Ericsson Luncurkan Radio dan Software AI untuk Perkuat Jaringan 5G

10 hours ago 9

Selular.ID – Ericsson memperkenalkan portofolio teknologi jaringan terbaru yang mencakup radio AI-ready, antena berperforma tinggi, serta perangkat lunak Radio Access Network (RAN) yang ditingkatkan dengan kecerdasan artifisial.

Solusi ini dirancang untuk membantu operator seluler, termasuk di Indonesia, membangun jaringan yang lebih cerdas, efisien, dan siap menghadapi kebutuhan konektivitas generasi berikutnya.

Portofolio terbaru tersebut diperkenalkan seiring meningkatnya kebutuhan jaringan seluler global untuk mendukung berbagai aplikasi berbasis AI yang semakin kompleks.

Aplikasi seperti analitik real-time, layanan berbasis cloud, hingga berbagai platform digital memerlukan kapasitas uplink yang lebih tinggi, latensi yang rendah, serta reliabilitas jaringan yang konsisten.

Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, mengatakan integrasi kecerdasan artifisial langsung ke dalam Radio Access Network menjadi langkah penting untuk membangun jaringan yang lebih adaptif dan efisien.

“Seiring percepatan ekspansi 5G di Indonesia, jaringan yang cepat bukan satu-satunya prioritas, tetapi juga jaringan yang lebih cerdas dan berkelanjutan. Di Ericsson, kami melihat AI-ready RAN sebagai fondasi dari perjalanan ini. Dengan menghadirkan kemampuan AI langsung ke Radio Access Network, kami memungkinkan terbentuknya jaringan berperforma tinggi yang adaptif dan lebih efisien dalam penggunaan energi,” ujar Nora Wahby.

Langkah ini juga berkaitan dengan perkembangan ekosistem 5G di Indonesia yang terus berjalan. Pemerintah Indonesia menargetkan perluasan cakupan jaringan 5G hingga sekitar 32 persen pada tahun 2030.

Dalam konteks tersebut, efisiensi pemanfaatan spektrum, kesiapan infrastruktur jaringan, serta keberlanjutan investasi operator menjadi faktor penting untuk mendukung implementasi teknologi generasi kelima tersebut.

Portofolio terbaru Ericsson mencakup sepuluh perangkat radio yang dirancang siap mendukung pemrosesan berbasis AI, peningkatan kapabilitas software RAN, serta lima antena baru dengan performa tinggi.

Perangkat radio berfungsi sebagai komponen utama dalam jaringan seluler yang menghubungkan perangkat pengguna dengan jaringan operator, sementara RAN merupakan sistem yang mengelola komunikasi antara perangkat pengguna dan jaringan inti operator.

Dengan integrasi kecerdasan artifisial pada lapisan perangkat keras dan perangkat lunak jaringan, operator dapat mengelola sumber daya jaringan secara lebih dinamis.

Sistem ini memungkinkan optimasi lalu lintas data, pengaturan kapasitas jaringan secara adaptif, serta peningkatan efisiensi operasional tanpa perlu melakukan intervensi manual secara intensif.

Beberapa fitur AI yang diperkenalkan dalam portofolio ini mencakup beamforming cerdas, yaitu teknik pengarah sinyal radio yang dapat menyesuaikan arah transmisi secara otomatis untuk meningkatkan kualitas koneksi.

Selain itu, terdapat pula kemampuan prediksi jangkauan jaringan berbasis AI serta pengelolaan mobilitas pengguna yang lebih presisi untuk menjaga kualitas koneksi ketika pengguna berpindah lokasi.

Fitur-fitur tersebut memungkinkan operator menyesuaikan alokasi kapasitas jaringan secara real-time berdasarkan pola penggunaan data.

Pendekatan ini dinilai dapat membantu operator memaksimalkan pemanfaatan spektrum frekuensi sekaligus meningkatkan kinerja uplink, yaitu jalur komunikasi dari perangkat pengguna menuju jaringan.

Selain peningkatan performa, efisiensi energi juga menjadi fokus dalam pengembangan teknologi jaringan terbaru ini.

Dengan memanfaatkan analitik berbasis AI, jaringan dapat mengoptimalkan penggunaan daya sesuai kebutuhan trafik, sehingga konsumsi energi dapat ditekan tanpa mengorbankan kualitas layanan.

Bagi pengguna akhir, peningkatan kinerja jaringan tersebut berpotensi menghadirkan pengalaman konektivitas yang lebih stabil dan responsif.

Layanan seperti streaming video beresolusi tinggi, permainan seluler berbasis cloud, hingga berbagai aplikasi berbasis AI real-time dapat berjalan lebih lancar dengan latensi yang lebih rendah.

Di sisi lain, kemampuan jaringan untuk menghadirkan konektivitas yang terdiferensiasi—misalnya berdasarkan tingkat latensi, kecepatan, atau reliabilitas—juga membuka peluang bagi operator untuk menghadirkan model layanan baru di luar paket data tradisional.

Pendekatan ini memungkinkan operator mengembangkan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan segmen konsumen maupun korporasi.

Nora Wahby menambahkan bahwa AI-ready RAN bukan sekadar peningkatan teknologi jaringan, melainkan perubahan cara jaringan dirancang dan dioperasikan.

Dengan meningkatnya konsumsi data dan semakin kompleksnya kebutuhan konektivitas digital, operator memerlukan infrastruktur jaringan yang mampu melakukan optimasi secara otomatis dan beradaptasi dengan pola penggunaan pengguna.

Melalui integrasi kecerdasan pada perangkat radio, antena, dan software jaringan, Ericsson berupaya menyediakan fondasi teknologi yang memungkinkan operator memanfaatkan spektrum secara lebih efisien, meningkatkan kinerja jaringan, serta menghadirkan pengalaman pengguna yang lebih konsisten.

Inovasi ini juga menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam mendukung pengembangan ekosistem 5G di Indonesia.

Dengan menghadirkan teknologi jaringan yang lebih cerdas dan efisien, Ericsson menilai operator dapat mempercepat perluasan jaringan sekaligus menjaga keberlanjutan investasi infrastruktur telekomunikasi di masa mendatang.

Baca Juga: Bos Ericsson Sebut Teknologi AI Eropa Tertinggal dari China

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |