Selular.id – Lenovo dikabarkan mengambil langkah mengejutkan dengan menghentikan dukungan pembaruan driver untuk perangkat gaming genggam (handheld) andalannya, Lenovo Legion Go.
Keputusan ini memicu reaksi keras dari komunitas pengguna, mengingat perangkat yang ditenagai chipset AMD Ryzen Z1 Extreme tersebut baru berumur sekitar dua tahun sejak peluncuran perdananya.
Langkah ini dinilai terlalu dini bagi sebuah perangkat premium yang seharusnya memiliki siklus hidup dukungan perangkat lunak yang lebih panjang untuk menjaga performa optimal dalam menjalankan gim terbaru.
Kabar mengenai penghentian pembaruan ini mencuat setelah para pengguna menyadari tidak adanya pembaruan driver grafis resmi dari Lenovo dalam beberapa bulan terakhir.
Sebagai perangkat gaming berbasis Windows, ketergantungan pada optimalisasi driver sangatlah tinggi. Tanpa adanya pembaruan rutin, efisiensi konsumsi daya dan kompatibilitas perangkat dengan judul-judul gim AAA (game kelas atas) terbaru akan menurun drastis, yang pada akhirnya mengurangi nilai guna dari konsol genggam tersebut.
Pihak Lenovo melalui perwakilannya di forum komunitas sempat memberikan sinyal bahwa fokus pengembangan kini telah beralih.
Hal ini memperkuat spekulasi bahwa perusahaan asal China tersebut mulai mengurangi sumber daya untuk Legion Go generasi pertama demi mempersiapkan suksesor atau produk baru lainnya.
Meskipun perangkat kerasnya masih sangat mumpuni, absennya dukungan perangkat lunak membuat pengguna merasa “ditinggalkan” lebih cepat dari yang mereka perkirakan saat membeli perangkat seharga jutaan rupiah tersebut.
Dinamika di industri perangkat gaming genggam memang sedang berada di titik didih. Sejak kesuksesan Steam Deck, pabrikan besar seperti ASUS dengan ROG Ally dan Lenovo dengan Legion Go berlomba-lomba menghadirkan performa PC dalam genggaman.
Chipset AMD Ryzen Z1 Extreme yang tertanam di dalam Legion Go merupakan salah satu prosesor paling bertenaga di kelasnya, menggunakan arsitektur Zen 4 dan grafis RDNA 3.
Namun, kekuatan mentah dari perangkat keras ini tidak akan berarti banyak tanpa instruksi perangkat lunak (driver) yang tepat untuk menjembatani antara sistem operasi dan mesin.
Mengutip dari Wccftech, Keluhan pengguna semakin tajam karena kompetitor terdekatnya, ASUS, masih rajin memberikan pembaruan untuk ROG Ally yang menggunakan chipset serupa.
Perbedaan perlakuan ini membuat posisi Lenovo Legion Go di pasar barang bekas maupun minat calon pembeli baru menjadi terancam. Para antusias teknologi seringkali menjadikan durasi dukungan software sebagai indikator utama dalam memilih produk, terutama untuk kategori perangkat gaming yang perkembangan teknologinya bergerak sangat cepat setiap tahunnya.
Masalah utama yang dihadapi pengguna saat ini adalah stuttering atau patah-patah pada beberapa gim baru yang membutuhkan optimasi grafis spesifik. Beberapa pengguna mencoba menyiasati masalah ini dengan memasang driver grafis standar langsung dari situs resmi AMD.
Meski cara ini bisa menjadi solusi sementara, driver generik dari AMD seringkali tidak teroptimasi secara khusus untuk manajemen daya dan fitur unik yang ada pada Legion Go, seperti pengaturan layar uniknya atau sistem pendinginannya.
Di sisi bisnis, langkah Lenovo ini mungkin merupakan bagian dari strategi efisiensi biaya pengembangan. Namun, risiko jangka panjangnya adalah memudarnya kepercayaan konsumen terhadap lini produk “Legion” di segmen handheld.
Jika sebuah produk premium berhenti mendapatkan dukungan hanya dalam waktu dua tahun, konsumen akan berpikir dua kali untuk menginvestasikan uang mereka pada produk generasi berikutnya. Hal ini menjadi catatan penting bagi vendor untuk tidak hanya fokus pada penjualan unit, tetapi juga layanan purna jual digital.
Ke depannya, para pemilik Lenovo Legion Go berharap perusahaan akan meninjau kembali kebijakan ini atau setidaknya memberikan jadwal pembaruan terakhir yang komprehensif untuk memastikan perangkat tetap bisa digunakan dengan stabil dalam jangka panjang.
Hingga saat ini, komunitas masih terus memantau apakah Lenovo akan memberikan pernyataan resmi atau merilis pembaruan “kejutan” untuk meredam kekecewaan para penggemarnya.
Situasi ini menunjukkan bahwa dalam industri gadget modern, kualitas produk tidak lagi hanya ditentukan oleh fisik perangkatnya, melainkan juga oleh komitmen pengembang dalam mengawal performa perangkat tersebut lewat pembaruan digital yang konsisten.
Baca juga : Laptop Gaming Flagship Lenovo Legion 9i Harga Rp99 Juta Edar di Indonesia












































