Nabire, Masyarakat Kampung Gerbang Sadu, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, kembali menyuarakan kebutuhan pembangunan infrastruktur jalan. Aspirasi tersebut disampaikan sejumlah tokoh intelektual, pemuda, tokoh adat, serta anggota DPRD Kabupaten Nabire kepada pemerintah daerah pada Senin, 31 Agustus 2026.
Tuntutan utama masyarakat adalah pembangunan jalan berupa pengaspalan ruas Kampung Gerbang Sadu dengan panjang sekitar 800 meter dan lebar 4,5 meter. Masyarakat berharap usulan tersebut dapat dimasukkan dalam program pembangunan melalui APBD Perubahan Kabupaten Nabire tahun 2026.
Rangkaian penyampaian aspirasi dimulai sejak pagi. Sejumlah perwakilan masyarakat dari kalangan intelektual dan tokoh adat mendatangi Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Nabire.
Mereka diterima Sekretaris PUPR dan menyerahkan dokumen proposal yang berisi permintaan pembangunan jalan di wilayah Gerbang Sadu.
Setelah dari Kantor PUPR, rombongan melanjutkan perjalanan ke Kantor DPRD Kabupaten Nabire. Di tengah agenda pembahasan APBD Perubahan, perwakilan masyarakat kemudian bertemu langsung dengan Bupati Nabire, Mesak Magai, S.Sos., M.Si.
Proposal tersebut diserahkan langsung kepada Bupati Nabire untuk mendapat perhatian pemerintah daerah.
Tokoh intelektual Moni, Sefnad Bagau, S.A.P., menyampaikan bahwa pembangunan jalan menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat Gerbang Sadu. Menurutnya, masyarakat setempat selama ini merasa belum memperoleh perhatian pembangunan infrastruktur yang memadai dari Pemerintah Kabupaten Nabire.
“Kami tidak menuntut banyak, tetapi kami hanya meminta pengaspalan jalan Kampung Gerbang Sadu,” ujar Sefnad dalam penyampaian aspirasinya.

Ia berharap usulan pengaspalan jalan tersebut dapat diakomodasi dalam APBD Perubahan 2026. Menurut masyarakat, keberadaan jalan yang layak sangat penting karena Gerbang Sadu berada di kawasan yang memiliki akses strategis terhadap jalur transportasi di Nabire Barat.
Gerbang Sadu sendiri memiliki sejarah panjang. Wilayah tersebut sebelumnya dikenal dengan nama Wadio dan berada di kawasan Jalan Topo, Distrik Wanggar. Berdasarkan perubahan administrasi melalui Nomor 06 Tahun 2014, wilayah tersebut kemudian dikenal sebagai Desa Gerbang Sadu.
Kampung ini dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang suku, antara lain Moni, Mee, Bugis, Dani, serta sejumlah komunitas kerabat seperti Biak, Serui dan Ternate. Keberagaman tersebut menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Gerbang Sadu.
Secara geografis, Gerbang Sadu berada di kawasan Nabire Barat dan terhubung dengan jalur Trans Papua. Akses tersebut memiliki peran penting karena menjadi jalur menuju sejumlah wilayah lain, termasuk Topo, Kilo 100, Dogiyai, Deiyai dan Paniai.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Suku Besar Moni Papua Tengah, Musa Kobogau, turut menyampaikan dukungan terhadap aspirasi masyarakat. Ia meminta pemerintah daerah memberikan perhatian terhadap kebutuhan infrastruktur masyarakat Moni yang bermukim di Nabire.
Menurut Musa, permintaan pengaspalan jalan bukanlah tuntutan yang berlebihan, melainkan kebutuhan dasar masyarakat untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Menanggapi aspirasi tersebut, Bupati Nabire Mesak Magai disebut telah menerima langsung proposal masyarakat. Bupati juga menyampaikan bahwa pemerintah akan menghitung kebutuhan anggaran untuk pekerjaan tersebut, mengingat proses penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) APBD Perubahan telah berjalan.

Pertemuan berlangsung dalam keadaan aman dan rombongan masyarakat kemudian meninggalkan lokasi setelah menyampaikan dokumen serta tuntutannya kepada pemerintah daerah.
Masyarakat kini menantikan tindak lanjut konkret Pemerintah Kabupaten Nabire terhadap usulan pengaspalan jalan sepanjang kurang lebih 800 meter tersebut.
[Nabire.Net]

17 hours ago
10

















































