Harga Smartphone Naik Signifikan, Ancam Pasar Entry Level

19 hours ago 10

Selular.ID – Kenaikan harga smartphone diperkirakan akan paling signifikan terjadi di segmen entry-level pada 2026, dengan kisaran harga awal bergeser ke sekitar Rp3 jutaan.

Kondisi ini diproyeksikan berdampak langsung pada penurunan volume penjualan, seiring daya beli konsumen di kelas tersebut yang lebih sensitif terhadap harga.

Joy Wahjudi, CEO Erajaya Digital mengungkapkan bahwa keputusan kenaikan harga bukan hanya berasal dari sisi ritel, tetapi merupakan strategi yang diambil para prinsipal atau vendor global.

Mereka berupaya menjaga keberlanjutan bisnis jangka panjang dengan memperbaiki margin keuntungan, terutama di tengah tekanan biaya produksi dan dinamika pasar global.

“Untuk saat ini semua prinsipal pasti akan menaikkan harga. Margin itu penting, tidak mungkin mereka berbisnis dengan kondisi merugi. Ini menyangkut keberlangsungan bisnis mereka dalam jangka panjang,” ujar Joy, kepada Selular, dalam Bincang Eksekutif, baru-baru ini di Jakarta.

Menurut Joy, sepanjang tahun ini terlihat pola kenaikan harga yang tidak merata di seluruh segmen. Kenaikan paling terasa terjadi di kelas bawah, sementara segmen menengah dan premium relatif lebih stabil atau tidak terlalu banyak.

Hal ini menunjukkan adanya penyesuaian strategi dari masing-masing prinsipal dalam menjaga keseimbangan antara volume dan profitabilitas.

Dalam praktiknya, prinsipal yang sebelumnya lebih langsung ke konsumen kini cenderung berdiskusi dengan mitra lokal untuk menentukan strategi harga dan model produk yang paling sesuai dengan karakter pasar Indonesia.

“Low-end kenaikannya cukup tinggi, sementara mid dan high tidak banyak berubah. Di sini kami banyak berdiskusi dengan prinsipal untuk menentukan model mana yang paling relevan dan berapa volume yang realistis untuk pasar,” jelasnya.

Dalam konteks tersebut, Erajaya Digital berperan sebagai mitra strategis yang membantu prinsipal melakukan perencanaan, termasuk menentukan portofolio produk, strategi harga, hingga estimasi distribusi.

Pendekatan ini dinilai penting mengingat setiap prinsipal memiliki strategi yang berbeda-beda dalam menghadapi perubahan pasar.

Joy mengungkapkan, sebagian prinsipal masih berorientasi pada volume atau kuantitas penjualan, sementara lainnya mulai beralih ke pendekatan berbasis nilai (value).

“Ada yang masih mengejar kuantitas, tapi ada juga yang mulai berubah. Misalnya, volume turun 3 persen, tapi harga naik 30 persen, hasilnya bisa tetap sama atau bahkan lebih baik. Itu tergantung strategi masing-masing prinsipal,” katanya.

Di sisi lain, kenaikan harga juga berdampak pada struktur pasar secara keseluruhan.
Dengan harga yang lebih tinggi, margin menjadi lebih terjaga dan lebih mudah dikontrol.

Namun konsekuensinya, jumlah unit yang terjual cenderung menurun karena tidak semua konsumen mampu mengikuti kenaikan tersebut.

Erajaya melihat kondisi ini sebagai tantangan sekaligus peluang. Perubahan ini justru membuka ruang kolaborasi yang lebih intens antara prinsipal dan mitra distribusi seperti Erajaya.

Dengan pengalaman distribusi dan jaringan ritel yang luas, perusahaan dapat membantu prinsipal menyesuaikan strategi agar tetap relevan dengan kondisi pasar domestik yang beragam, baik dari sisi geografis maupun daya beli.

“Semua pihak pada dasarnya menghadapi masalah yang sama, yaitu kenaikan harga yang tidak dapat dihindari, sehingga dibutuhkan perencanaan yang matang untuk menjaga keseimbangan antara margin dan volume,”tutur Joy.

Ke depan menurut Joy, dinamika harga di segmen entry-level diperkirakan akan terus menjadi perhatian utama industri.

Baca Juga:Erajaya Respon Rencana Ketersedian MacBook Neo di Indonesia

Penyesuaian strategi dari prinsipal serta peran mitra seperti Erajaya Digital dalam menjaga keseimbangan pasar akan menentukan bagaimana industri smartphone di Indonesia beradaptasi terhadap tekanan biaya dan perubahan perilaku konsumen.

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |