Selular.ID – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyebut anak-anak cenderung memanipulasi usia ketika mendaftar di platform digital. Hal ini bertujuan agar mereka menghindari batasan umur.
Menurut Nezar, pihaknya memandang kondisi ini mendesak platform digital untuk tak lagi hanya mengandalkan pernyataan tanggal lahir untuk mengenali usia penggunanya. Namun mereka perlu mulai menerapkan teknologi deteksi usia berbasis perilaku (age inferential).
“Platform umumnya digerakkan oleh mesin tanpa verifikasi mendalam. Ketika anak memalsukan umur, sistem menganggap mereka sudah 18 tahun, konten-konten dewasa, bahkan konten seksual, terpapar bebas ke mereka,” kata Nezar dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (5/2/2026).
Wamenkomdigi lantas menerangkan bahwa konten-konten dewasa kini amat mudah masuk ke lini masa (timeline) anak akibat adanya celah verifikasi ini.
Terkait tantangan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital mendorong penyelenggara sistem elektronik (PSE) untuk mengadopsi solusi teknologi yang lebih canggih.
Baca juga:
- Masuk Renstra Komdigi, Jaringan 5G Mentok di 7%
- Komdigi Minta Turunkan Harga Kuota Internet, Operator Seluler Beri Tanggapan
“Teknologi age inferential memungkinkan algoritma platform untuk membaca kecenderungan perilaku pengguna. Meskipun pengguna tidak menyatakan usia sebenarnya, sistem bisa mem-profiling berdasarkan konten yang dikonsumsi. Jika terdeteksi pola konsumsi anak, namun berada di akun dewasa, sistem otomatis memblokir akses ke konten berbahaya,” jelas Nezar.
Dia menambahkan bahwa beberapa platform digital global berskala besar seperti YouTube, sedang melakukan uji coba fitur ini di sejumlah regional untuk menguji keandalannya.
Nezar berharap pendekatan keselamatan melalui desain (safety by design) ini bukan sekadar pemenuhan regulasi, melainkan menjadi kultur korporasi demi menciptakan ruang digital yang aman.
Sementara itu, dalam keterangan yang sama, Ketua Umum Indonesian E-Commerce Association (idEA) Hilmi Adrianto menyambut baik arahan pemerintah tersebut.
Dia mengakui bahwa meskipun anak-anak memperoleh manfaat edukasi dari dunia digital, risiko paparan konten yang tak sesuai umur amat nyata.
“Implementasi regulasi ini akan mengubah cara platform merancang layanan dan fiturnya secara pasif maupun aktif. Tantangannya adalah menemukan solusi teknologi yang proporsional—yang mampu memfilter konten negatif secara efektif tanpa menghambat akses anak terhadap informasi positif dan inovasi,” ujar Hilmi.













































