TechDaily.id – Ngobrolin soal WhatsApp di iPhone, pastinya kita udah kebiasaan banget sama tampilannya yang gitu-gitu aja dari tahun ke tahun.
Kolom chat yang nempel kaku di bagian bawah layar emang fungsional sih, tapi jujur aja, agak ngebosenin, kan? Nah, buat kamu para user iPhone (iOS), siap-siap buat ngalamin glow-up visual paling masif dari WhatsApp di tahun 2026 ini!
Melansir dari laporan terbaru portal teknologi Ubergizmo dan data developer dari WABetaInfo pada Senin (23/2/2026), Meta kabarnya lagi ngerombak habis-habisan user interface (UI) WhatsApp khusus buat perangkat iOS. Mereka akan mengadopsi bahasa desain “Liquid Glass” alias kaca cair yang lagi nge-tren banget di ekosistem Apple.

Apa Sih Desain “Liquid Glass” WhatsApp Itu?
Buat kamu yang belum familier, Liquid Glass adalah bahasa desain revolusioner yang mulai diperkenalkan Apple lewat pembaruan iOS 26. Konsep utamanya adalah memberikan efek translucent (semi-transparan), desain yang berlapis (layered), dan animasi navigasi yang super mulus.
Intinya, elemen-elemen di layar bakal kelihatan kayak terbuat dari kaca buram yang bisa memantulkan warna dari konten di belakangnya. Jadi, pas kamu scroll obrolan grup yang panjang, warna-warni dari bubble chat atau wallpaper bakal tembus secara halus ke bilah navigasi. Hasilnya? Tampilan WhatsApp kamu bakal kelihatan jauh lebih elegan, dinamis, hidup, dan pastinya nggak bikin mata cepat capek.
Wajah Baru: Floating Chat Bar yang Bikin Nyaman
Berdasarkan uji coba di WhatsApp Beta untuk iOS versi 26.7.10.74 via aplikasi TestFlight, perubahan paling drastis yang bakal kamu rasain ada di area chat input bar (kolom tempat ngetik pesan).
Kalau selama ini kolom teks itu bentuknya blok kotak yang menempel mati di ujung bawah layar, di update terbaru nanti, kolom teks ini disulap jadi komponen yang mengambang (floating). Desain yang lepas dari dasar layar ini ngasih ilusi kedalaman 3D dan bikin interface terasa jauh lebih ringan. Kamu bakal berasa lagi ngetik di atas gelembung kaca melayang.
Selain itu, tata letak ikon di sekitarnya juga dirapikan. Tombol attachment (lampiran dokumen), pintasan keyboard stiker, dan kolom teks kini punya pemisah visual yang lebih jelas. Yang paling asyik, tombol kamera dan voice note (mikrofon) nggak lagi disumpel dalam satu background yang sempit. Keduanya dipisah jadi elemen bulat yang berdiri sendiri, bikin kemungkinan “salah pencet” pas lagi buru-buru jadi makin kecil.

Kenapa Meta Rela Repot-Repot Ganti Desain?
Menurut analisis teknis, tujuan utama Meta merombak UI ini adalah biar WhatsApp nggak terasa kayak “aplikasi pihak ketiga” di iPhone. Mereka pengin ekosistem WhatsApp benar-benar menyatu dengan gaya bawaan (native) dari iOS 26.
Dengan mengurangi visual clutter (elemen visual yang berantakan atau bertumpuk), pengguna diharapkan bisa lebih santai dan fokus ke isi obrolan itu sendiri.
Kapan Fiturnya Rilis Global?
Sabar dulu, guys! Saat ini, desain antarmuka bergaya kaca cair ini masih dalam tahap uji coba eksklusif buat para beta tester. Meta butuh waktu beberapa minggu ke depan untuk memastikan efek transparansi ini berjalan lancar (smooth) dan nggak bikin baterai iPhone boros atau bikin teks jadi susah dibaca di perangkat versi lama.
Sambil nunggu update desain ini, ada satu lagi bocoran fitur dewa yang lagi disiapin WhatsApp: Jadwalkan Pesan (Scheduled Messages). Fitur ini juga lagi dites di iOS, memungkinkan kamu buat ngetik ucapan ulang tahun untuk pacar dari malam sebelumnya, dan aplikasinya bakal ngirim secara otomatis tepat jam 12 malam. Keren banget, kan?
Tahun 2026 sepertinya bakal jadi tahun di mana WhatsApp bener-bener manjain user Apple. Kita tunggu aja rollout resminya di App Store dalam waktu dekat!
Sekadar informasi, Sejak pertama kali diakuisisi oleh Facebook (kini Meta) pada tahun 2014, WhatsApp telah berevolusi dari sekadar aplikasi pengganti SMS menjadi tulang punggung komunikasi digital nusantara. Berdasarkan laporan Digital 2026: Indonesia yang dirilis awal tahun ini oleh We Are Social dan Meltwater, WhatsApp masih mengukuhkan posisinya sebagai aplikasi perpesanan nomor satu dengan tingkat penetrasi pengguna aktif mencapai lebih dari 90% dari total populasi internet di Indonesia.

Dari urusan koordinasi pekerjaan kantor, grup arisan keluarga, hingga transaksi jual-beli UMKM lokal (melalui WhatsApp Business), semuanya bermuara pada layar hijau khas aplikasi ini.
Namun, di tengah dominasinya, WhatsApp kerap dikritik—terutama oleh pengguna setia Apple (iOS)—karena desain antarmukanya yang dianggap terlalu kaku, konservatif, dan tertinggal jauh dibandingkan kompetitor utamanya seperti Telegram atau iMessage bawaan Apple. Telegram, misalnya, sudah sejak lama menawarkan kustomisasi tema yang sangat cair, animasi bubble chat yang dinamis, hingga opsi transparansi latar belakang yang estetis.
Oleh karena itu, langkah Meta merombak total antarmuka WhatsApp iOS dengan bahasa desain “Liquid Glass” di tahun 2026 ini bukan sekadar mengejar tren visual. Ini adalah upaya strategis Meta untuk mempertahankan relevansinya di kalangan Gen Z dan milenial yang semakin menuntut pengalaman pengguna (User Experience/UX) yang tidak hanya fungsional, tetapi juga seamless, modern, dan memanjakan mata.













































