Selular.ID – Survei APJII 2025 didukung tren Alvara Research Center menegaskan internet telah menjadi kebutuhan pokok setara listrik atau air bagi masyarakat Indonesia, dengan penetrasi mencapai 80,66% (229,4 juta jiwa) pada 2025.
Pengguna internet kini didominasi Gen Z dan Milenial, dengan aktivitas utama media sosial (24,8%), berita (15,04%), dan transaksi online (14,95%). Hal itu mencerminkan pergeseran perilaku pengguna di era digital.
Survey Alvara menegaskan, dalam kondisi ekonomi masyarakat yang tertekan seperti saat ini, kebutuhan akan internet telah bertranformasi.
Dari sebelumnya merupakan barang pelengkap, internet telah menjadi bagian dari infrastruktur kehidupan. Sebagai kebutuhan utama, menjadi pertanda bahwa internet tak lagi bisa dipisahkan dari kehidupan kita sehari-hari.
Seperti halnya energi, bahan pangan, toilet dan sanitasi, kehadiran internet yang kini menjelma menjadi kebutuhan pokok menunjukkan perubahan besar.
Naik tingkat menjadi kebutuhan pokok, internet seolah “kebal krisis”. Dengan kebutuhan yang tinggi, tidak mengenal waktu dan tempat, internet menjadi wilayah pengeluaran yang tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dianggap tidak bisa ditawar.
Dengan adanya jaringan internet, masyarakat dapat melanjutkan pekerjaan, pendidikan anak, layanan kesehatan, transaksi keuangan, hingga hubungan sosial.
Dalam situasi sulit, masyarakat bahkan rela untuk menunda membeli baju baru atau membeli rokok, ketimbang mematikan koneksi internet.
Dengan kebutuhan masyarakat terhadap internet yang semakin tinggi, harga paket data yang terjangkau juga menjadi key driver.
Itu sebabnya, inisiatif Kementrian Komdigi menghadirkan program Internet Rakyat, menjadi jawaban bagi masyarakat yang kantungnya pas-pasan.
Lewat program Internet Rakyat, pemerintah berupaya menghadirkan layanan data yang terjangkau, inklusif dan dapat digunakan oleh siapapun, sekaligus mempercepat akses digital di seluruh Indonesia.
Teknologi yang diadopsi dalam proyek ini berbasis Fixed Wireless Access (FWA) 5G di frekuensi 1,4 GHz. FWA 5G memungkinkan layanan internet berkecepatan tinggi dan latensi rendah, tanpa perlu menunggu pembangunan jaringan fiber optik yang selama ini menjadi kendala utama di banyak wilayah.
Dilansir dari Antara, Kamis (20/11/2025), Internet Rakyat hadir setelah penandatanganan kontrak komersial antara SURGE melalui PT Telemedia Komunikasi Pratama (Telemedia/SURGE), OREX SAI Jepang, dan distributor lokal.
Dinukil dari lama resmi, SURGE membanderol layanan Internet Rakyat dengan harga Rp100.000 dengan kecepatan 100 Mbps untuk 30 hari.
Dengan harga terjangkau, Internet Rakyat sangat memadai untuk kebutuhan rumah tangga modern. Aktivitas seperti streaming film 4K, rapat virtual, mengunggah file besar, hingga bermain game online dapat berjalan lancar.
Kecepatan hingga 100 Mpbs ini sangat bermanfaat bagi pelajar, pekerja remote, konten kreator, serta keluarga yang menggunakan banyak perangkat sekaligus.
Meski menawarkan berbagai kelebihan, sejatinya Internet Rakyat juga memiliki banyak kekurangan. Di antaranya coverage yang masih terbatas.
Saat ini, layanan baru tersedia di wilayah tertentu, terutama Regional 1 yang meliputi Pulau Jawa, Papua, dan Maluku. Masyarakat di wilayah lain masih perlu menunggu perluasan jaringan.
Begitu pun dengan kualitas sinyal. Pasalnya, sebagai layanan berbasis wireless, kualitas sinyal dapat dipengaruhi kondisi geografis, kepadatan bangunan, hingga jarak dari pemancar.
Malah pada area dengan banyak hambatan fisik atau pengguna sangat padat, kecepatan berpotensi menurun pada jam-jam sibuk.
Selain coverage dan kualitas sinyal, ketidakstabilan akses juga menjadi tantangan pengguna, khususnya pada penggunaan tinggi.
Di beberapa kondisi, terutama ketika jumlah pengguna meningkat atau pemancar terbatas, potensi fluktuasi kecepatan tetap bisa terjadi meski teknologi yang digunakan sudah modern.
Selain hambatan teknis, tantangan lain yang juga tak kalah mengemuka adalah maraknya layanan RT/RW Net ilegal yang menawarkan harga murah tetapi kualitas tidak terjamin.
RT/RW Net tergolong ktivitas bisnis tanpa izin. Pelaku menjual kembali layanan internet (reselling) secara ilegal, dapat merugikan ISP resmi hingga ratusan juta per bulan. Meskipun awalnya bertujuan untuk komunitas, banyak RT/RW Net kini melenceng menjadi bisnis komersial ilegal.
Baca Juga:
- Pemerintah Targetkan Kecepatan Internet Mobile 60 Mbps di 2026, Begini Respon Operator
- Polemik Internet Murah: Meutya Hafid Ambil Langkah Populis, Namun Ujungnya Masyarakat yang Dirugikan
Lebih Banyak Pengguna Pilih Internet Berkualitas
Tak dapat dipungkiri, paket data murah menjadi pendorong utama lonjakan pengguna internet di Indonesia.
Akses yang semakin ekonomis — banyak pengguna membayar Rp50-100 ribu per bulan — bersama dengan masifnya penggunaan smartphone dan peningkatan infrastruktur, membuat penetrasi internet tumbuh signifikan hingga menembus 229 juta jiwa lebih pada akhir 2025.
Meski demikian, faktor harga tak selalu menjadi pertimbangan utama pengguna dalam memilih layanan internet.
Faktanya, pengguna layanan internet kini lebih mengutamakan kualitas, kecepatan, dan stabilitas jaringan dibandingkan sekadar harga murah.
Sejumlah alasan utama yang sering dipertimbangkan adalah keandalan koneksi, layanan pelanggan, serta nilai affordable (keseimbangan harga dan manfaat) agar terhindar dari gangguan teknis yang merugikan produktivitas.
Meningkatnya kesadaran pengguna dalam memilih layanan internet berkualitas, tak sekedar harga murah, terungkap dalam pandangan dua pentolan telekomunikasi Indonesia, Direktur Utama Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha dan Direktur Utama PT Telkom Dian Siswarini, saat menjadi panelis dalam gelaran Tech & Telco Summit 2024 yang digelar CNBC Indonesia, Selasa (5/3/2024).
Menurut Vikram, seiring tumbuh pesatnya digital di dunia termasuk di Indonesia, maka Industri telekomunikasi di Indonesia saat ini tak lagi bertumpu pada strategi perang harga untuk menggaet minat masyarakat.
Vikram mengatakan bahwa pandemi Covid-19 yang menghantam dunia pada 2020 lalu memberikan banyak pelajaran, salah satunya soal kompetisi di sektor telekomunikasi.
“Covid-19 mengajarkan kami bahwa masyarakat sesungguhnya tak tertarik dengan produk murah. Mereka mencari nilai dari uang yang dikeluarkan, serta pengalaman terbaik dari sebuah layanan,” kata Vikram.
Nilai tersebut, tambah Vikram, sangat krusial bagi masyarakat. Sebab, layanan telekomunikasi yang baik membuka banyak peluang yang bisa dimanfaatkan.
“Pengeluaran untuk data bukan pengeluaran yang konsumtif. Data membantu masyarakat untuk lebih produktif dalam bekerja, sehingga sepadan dengan biaya yang dikeluarkan”, ujar Vikram.
Senada dengan Vikram, Presiden Direktur PT XL Axiata, Dian Siswarini mengungkapkan konvergensi di tengah industri telekomunikasi membuat ‘perang harga’ tidak lagi berlaku untuk memenangkan kompetisi.
Menurutnya perang harga yang terjadi sebelumnya memberikan dampak buruk bagi konsumen, industri, dan pelaku operator sendiri.
“Price war so yesterday tidak baik buat operator, industri, dan pelanggan. Itu harus ditinggalkan,” tegas Dian.
Saat ini menurut wanita yang sejak 27 Mei 2025 didaulat sebagai Direktur Utama PT Telkom itu, operator lebih fokus memberikan layanan dan membuat produk yang diterima masyarakat.
Dengan meningkatnya kesadaran pengguna akan internet berkualitas, setiap operator memastikan produknya memang diperlukan di tengah masyarakat.














































