Nabire, 7 Juli 2026 – Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat pelaksanaan program pengembangan komoditas perkebunan di Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Salah satu fokus utama ialah pembangunan kawasan kakao seluas 3.000 hektare yang terdiri dari 1.000 hektare peremajaan dan 2.000 hektare perluasan areal tanam.
Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Ali Jamil Harahap, Ph.D., saat melakukan kunjungan kerja di Kampung Samabusa, Distrik Teluk Kimi, Kabupaten Nabire, bersama jajaran Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Pemerintah Kabupaten Nabire, serta instansi teknis Kementerian Pertanian.
Dalam kunjungannya, Dirjen Perkebunan menjelaskan bahwa Papua Raya menjadi salah satu wilayah prioritas pengembangan sektor perkebunan pada tahun 2026. Program tersebut tidak hanya dilaksanakan di Papua Tengah, tetapi juga mencakup Papua, Papua Pegunungan, Papua Selatan, Papua Barat, dan Papua Barat Daya.
“Di antara seluruh kabupaten yang ada, Kabupaten Nabire memiliki jenis kegiatan perkebunan paling banyak. Ada pengembangan kelapa, kakao, kopi hingga sagu,” ujarnya.
Target Produksi 3,6 Juta Bibit Kakao
Untuk mendukung pengembangan kakao seluas 3.000 hektare, Kementerian Pertanian menargetkan penyediaan 3,6 juta bibit kakao.
Perhitungan tersebut berasal dari kebutuhan sekitar 1.000 pohon per hektare atau sekitar 3 juta bibit, ditambah cadangan sebesar 20 persen atau sekitar 600 ribu bibit sebagai antisipasi.
Dirjen Perkebunan meminta seluruh proses pengisian polybag untuk persemaian dilakukan secara paralel dan ditargetkan selesai dalam waktu dua minggu.
“Saya minta pengisian polybag minimal dua minggu harus selesai. Begitu benih datang, langsung bisa dipindahkan ke polybag,” tegasnya.
Ia juga menilai luas lahan persemaian yang semula direncanakan sekitar lima hektare belum mencukupi untuk menampung seluruh bibit. Karena itu, ia meminta area nursery diperluas menjadi minimal delapan hektare.
Selain itu, persemaian nantinya akan dibangun mendekati lokasi petani penerima agar proses distribusi bibit lebih mudah serta mengurangi risiko kerusakan bibit akibat pengangkutan jarak jauh.
Kelapa, Kopi, dan Sagu Juga Dikembangkan
Selain kakao, Kementerian Pertanian juga menjalankan program perluasan tanaman kelapa seluas 100 hektare di Nabire.
Untuk mendukung program tersebut disiapkan sekitar 13 ribu bibit kelapa, termasuk cadangan bibit.
Dirjen Perkebunan bersama rombongan juga meninjau nursery kelapa serta membahas pengembangan komoditas kopi dan sagu yang menjadi bagian dari program perkebunan di Papua Tengah.
Dalam kesempatan itu, ia juga menerima berbagai masukan dari pemerintah daerah, termasuk persoalan pupuk bersubsidi.
“Kami sudah memberikan arahan agar persoalan pupuk subsidi segera diselesaikan. Data-datanya nanti dikirim sehingga bisa segera diperbaiki,” katanya.
Mendukung Program Hilirisasi Presiden
Dirjen Perkebunan menegaskan bahwa seluruh program pengembangan perkebunan tersebut merupakan bagian dari kebijakan hilirisasi yang menjadi arahan Presiden Republik Indonesia.
Menurutnya, hilirisasi hanya dapat berjalan apabila ketersediaan bahan baku dari sektor hulu telah dipersiapkan dengan baik.
“Kalau bahan baku kakao tersedia, maka nanti bisa diolah menjadi bubuk kakao, cokelat batangan maupun berbagai produk olahan lainnya yang memiliki nilai jual lebih tinggi,” jelasnya.
Ia berharap program tersebut mampu meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Papua Tengah.
Selain itu, ia meminta pelaksana proyek memprioritaskan tenaga kerja lokal dalam pembangunan nursery sehingga masyarakat sekitar memperoleh manfaat ekonomi sejak tahap pembangunan.
“Supaya masyarakat setempat ikut bekerja dan mendapatkan penghasilan dari kegiatan ini,” ujarnya.
Pemprov Papua Tengah Apresiasi Dukungan Pemerintah Pusat
Mewakili Gubernur Papua Tengah, Staf Ahli Gubernur, Herman Kayame, menyampaikan apresiasi kepada Presiden dan Menteri Pertanian atas perhatian yang diberikan terhadap pengembangan sektor perkebunan di Papua Tengah.
Menurutnya, pengembangan kakao, kelapa, kopi, dan sagu merupakan salah satu program prioritas pemerintah daerah yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia juga meminta agar proses distribusi bibit dilakukan secara tepat sasaran melalui koordinasi antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten.
“Kami berharap bibit ini benar-benar diterima oleh petani yang membutuhkan sehingga manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” katanya.
Sahli turut menyampaikan terima kasih kepada pemilik hak ulayat yang telah mengizinkan lahannya digunakan sebagai lokasi persemaian kakao.
Pemkab Nabire Siap Kawal Program Hingga Tuntas
Sementara itu, Wakil Bupati Nabire, Burhanuddin Pawenari menyampaikan apresiasi atas kehadiran Dirjen Perkebunan beserta jajaran Kementerian Pertanian yang meninjau langsung lokasi pembangunan nursery di Kampung Warbak dan Kampung Samabusa.
Ia menilai program tersebut menjadi langkah nyata pemerintah dalam mendukung visi peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan sektor pertanian dan perkebunan.
Pemerintah Kabupaten Nabire juga mengajak seluruh masyarakat menjaga keamanan dan mendukung pelaksanaan program agar seluruh target dapat tercapai sesuai jadwal.
Wakil Bupati menegaskan bahwa berdasarkan arahan Dirjen Perkebunan, seluruh bibit ditargetkan sudah siap dan mulai ditanam petani paling lambat pada November 2026.
Apabila target tersebut tercapai, tanaman kakao diperkirakan mulai menghasilkan dalam waktu sekitar dua hingga dua setengah tahun, sehingga diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat di Kabupaten Nabire.
[Nabire.Net]

13 hours ago
5

















































