TSMC Raup Laba Rekor Berkat AI, Tambah Investasi US$100 Miliar di AS

5 hours ago 1

Selular.id – Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) kembali mencatatkan kinerja keuangan yang memecahkan rekor pada kuartal II 2026. Produsen chip terbesar di dunia itu membukukan lonjakan laba bersih sebesar 77% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, didorong oleh permintaan yang terus meningkat terhadap chip kecerdasan buatan (AI).

Bersamaan dengan pengumuman hasil keuangan tersebut, TSMC juga memastikan tambahan investasi senilai US$100 miliar untuk memperluas fasilitas produksinya di Amerika Serikat.

Kinerja ini mempertegas posisi TSMC sebagai tulang punggung industri semikonduktor global. Perusahaan asal Taiwan tersebut menjadi mitra manufaktur bagi sejumlah raksasa teknologi seperti Nvidia, Apple, AMD, hingga Qualcomm yang saat ini berlomba menghadirkan perangkat dan infrastruktur AI generasi terbaru.

Permintaan terhadap chip berteknologi tinggi membuat kapasitas produksi TSMC terus terisi penuh sepanjang paruh pertama 2026.

Pada periode April hingga Juni 2026, laba bersih TSMC mencapai NT$706,6 miliar atau sekitar US$22 miliar. Angka tersebut jauh melampaui proyeksi analis yang dihimpun LSEG SmartEstimate, sekaligus menjadi rekor laba kuartalan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan. Pendapatan kuartalan juga naik 36% secara tahunan menjadi sekitar US$40,2 miliar.

Pertumbuhan agresif tersebut menjadi cerminan besarnya investasi industri teknologi dalam pengembangan AI. Lonjakan pembangunan pusat data (data center), model AI generatif, hingga layanan komputasi awan membuat kebutuhan terhadap prosesor berperforma tinggi meningkat signifikan.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

TSMC menjadi pihak yang paling diuntungkan karena perusahaan ini memproduksi chip menggunakan teknologi fabrikasi paling mutakhir, termasuk proses 3 nanometer dan 2 nanometer. Teknologi tersebut memungkinkan chip memiliki performa lebih tinggi sekaligus konsumsi daya yang lebih efisien, sehingga menjadi pilihan utama bagi perusahaan yang mengembangkan AI.

Dalam laporan kuartalannya, TSMC juga mengungkapkan bahwa produk berbasis teknologi proses 3 nanometer menyumbang sekitar 30% dari total pendapatan wafer perusahaan. Sementara teknologi 2 nanometer mulai memberikan kontribusi awal terhadap pendapatan setelah memasuki fase produksi.

Seiring tingginya permintaan tersebut, TSMC menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan sepanjang 2026 menjadi lebih dari 40%. Sebelumnya perusahaan hanya memperkirakan pertumbuhan di atas 30%. Revisi ini menunjukkan optimisme manajemen bahwa gelombang investasi AI masih akan berlanjut dalam beberapa kuartal ke depan.

Untuk mengimbangi lonjakan permintaan, TSMC juga meningkatkan belanja modal (capital expenditure/capex) menjadi sekitar US$60 miliar hingga US$64 miliar pada tahun ini. Dana tersebut akan digunakan untuk memperluas kapasitas produksi, membangun fasilitas baru, serta mempercepat implementasi teknologi manufaktur generasi berikutnya.

Langkah ekspansi terbesar dilakukan di Amerika Serikat. TSMC mengumumkan tambahan investasi senilai US$100 miliar yang akan difokuskan pada pengembangan kompleks manufaktur di Arizona. Dengan tambahan tersebut, total komitmen investasi perusahaan di AS kini mencapai sekitar US$265 miliar.

Investasi ini mencakup pembangunan empat fasilitas fabrikasi (fab) baru, fasilitas pengemasan chip canggih, serta pusat penelitian dan pengembangan. Ekspansi tersebut sekaligus mendukung upaya pemerintah Amerika Serikat memperkuat rantai pasok semikonduktor domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produksi di Asia.

Meski membukukan hasil keuangan yang sangat kuat, saham TSMC yang diperdagangkan di Amerika Serikat justru sempat mengalami tekanan setelah laporan dirilis. Sejumlah investor menyoroti besarnya kenaikan belanja modal perusahaan yang diperkirakan akan meningkatkan biaya operasional dalam jangka pendek.

Namun banyak analis tetap memandang prospek jangka panjang TSMC masih sangat positif. Permintaan chip AI diperkirakan terus bertumbuh seiring ekspansi pusat data, layanan cloud, kendaraan pintar, hingga perangkat elektronik berbasis kecerdasan buatan yang mulai memasuki pasar konsumen.

Dominasi TSMC juga semakin sulit disaingi karena perusahaan telah menguasai proses manufaktur chip paling canggih yang saat ini belum mampu diproduksi secara massal oleh sebagian besar kompetitornya. Hal itu membuat perusahaan tetap menjadi mitra utama berbagai perusahaan teknologi global dalam mengembangkan prosesor generasi berikutnya.

Bagi industri teknologi secara keseluruhan, capaian TSMC menjadi indikator bahwa siklus pertumbuhan AI masih berada dalam fase ekspansi. Selama permintaan terhadap komputasi AI terus meningkat, kebutuhan akan chip canggih diperkirakan tetap menjadi mesin utama pertumbuhan bisnis semikonduktor dunia, sekaligus mendorong investasi baru di sektor manufaktur chip dalam beberapa tahun mendatang.

Baca juga: Dominasi TSMC Terancam, AMD Lirik Samsung Cetak Chip Generasi Terbaru

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |