secara merata.

Pandangan tersebut sejalan dengan agenda pemerintah yang mendorong pemerataan konektivitas digital sebagai bagian dari upaya memperkecil kesenjangan akses teknologi antarwilayah.

Dengan dukungan backbone yang telah tersedia dan pemanfaatan spektrum frekuensi yang lebih optimal, perluasan akses internet diharapkan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, termasuk di daerah yang selama ini belum terlayani secara memadai.

Bagi sektor layanan digital, termasuk fintech, e-commerce, pendidikan daring, dan layanan publik berbasis elektronik, ketersediaan akses yang merata menjadi faktor penting untuk menciptakan inklusi digital yang lebih luas.

Baca Juga:Daftar Pita Frekuensi yang Bisa Gelar Jaringan 5G, Tak Hanya 2,6 GHz yang Bakal Dilelang

Dalam konteks tersebut, pengembangan infrastruktur distribusi dan pemanfaatan spektrum baru menjadi salah satu langkah krusial untuk memastikan transformasi digital dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |