Selular.ID – Teknologi kamera pengawas berbasis kecerdasan buatan (AI) ternyata bisa menghadapi lawan yang tidak biasa: pakaian.
Desainer Simon Weckert menciptakan Digital Camouflage, baju anti AI yang dirancang untuk membuat sistem deteksi objek kesulitan mengenali pemakainya sebagai manusia.
Digital Camouflage dikembangkan dalam konteks proyek percontohan pengawasan video berbasis AI di Kottbusser Tor, Berlin, yang mulai berjalan pada Agustus 2026.
Alih-alih menyembunyikan pemakainya dari pandangan manusia, pakaian tersebut ditujukan untuk mengacaukan cara mesin membaca tubuh.
Baca juga:
- 8 Cara Membuat Foto Bergerak dengan Gemini AI
- Ancaman Internal Mengintai, Perusahaan Wajib Perketat Keamanan Data Sensitif
Konsepnya memanfaatkan kelemahan mendasar sistem computer vision.
AI tidak memahami manusia sebagaimana manusia mengenali orang lain, tetapi mempelajari karakteristik visual berdasarkan kumpulan gambar yang digunakan ketika model dilatih.
“Sistem AI terbuat dari beberapa lapisan dan tidak pernah belajar apa itu manusia.
Mereka belajar seperti apa manusia secara statistik dalam jutaan gambar pelatihan,” kata Weckert.
Baju Anti AI Mengacaukan Cara Mesin Melihat Manusia
Menurut Weckert, lapisan awal sistem AI membaca karakteristik seperti garis tepi, kontras dan gradasi tekstur.
Pada lapisan jaringan yang lebih dalam, sistem mulai menghubungkan informasi tersebut dengan karakteristik tubuh, misalnya siluet kepala dan bahu, proporsi anggota tubuh terhadap badan serta kesinambungan antara bentuk manusia dan latar belakang.
“Bagi mesin, manusia merupakan kumpulan statistik visual, dan justru itulah kelemahannya,” ujar Weckert.
Prinsip tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam desain pakaian kamuflase digital menggunakan kombinasi warna mencolok dan pola yang saling bertumpuk.
Perubahan warna yang kuat dirancang memengaruhi respons lapisan awal jaringan AI.
Sementara bentuk-bentuk yang saling tumpang tindih berusaha memutus kesinambungan garis tubuh yang biasanya menjadi salah satu petunjuk bagi sistem untuk mengenali manusia.
“Ini adalah interaksi mereka, dioptimalkan terhadap mesin daripada mata manusia,” kata Weckert.
Hasil yang diharapkan bukan membuat orang yang mengenakan Digital Camouflage benar-benar menghilang dari kamera.
Manusia tetap dapat melihat pemakainya, tetapi algoritma deteksi dapat mengalami kesulitan menggabungkan bagian-bagian visual tersebut menjadi satu objek manusia.
AI Dipakai untuk Melawan AI
Hal menarik lainnya, pola Digital Camouflage justru dikembangkan dengan bantuan AI.
Weckert menggunakan metode yang disebutnya adversarial loop.
Desain dibuat, kemudian diperlihatkan kepada sistem deteksi objek untuk mengetahui seberapa yakin AI masih mampu mengenali pemakainya sebagai manusia.
Pola kemudian dimodifikasi berdasarkan hasil tersebut dan kembali diuji. Siklus itu dilakukan berulang kali sampai tingkat keyakinan sistem deteksi menurun.
“Pola itu dikembangkan melalui proses adversarial loop bersama sistem deteksi itu sendiri. Membuat desain, menunjukkannya ke sistem deteksi, mengukur seberapa yakin sistem masih dapat menemukan sosok manusia. Kemudian, menyesuaikannya dan mengulang proses tersebut hingga tingkat keyakinan sistem runtuh,” jelasnya.
Menurut Weckert, proses tersebut diperlukan karena apa yang dianggap mengganggu oleh manusia belum tentu membingungkan bagi mesin, demikian pula sebaliknya.
“Anda tidak bisa merancang sesuatu untuk mengelabui persepsi mesin hanya dengan melihatnya. Mesin itu sendiri yang dapat menunjukkan apa yang gagal dilihatnya,” ujarnya.
Digital Camouflage Diuji dengan YOLO
Baju anti AI Digital Camouflage tersebut diuji menggunakan YOLO, sistem deteksi objek open source yang dapat bekerja secara real-time.
Weckert melihat adanya ironi dalam metode pengembangan tersebut.
Teknologi yang secara prinsip serupa dengan AI untuk mengawasi ruang publik justru digunakan untuk mencari kelemahan sistem pengawasan itu sendiri.
“Ada sebuah simetri yang puitis di sini: kelas AI yang sama yang digunakan untuk mengawasi ruang tersebut justru mengajarkan baju ini bagaimana cara bersembunyi,” kata Weckert.
Namun keberhasilan terhadap satu sistem deteksi tidak otomatis berarti pakaian tersebut mampu mengalahkan seluruh kamera pengawas berbasis AI.
Model computer vision dapat memiliki arsitektur, data pelatihan, konfigurasi kamera, sudut pengambilan gambar dan metode deteksi yang berbeda.
Karena itu, Digital Camouflage lebih tepat dilihat sebagai demonstrasi mengenai kemungkinan adanya kelemahan pada sistem pengenalan berbasis AI, bukan jubah ajaib yang membuat seseorang tidak terdeteksi oleh semua kamera.
Pengawasan AI Mulai Memunculkan “Perlawanan” Digital
Weckert bukan desainer pertama yang mencoba merespons berkembangnya teknologi pengawasan menggunakan pakaian.
Sebelumnya telah muncul pakaian rajut yang dirancang untuk membantu melindungi data biometrik pemakainya tanpa harus menutup wajah.
Kemunculan berbagai proyek tersebut memperlihatkan bagaimana perkembangan AI surveillance mulai memunculkan eksperimen baru di persimpangan teknologi, desain dan privasi.
Digital Camouflage juga memperlihatkan persoalan yang lebih besar di balik semakin masifnya penggunaan AI di ruang publik.
Sistem deteksi yang terlihat sangat pintar bagi manusia tetap membuat keputusan berdasarkan pola statistik. Artinya, kemampuan sistem mengenali seseorang bisa berubah ketika karakteristik visual yang menjadi acuannya sengaja dimanipulasi.
Pada satu sisi, kelemahan tersebut membuka pertanyaan mengenai keandalan kamera pengawas AI.
Di sisi lain, teknik serupa juga menjadi tantangan bagi pengembang untuk membuat sistem computer vision lebih tahan terhadap manipulasi adversarial.
Bagi masyarakat, termasuk Indonesia yang semakin banyak mengadopsi CCTV dan teknologi berbasis AI, fenomena Digital Camouflage menjadi pengingat bahwa implementasi pengawasan cerdas tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan algoritma.
Akurasi, privasi, transparansi penggunaan data hingga kemungkinan sistem AI salah mendeteksi manusia perlu menjadi bagian dari pembahasan.
Sebab ketika AI semakin banyak diberi kemampuan untuk “melihat” aktivitas manusia, pertanyaan berikutnya bukan hanya seberapa pintar kamera tersebut mengenali kita, tetapi juga seberapa mudah penglihatannya bisa dikelabui.


















































