Selular.ID – Xiaomi dikabarkan tengah mengembangkan ponsel konsep baru yang menempatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai pusat kendali sistem kamera.
Perangkat tersebut disebut masih berada pada tahap konsep dan belum ditujukan sebagai produk komersial dalam waktu dekat.
Namun, rancangan ini memperlihatkan arah pengembangan Xiaomi untuk generasi smartphone masa depan.
Terutama pada integrasi AI tingkat sistem yang bekerja langsung dengan perangkat keras kamera.
Pada sektor kamera, perangkat konsep ini dikabarkan hanya menggunakan satu sensor utama 200MP berukuran 1/1,12 inci.
Berdasarkan bocoran yang beredar, Xiaomi menyiapkan desain unibody tanpa sambungan terlihat dengan layar LIPO berukuran 6,5 inci.
Teknologi LIPO atau low-injection pressure overmolding memungkinkan bezel dibuat sangat tipis dan simetris di seluruh sisi layar, dengan ketebalan diklaim sekitar 0,5 mm.
Ukuran sensor tersebut tergolong besar untuk standar smartphone dan berpotensi meningkatkan kemampuan penangkapan cahaya, terutama pada kondisi minim pencahayaan. Informasi mengenai kamera depan belum diungkap secara rinci.
Fokus utama perangkat ini berada pada AI agent tingkat sistem yang dapat bekerja secara otomatis menggunakan kamera depan dan kamera utama.
Menurut bocoran yang beredar, AI tersebut mampu memantau lingkungan sekitar secara terus-menerus, mengenali objek atau situasi tertentu, lalu menyesuaikan proses pengambilan gambar secara real-time tanpa perlu interaksi pengguna.
Teknologi semacam ini memperlihatkan pergeseran pendekatan industri smartphone dari sekadar computational photography menuju AI-driven imaging system atau sistem fotografi berbasis kecerdasan buatan yang bekerja lebih proaktif.
Arah pengembangan tersebut sejalan dengan strategi Xiaomi yang dalam beberapa tahun terakhir semakin agresif memperkuat kemampuan AI di lini perangkat premium mereka
Sebelumnya, Xiaomi telah memperkenalkan konsep Modular Optical System di MWC 2025, yakni sistem kamera modular dengan lensa eksternal magnetik yang terhubung langsung ke smartphone.
Teknologi tersebut bahkan dikabarkan mulai diarahkan menuju tahap produksi massal.
Hingga kini Xiaomi belum memberikan konfirmasi resmi terkait keberadaan ponsel konsep AI tersebut maupun rencana komersialisasinya.
Namun, bocoran ini memperlihatkan bagaimana produsen smartphone mulai mengarahkan AI bukan sekadar fitur tambahan, melainkan komponen inti yang terintegrasi langsung dengan sistem kamera dan pengalaman penggunaan perangkat.
Samsung dan Xiaomi Dorong Tren Kamera AI di Indonesia
Tren kamera berbasis artificial intelligence (AI) semakin mendominasi pasar smartphone di Indonesia sepanjang 2025 hingga 2026.
Samsung, Xiaomi, Oppo, Vivo, hingga Google mulai menempatkan AI sebagai teknologi utama untuk fotografi mobile, bukan lagi sekadar fitur tambahan.
Perubahan ini terlihat dari hadirnya pemrosesan gambar otomatis, pengenalan objek real-time, hingga kemampuan editing generatif langsung di perangkat.
Di pasar Indonesia, perkembangan kamera AI berjalan seiring meningkatnya penggunaan media sosial berbasis visual seperti Instagram, TikTok, dan YouTube Shorts.
Kondisi tersebut mendorong vendor smartphone menghadirkan fitur kamera yang dapat menghasilkan foto dan video optimal secara instan tanpa memerlukan pengaturan manual rumit.
Laporan International Data Corporation (IDC) Asia/Pacific pada 2025 menunjukkan AI menjadi salah satu faktor pembeda utama di pasar smartphone premium dan menengah.
Produsen kini tidak hanya bersaing pada resolusi sensor, tetapi juga kemampuan neural processing unit (NPU) atau chip pemrosesan AI yang mengatur fotografi komputasional secara real-time.
Samsung menjadi salah satu brand yang agresif membawa teknologi kamera AI ke Indonesia melalui lini Galaxy S dan Galaxy A terbaru.
Pada seri Galaxy S26 Ultra, Samsung memperkenalkan ProVisual Engine generasi baru yang menggunakan AI untuk mengenali pencahayaan, objek, warna kulit, hingga gerakan subjek sebelum foto diambil.
Teknologi ini juga mendukung AI Zoom dan Nightography untuk meningkatkan kualitas foto malam hari.
Selain flagship, Samsung mulai membawa fitur AI imaging ke segmen menengah. Galaxy A56 dan Galaxy A36 misalnya sudah dilengkapi AI Object Eraser, Auto Frame, serta optimasi video berbasis AI untuk kebutuhan konten media sosial.
Xiaomi juga memperkuat pendekatan serupa melalui seri Xiaomi 15 dan Redmi Note generasi terbaru.
Xiaomi menggabungkan HyperOS AI dengan sistem kamera Leica pada lini flagship untuk menghasilkan pengolahan warna dan dynamic range yang lebih adaptif.
Dynamic range merupakan kemampuan kamera menangkap detail area terang dan gelap secara bersamaan.
Di Indonesia, Xiaomi mulai menekankan fitur AI Image Expansion, AI Portrait, dan AI Sky Editing sebagai bagian dari strategi diferensiasi produk.
Fitur tersebut memungkinkan pengguna memperluas latar foto, memperbaiki detail wajah, hingga mengganti suasana langit secara otomatis melalui pemrosesan AI di perangkat.
Oppo melalui Reno Series dan Find X Series juga memanfaatkan AI untuk memperkuat pengalaman fotografi mobile.
Oppo Reno13 Series yang dipasarkan di Indonesia membawa AI Livephoto dan AI Clarity Enhancer untuk mempertajam detail gambar tanpa kehilangan tekstur alami.
Oppo juga mengembangkan AI Eraser 2.0 yang dapat menghapus objek pada foto secara otomatis.
Sementara itu, Vivo fokus pada integrasi AI dengan sistem imaging Zeiss pada seri Vivo X200 dan V Series terbaru.
Vivo menggunakan AI untuk membantu stabilisasi video, optimalisasi portrait, dan pengaturan warna berbasis scene recognition.
Baca Juga:Rekomendasi HP Vivo Kamera 50MP April 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan
Teknologi scene recognition memungkinkan kamera mengenali kondisi seperti makanan, pemandangan malam, atau konser secara otomatis lalu menyesuaikan parameter pengambilan gambar.


















































