Selular.ID – Ketika China gencar mengembangkan produk mobil listriknya, bahkan Vietnam sudah memiliki kebanggan dengan Vinfast, lalu kapan electric vehicle (EV) dari Indonesia bakal mampu bersaing dengan produk-produk mancanegara?
Indonesia sendiri sudah memiliki sejumlah produk mobil listrik, misalnya Polytron G3, DFSK Gelora E.
Meski demikian, produk-produk tersebut masih belum mampu mendobrak dominasi dari mobil listrik keluaran China, Korea Selatan bahkan Jepang.
Pengamat otomotif sekaligus akademisi dari ITB, Yannes Martinus Pasaribu, Indonesia masih berkutat di sisi bahan baku untuk meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Roadmap Mobil Listrik Indonesia
Lalu apakah Indonesia memiliki roadmap yang jelas terkait pengembangan mobil listrik termasuk teknologi pendukungnya?
“Kalau melihat kebijakan saat ini, Indonesia memang masih berkutat di sisi bahan baku, manufaktur fisik dan upaya berat untuk meningkatkan TKDN riil,” ujar Yannes kepada Selular, Jumat (31/7/2026).
Yannes menambahkan hilirisasi nikel, produksi baterai, dan perakitan kendaraan memang penting karena membangun basis industri.
“Tetapi nilai tambah terbesar ke depan tidak hanya berada pada hardware,” ungkap Yannes.
“Nilai yang lebih tinggi justru ada pada riset perguruan tinggi-industri, algoritma AI, sistem manajemen baterai, controller, data kendaraan, dan layanan software berlangganan. Di sinilah bottleneck utama kita,” lanjutnya.
Dia menambahkan jika seluruh teknologi inti dan pendapatan digital tetap dikuasai prinsipal asing, Indonesia berisiko hanya menjadi lokasi produksi, sementara nilai ekonominya terus mengalir ke luar negeri.
“Termasuk seluruh data back-end dari setiap aktivits berkendaraa sd user profile prifat kita yang tersedot ke negara principal mobil listrik ini ya Mas,” jelasnya.
Baca juga:
- Indonesia Jadi Kunci Ekspansi DFSK, TKDN Pabrik Cikande Tembus 40%
- Xiaomi Investasi di Startup Battery Swap untuk Mobil Listrik
Karena itu, insentif investasi sebaiknya tidak berhenti pada pembangunan pabrik dan TKDN.
Pemerintah perlu mensyaratkan pusat R&D, pengembangan software di dalam negeri, penggunaan insinyur lokal, serta transfer teknologi yang memiliki target terukur.
“Jadi yang dibangun bukan hanya kapasitas produksi, tetapi juga kemampuan dan kemandirian teknologi nasional,” tandas Yannes.



















































