Selular.ID – Indonesia sebagai negara yang rawan gempa bumi, tsunami, banjir hingga bencana hidrometeorologi bisa mengambil pelajaran penting dari survei kesiapsiagaan bencana yang dibagikan LINE Indonesia.
Survei LY Corporation di Jepang, Taiwan dan Thailand menemukan lebih dari 70% responden merasa kesiapan mereka menghadapi bencana masih belum memadai, meskipun kesadaran untuk melakukan persiapan sebenarnya sudah tinggi.
Temuan tersebut menarik untuk menjadi cermin bagi Indonesia.
Bukan karena hasil surveinya mewakili masyarakat Indonesia (karena survei memang tidak dilakukan di Tanah Air), melainkan karena ketiga negara menghadapi ancaman bencana yang juga relevan dengan Indonesia, mulai dari gempa bumi, topan atau cuaca ekstrem, kekeringan hingga banjir.
Survei dilakukan LY Corporation pada 4–6 Agustus 2026 terhadap 1.260 pengguna internet berusia 18–69 tahun, masing-masing 420 responden di Jepang, Taiwan dan Thailand.
Ketiganya merupakan pasar dengan jumlah pengguna aktif bulanan LINE yang tinggi.
Kesadaran Tinggi Belum Berarti Siap Hadapi Bencana
Salah satu temuan terpenting adalah lebarnya jarak antara kesadaran dan tindakan nyata.
Di Jepang, 45,5% responden mengatakan merasa perlu melakukan persiapan tetapi belum bertindak. Persentasenya mencapai 41,9% di Taiwan dan 30,5% di Thailand.
Sementara responden yang sudah melakukan persiapan tetapi merasa belum cukup mencapai 42,6% di Jepang, 39% di Taiwan dan 44,5% di Thailand.
Jika kedua kelompok tersebut digabungkan, 88,1% responden Jepang, 80,9% Taiwan dan 75% Thailand menilai kesiapan menghadapi bencana mereka belum memadai.
Hanya 5,5% responden Jepang dan 6% Taiwan yang mengaku sepenuhnya siap. Thailand lebih tinggi dengan 16%.
Temuan tersebut memberikan pesan penting bagi negara rawan bencana seperti Indonesia: mengetahui adanya risiko tidak otomatis membuat masyarakat siap ketika bencana benar-benar terjadi.
Kesiapsiagaan baru mempunyai dampak ketika diterjemahkan menjadi tindakan konkret, seperti menyiapkan persediaan darurat, memahami jalur evakuasi, mengikuti informasi resmi dan memastikan terdapat mekanisme komunikasi dengan keluarga ketika jaringan maupun kondisi lingkungan terganggu.
Baca juga:
- Sharp Indonesia Salurkan Bantuan untuk 600 Warga Terdampak Gempa NTT
- TelkomGroup Rampungkan Infrastruktur di Sumatera, Jaringan Digital Kembali Normal
Gempa dan Banjir Jadi Ancaman yang Paling Ditakuti
Jenis bencana yang paling dikhawatirkan berbeda sesuai karakter geografis masing-masing negara.
Di Jepang, gempa bumi dipilih 88,8% responden, disusul topan 51% dan hujan lebat atau curah hujan ekstrem 43,8%.
Taiwan menunjukkan pola serupa. Gempa bumi menjadi kekhawatiran terbesar dengan 85,2%, kemudian topan 61,9% serta kekeringan atau kekurangan air 51,7%.
Thailand berbeda. Banjir berada di posisi pertama dengan 76,7%, kemudian gempa bumi 70,2% dan kekeringan atau kekurangan air 54,3%.
Pola tersebut relevan untuk dicermati Indonesia karena risiko bencana juga berbeda antardaerah.
Dengan demikian, pendekatan kesiapsiagaan digital maupun fisik tidak bisa sepenuhnya disamaratakan dan perlu menyesuaikan karakter ancaman di masing-masing wilayah.
Informasi Digital Jadi Kunci Saat Bencana
Survei LINE juga memperlihatkan perbedaan cara masyarakat mempersiapkan diri.
Di Jepang dan Taiwan, langkah paling populer adalah menyimpan air, makanan dan kebutuhan sehari-hari untuk kondisi darurat, masing-masing dilakukan oleh 72,8% dan 72,5% responden yang telah melakukan persiapan.
