Generasi 90-an Nabire Pasti Ingat! Kisah Radio Wilco FM yang Pernah Populer, Saat Request Lagu Jadi Momen Paling Ditunggu

12 hours ago 8

Nabire, 26 Maret 2026 – “Selamat malam, Kak… mau request lagu Bon Jovi, judulnya Always,” ucapku pelan.
Tak lama, terdengar balasan dari seberang telepon, “Mau dikirim untuk siapa?” sahut seorang penyiar dengan suara ramah. Dengan sedikit malu-malu aku menjawab, “Untuk semua pendengar saja di Nabire…”

Sekilas percakapanku dengan salah seorang penyiar di stasiun radio Wilco FM, sekitar tahun 1994 silam. Rasanya sungguh luar biasa senang saat request lagu yang kita kirim lewat telepon benar-benar diputar di udara. Ada kebanggaan kecil yang sulit dijelaskan—seolah suara kita ikut hadir di antara ribuan pendengar lain.

Bagi Generasi Y (Milenial) dan sebagian Gen X, masa itu adalah era ketika hiburan di Nabire masih sangat sederhana: hanya televisi dan radio. Selain acara Terminal Ratel dan Pilpen yang sangat populer di RRI Nabire, beragam acara menarik juga hadir di radio-radio swasta. Mayoritas berisi acara request lagu dan kirim-kirim salam, yang selalu dinanti oleh para pendengar setia.

Salah satu radio yang begitu menarik perhatian anak muda saat itu adalah Radio Wilco yang hadir di frekuensi 104 FM. Hadir sekira tahun 1993 atau 1994, radio ini langsung menjadi favorit para pelajar, mulai dari SMP hingga SMA. Rasanya belum lengkap hari-hari sekolah tanpa mendengar suara penyiar Wilco yang khas dan bersahabat.

(Kru Wilco FM/Dok. Omardani Setyonugroho)(Kru Wilco FM/Dok. Omardani Setyonugroho)

Namun, tak banyak yang tahu arti di balik nama Wilco.
Wilco merupakan singkatan dari frase bahasa Inggris “Will Comply”, yang berarti “akan mematuhi” atau “akan dilaksanakan”. Istilah ini umum digunakan dalam komunikasi radio militer dan penerbangan untuk menegaskan bahwa pesan telah dipahami dan siap dijalankan tanpa perlu instruksi tambahan.

(Kru Wilco FM/Dok. Omardani Setyonugroho)(Kru Wilco FM/Dok. Omardani Setyonugroho)

Nama Wilco sendiri dipilih bukan tanpa alasan. Radio ini berada di bawah kepemilikan Dinas Perhubungan (Bandara Nabire), dan sebelumnya berada di Kantor NDB (sebelumnya Kantor AirNaV) sebelum akhirnya hijrah ke jalan Sisingamangaraja, tepatnya di gedung Power House. Nuansa dunia komunikasi radio memang sangat terasa sejak awal berdirinya.

(Kawasan Power House Bandara lama Nabire yang menjadi lokasi Radio Wilco FM mengudara)(Kawasan Power House Bandara lama Nabire yang menjadi lokasi Radio Wilco FM mengudara)

Yang paling ngangenin dari Radio Wilco tentu saja lagu-lagunya yang memorable, serta suara empuk dan menenangkan dari para penyiar yang akrab di telinga, meski wajah mereka sering kali tak pernah kita lihat.

(Ultah Fans Wilco/Foto.Omardani Setyonugroho)(Ultah Fans Wilco/Foto.Omardani Setyonugroho)

Penulis masih mengingat beberapa nama penyiar Radio Wilco, yang mayoritas merupakan pegawai Bandara Nabire, seperti Aziz Delakombe, Yoga, Cipy, Cessna, Capung, Oshin, Deden, Mbak Rena. Selain itu, ada juga penyiar yang masih berstatus pelajar, seperti Clara, Inung. Tentu saja, nama-nama tersebut bukan nama asli, melainkan nama udara yang terdengar unik dan mudah diingat.

(Kru dan Fans Wilco FM/Dok. Omardani Setyonugroho)(Kru dan Fans Wilco FM/Dok. Omardani Setyonugroho)

Sayangnya, umur Radio Wilco tidak terlalu panjang. Penulis tidak mengingat pasti berapa lama radio ini mengudara. Namun tak lama setelah itu, muncul radio lain bernama Merdeka Bhayangkara Station (MBS) milik PT Telkom, yang mengudara dari Stasiun Bumi Jalan Merdeka Nabire sekitar tahun 1996 hingga 1998.

(Stasiun Bumi Nabire, lokasi radio MBS mengudara)(Stasiun Bumi Nabire, lokasi radio MBS mengudara)

Seiring waktu, Radio MBS kemudian berganti nama menjadi Memory FM dan berpindah lokasi ke ujung Jalan Jakarta.

(Lokasi yang dulunya menjadi homebase radio Memory FM di Jalan Jakarta Nabire)(Lokasi yang dulunya menjadi homebase radio Memory FM di Jalan Jakarta Nabire)

Di akhir 90-an muncul Radio Golkar yang berlokasi di Oyehe (Sekretariat Golkar), diikuti radio Prodika dan Swara Menara Kasih atau akrab disebut Swameka FM di awal 2000-an.

(Radio Swameka FM yang dimiliki Yayasan PESAT Nabire)(Radio Swameka FM yang dimiliki Yayasan PESAT Nabire)

Kehadiran radio-radio swasta tersebut membuat warga Nabire, khususnya generasi muda saat itu, memiliki pilihan hiburan yang semakin beragam. Sesuatu yang sebelumnya mungkin tidak didapatkan dari RRI, yang saat itu menjadi satu-satunya radio edukasi dan hiburan resmi.

Ada pula kenangan unik lainnya. Penulis masih mengingat bagaimana beberapa penyiar dan pemerhati radio swasta menjual kertas request lagu, yang dikenal dengan sebutan kertas atensi, di sekolah-sekolah dengan harga sangat murah. Nantinya, kertas tersebut akan dibawa ke stasiun radio untuk dibacakan oleh penyiar saat siaran berlangsung.

Kegiatan lain yang juga sangat digemari saat itu adalah membeli kaset kosong untuk merekam lagu. Puluhan kaset kosong berisi lagu-lagu favorit pernah terkoleksi rapi—dan hingga kini, masih terasa menyenangkan untuk diputar ulang menggunakan radio kaset atau walkman.

Kala itu, belum ada CD, apalagi komputer dan internet seperti sekarang. Karena itulah, radio dan televisi swasta menjadi alternatif hiburan yang sangat mumpuni, selain tentu saja membaca buku.

Kini, seiring perkembangan zaman, kehadiran radio digital dan aplikasi musik modern membuat kebiasaan lama itu terasa semakin jauh. Lagu-lagu yang dulu harus ditunggu berjam-jam, kini bisa dicari dalam hitungan detik melalui internet—bahkan bisa didengarkan tanpa jeda iklan.

Namun sayangnya, Generasi Z masa kini mungkin menjadi kurang mengenal dan menghargai nilai dari keberadaan radio zaman dahulu—radio yang sederhana, namun terasa hangat, akrab, penuh kejutan, dan begitu informatif.

Radio dulu bukan sekadar alat pemutar lagu.
Ia adalah teman setia, penyambung rasa, dan penjaga kenangan bagi banyak orang yang tumbuh di era itu.

Punya kenangan dengannya? Yuk tinggalkan komentarmu…

[Nabire.Net]

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |