Ketua Sinode KINGMI Kecam Pembunuhan Pdt. Neles Peuki di Kapiraya

1 day ago 9

Nabire, 29 November 2025 – Ketua Sinode KINGMI di Tanah Papua, Pdt. Yahya Lagoan, M.Th, menyampaikan kecaman keras atas pembunuhan disertai pembakaran terhadap seorang hamba Tuhan, Pdt. Neles Peuki, yang terjadi di Kapiraya dan diduga dipicu konflik batas wilayah pemerintahan. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan tragedi yang sangat melukai hati gereja dan kembali menunjukkan rentetan kekerasan terhadap pelayan Tuhan di Papua.

Pernyataan itu disampaikan Pdt. Lagoan usai menghadiri Wisuda ke-13 Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Nabire yang berlangsung di halaman kampus STAK Nabire, Jumat (28/11/2025).

“Hamba Tuhan Diutus untuk Membawa Damai”

Dalam keterangannya, Pdt. Lagoan menegaskan bahwa kehadiran para pelayan gereja tidak pernah dimaksudkan untuk menciptakan konflik.

“Para hamba Tuhan itu diutus untuk membawa kabar baik tentang kerajaan Allah. Mereka hadir untuk menolong, membangun iman, dan membebaskan umat dari kehidupan yang terbelenggu. Tidak ada niat sedikit pun untuk menciptakan kekerasan,” tegasnya.

Ia menyebut pembunuhan ini sebagai pukulan berat bagi jemaat dan seluruh keluarga besar gereja.

Tragedi yang Terus Berulang di Tanah Papua

Ketua Sinode mengingatkan bahwa kekerasan terhadap pelayan Tuhan bukanlah kejadian baru.

“Kami sangat kesal. Ini bukan pertama kali. Tahun 2018 seorang penerjemah Injil di Dugama dibunuh, dan di Intan Jaya juga pernah terjadi hal serupa. Ini tragedi yang terus berulang,” ungkap Pdt. Lagoan.

Ia menilai konflik yang terjadi di Kapiraya diduga berkaitan erat dengan persoalan batas wilayah akibat pemekaran daerah serta minimnya perhatian pemerintah terhadap aspirasi masyarakat.

“Kehadiran negara sering kali bukan membangun orang Papua, tetapi menghadirkan malapetaka. Seperti firman Tuhan di Yohanes 10:10, pencuri datang untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan. Tetapi Kristus datang membawa damai,” ujarnya.

Pemerintah Diminta Bertindak Tegas

Pdt. Lagoan menegaskan bahwa sebelum negara hadir, injil sudah membawa damai bagi masyarakat Papua. Karena itu, pemerintah diminta untuk tidak meremehkan peran gereja dan masyarakat adat.

Ia mendesak pemerintah, terutama Pemerintah Kabupaten Mimika, untuk segera mengusut kasus ini dan menindak tegas para pelaku.

“Pelaku-pelaku kejahatan itu harus diproses secara hukum. Mereka datang sebagai pencuri dan perampok. Mereka wajib menghargai hak ulayat dan keberadaan orang Papua yang diwariskan Tuhan dari leluhur,” tegasnya.

Serukan Penyelesaian Konflik Batas Wilayah

Ketua Sinode juga mendorong Bupati Mimika, Pemerintah Provinsi Papua Tengah, serta para pemimpin gereja untuk duduk bersama mencari solusi atas persoalan batas wilayah agar peristiwa serupa tidak terulang.

“Ini cukup sekali. Jangan lagi hamba Tuhan menjadi korban akibat konflik seperti ini,” katanya.

Di tengah situasi yang memanas, masyarakat Kapiraya juga diimbau agar tidak terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin memperbesar persoalan.

“Jangan kita dipancing, nanti kita sesama orang Papua yang justru menjadi korban. Kita terima kematian ini sebagai kenyataan pahit, tetapi ke depan kita harus berharap pada hukum negara, hukum gereja, dan hukum adat,” pesannya.

Gereja Akan Terus Mendampingi Jemaat

Pdt. Lagoan menegaskan bahwa gereja akan terus mendampingi umat, namun penyelesaian konflik harus ditempuh dengan cara yang adil, bermartabat, dan melibatkan semua pihak terkait.

[Nabire.Net/Marten Dogomo]

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |