Mimika, 3 April 2026 – Ribuan umat Katolik memadati Gereja Katedral Tiga Raja Timika pada Kamis (2/4) untuk mengikuti Perayaan Ekaristi Kamis Putih yang menjadi bagian awal rangkaian Pekan Suci menuju Hari Raya Paskah.
Suasana khidmat dan penuh penghayatan iman terasa sejak awal hingga akhir perayaan yang dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru.
Perayaan diawali dengan ritus pembukaan dan kumandang lagu Gloria yang diiringi dentang lonceng gereja. Bacaan Injil yang diambil dari Yohanes 13:1-15 mengisahkan perjamuan terakhir Yesus bersama para murid-Nya.
Dalam homilinya, Uskup Bernardus menegaskan bahwa Kamis Putih memiliki dua makna penting, yakni perubahan makna Paskah Yahudi oleh Yesus serta teladan pembasuhan kaki sebagai simbol kerendahan hati dan pelayanan.
Menurutnya, dalam tradisi Yahudi, Paskah merupakan peristiwa pembebasan umat Israel dari perbudakan di Mesir yang ditandai dengan pengorbanan anak domba. Namun dalam Perjamuan Terakhir, Yesus memberikan makna baru dengan menjadikan roti sebagai tubuh-Nya dan anggur sebagai darah-Nya.
“Ini adalah pemberian diri secara total. Yesus menyerahkan diri-Nya sehabis-habisnya demi keselamatan manusia. Karena itu, Ekaristi bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi perayaan iman yang mengajak kita masuk dalam misteri kasih dan pengorbanan Kristus,” ujar Uskup Bernardus.
Ia juga mengingatkan umat Katolik untuk tetap menjaga semangat pelayanan di tengah tantangan kehidupan modern yang dipengaruhi gaya hidup instan dan dominasi dunia digital.
“Banyak orang lebih sibuk dengan dunia maya daripada hadir bagi sesamanya yang menderita. Padahal, Ekaristi mengajak kita untuk memberi diri secara nyata—melayani, menghibur, dan memperhatikan mereka yang membutuhkan,” katanya.
Selain pesan spiritual, Uskup Bernardus turut menyinggung situasi sosial yang terjadi di sejumlah wilayah, khususnya di daerah pegunungan Papua yang dinilai masih memprihatinkan.
Ia mengajak umat untuk menjadikan momentum Paskah sebagai dorongan untuk memperjuangkan nilai kemanusiaan, keadilan, serta perdamaian.
“Iman tidak boleh diam. Kita dipanggil untuk meruntuhkan tembok-tembok kepentingan, baik ideologi, kekuasaan, maupun kelompok, dan mengedepankan martabat manusia,” tegasnya.
Rangkaian liturgi Kamis Putih dilanjutkan dengan ritus pembasuhan kaki kepada 12 umat sebagai simbol pelayanan dan kerendahan hati, meneladani Yesus yang datang untuk melayani.
Perayaan kemudian berlanjut dengan liturgi Ekaristi dan persembahan hingga pemindahan Sakramen Mahakudus ke tempat penyimpanan khusus. Altar utama dibersihkan dan tabernakel dibiarkan terbuka sebagai tanda memasuki Jumat Agung, hari mengenang sengsara dan wafat Yesus Kristus.
Usai perayaan, umat meninggalkan gereja dalam suasana hening dengan membawa refleksi mendalam tentang kasih, pengorbanan, serta panggilan untuk melayani sesama.
[Nabire.Net/Yosef Doo]

13 hours ago
10












