Di Thailand, perilakunya berbeda. Sebanyak 74,4% memilih mencari informasi terbaru mengenai bencana alam sebagai langkah utama.
Taiwan juga menunjukkan perhatian lebih tinggi terhadap komunikasi keluarga.
Sebanyak 61,4% responden meninjau cara menghubungi dan memastikan keselamatan keluarga maupun orang terdekat, dibandingkan 39,1% di Jepang dan 45,3% di Thailand.
Data tersebut memperlihatkan teknologi digital mempunyai fungsi yang jauh lebih luas ketika terjadi bencana.
Smartphone dan aplikasi komunikasi bukan hanya digunakan untuk mencari kabar, tetapi dapat menjadi sarana untuk memastikan keselamatan keluarga dan memperoleh informasi darurat.
Bahaya Hoaks Bencana Juga Mengintai
Namun ketergantungan masyarakat terhadap informasi digital membawa persoalan lain: hoaks dan informasi menyesatkan saat bencana.
Pemberitaan mengenai bencana justru menjadi pemicu utama masyarakat melakukan persiapan.
Sebanyak 53,5% responden Jepang, 63% Taiwan dan 68,9% Thailand menyebut menemukan berita tentang bencana sebagai faktor yang mendorong mereka bersiap.
Masalahnya, paparan informasi palsu juga tinggi.
Sebanyak 42,6% responden Jepang, 55% Taiwan dan 66,7% Thailand mengaku pernah menemukan informasi palsu atau menyesatkan terkait bencana.
Jenis misinformasi yang paling sering ditemukan berkaitan dengan dampak atau kerusakan akibat bencana, yakni 64,2% di Jepang, 64,1% Taiwan dan 62,9% Thailand.
Bagi Indonesia, persoalan ini layak mendapat perhatian karena kecepatan penyebaran informasi melalui media sosial dan aplikasi pesan dapat menjadi pedang bermata dua ketika terjadi situasi darurat.
Informasi yang akurat dapat membantu penyelamatan, sedangkan informasi keliru berpotensi menimbulkan kepanikan atau mengarahkan masyarakat pada tindakan yang tidak tepat.
Indonesia Bisa Belajar dari LINE Safety Check
LY Corporation bersama LINE Taiwan dan LINE Thailand telah mengembangkan pendekatan berbeda sesuai kebutuhan masing-masing negara.
Di Jepang, LINE mengoperasikan situs khusus untuk Hari Pencegahan Bencana setiap 1 September dan menyediakan LINE Safety Check ketika terjadi bencana, termasuk saat gempa Kumamoto pada Juli 2026.
Di Taiwan, LINE Safety Check memungkinkan pengguna membagikan lokasi sekaligus mengonfirmasi kondisi keselamatan mereka dalam keadaan darurat.
Thailand menjalankan kampanye “LIFELINE: Ready Before the Crisis” bersama lebih dari 15 organisasi pemerintah dan swasta.
LINE sendiri memiliki sejarah yang berkaitan erat dengan bencana. Layanan tersebut hadir setelah Gempa Besar Jepang Timur 2011 sebagai sarana agar masyarakat dapat tetap terhubung dengan keluarga dan orang-orang terdekat.
Bagi Indonesia, temuan survei tersebut menegaskan bahwa transformasi digital untuk mitigasi bencana tidak cukup hanya menyediakan kanal informasi.
Sistem ideal juga perlu membantu masyarakat memperoleh peringatan yang kredibel, memeriksa keselamatan keluarga dan membedakan informasi resmi dari hoaks.
Survei LINE memang tidak mengukur tingkat kesiapsiagaan masyarakat Indonesia, sehingga hasil Jepang, Taiwan dan Thailand tidak dapat langsung digeneralisasi untuk Tanah Air.
Namun sebagai negara dengan beragam risiko bencana, Indonesia dapat mengambil pelajaran penting: tingginya kesadaran terhadap ancaman belum tentu berarti masyarakat benar-benar siap.
Di tengah penetrasi smartphone dan penggunaan aplikasi komunikasi yang semakin luas, teknologi digital berpotensi menjadi salah satu lapisan penting dalam mitigasi bencana.
Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi tersebut tidak hanya memberi informasi ketika bencana sudah terjadi, tetapi juga membantu masyarakat Indonesia bersiap sebelum kondisi darurat datang.



















































