Sempat  Anjlok, Optimistis Pasar Otomotif Kembali Tembus 1 Juta Unit

2 hours ago 4

Selular.ID – Berdasarkan data GAIKINDO, penjualan mobil nasional secara wholesales pada 2024 mencapai 865.723 unit, turun 14,2% dibandingkan 2023 yang menembus 1.005.802 unit. Kondisi tersebut membuat pasar otomotif Indonesia turun dari level lebih dari 1 juta unit menjadi sekitar 800 ribu unit per tahun.

Hal tesebut juga dibenarkan Alexander Barus, Chief Executive Officer PT Sokonindo Automotive, meski demikian, optimistis pasar akan kembali tumbuh dan menembus angka 1 juta unit dalam dua hingga tiga tahun mendatang.

Meski pasar kendaraan nasional mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir, dia menyakini penjualan kendaraan dapat kembali menembus level di atas 1 juta unit per tahun. .

“Dalam dua tahun terakhir pasar memang mengalami penurunan. Dari sebelumnya lebih dari 1 juta unit turun ke sekitar 800 ribu unit. Tetapi dalam dua sampai tiga tahun ke depan kami optimistis pasar akan kembali tumbuh dan bisa berada di atas 1 juta unit lagi,” ujar Alexander, di Jakarta (23/06/26).

Pernyataan tersebut mencerminkan pandangan industri terhadap potensi jangka menengah pasar otomotif nasional. Indonesia masih menjadi salah satu pasar kendaraan terbesar di Asia Tenggara dengan basis konsumen yang luas serta tingkat kepemilikan kendaraan yang relatif masih memiliki ruang pertumbuhan.

Penurunan penjualan kendaraan dalam dua tahun terakhir terjadi di tengah berbagai tantangan ekonomi.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Mulai dari melemahnya daya beli masyarakat, tingginya suku bunga pembiayaan kendaraan, hingga ketidakpastian ekonomi global yang memengaruhi keputusan konsumen untuk melakukan pembelian kendaraan baru.

Meski demikian, sejumlah pelaku industri melihat fundamental pasar otomotif Indonesia tetap kuat.

Pertumbuhan kelas menengah, pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, serta meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat menjadi faktor yang dinilai dapat mendorong pemulihan pasar dalam beberapa tahun mendatang.

PT Sokonindo Automotive, sebagai agen pemegang merek DFSK dan SERES di Indonesia, juga melihat adanya peluang dari transformasi teknologi yang tengah berlangsung di industri kendaraan.

Adopsi kendaraan listrik yang terus berkembang menjadi salah satu faktor yang berpotensi menciptakan permintaan baru di pasar otomotif nasional.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Indonesia juga mendorong percepatan ekosistem kendaraan listrik melalui berbagai kebijakan insentif.

Langkah tersebut membuka peluang bagi produsen otomotif untuk menghadirkan model kendaraan yang lebih beragam sekaligus memperluas pilihan bagi konsumen.

Di tengah tantangan pasar saat ini, Alexander Barus menegaskan bahwa industri tetap memiliki alasan untuk optimistis.

Berdasarkan pandangan perusahaan, pasar otomotif Indonesia masih memiliki potensi pertumbuhan yang besar dan diperkirakan dapat kembali mencapai volume penjualan lebih dari 1 juta unit dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Mobil Listrik dan Hybrid Kini Terhubung Langsung ke Smartphone
Berbagai produsen otomotif kini menghadirkan kendaraan yang dapat dipantau, dikendalikan, hingga diperbarui perangkat lunaknya melalui aplikasi mobile.
Transformasi tersebut menjadikan mobil tidak lagi sekadar alat transportasi, melainkan perangkat yang terhubung (connected vehicle) dalam ekosistem digital.

Teknologi ini memungkinkan pemilik kendaraan mengakses berbagai fungsi penting secara real-time melalui smartphone, mulai dari memeriksa kondisi baterai hingga mengontrol fitur kendaraan dari jarak jauh.

Tren tersebut terlihat pada berbagai model mobil listrik dan hybrid terbaru yang dipasarkan di Indonesia maupun global.

Produsen seperti BYD, Hyundai, Wuling, Toyota, Tesla, hingga DFSK dan SERES mulai menghadirkan fitur konektivitas berbasis aplikasi yang menjadi salah satu nilai tambah bagi pengguna.

Salah satu teknologi yang semakin umum digunakan adalah remote vehicle control atau kendali kendaraan jarak jauh.

Melalui aplikasi resmi yang terhubung ke jaringan internet, pengguna dapat mengunci dan membuka pintu, menyalakan sistem pendingin udara (AC), menyalakan lampu, hingga menemukan lokasi kendaraan yang terparkir.

Pada mobil listrik, fitur ini memiliki fungsi yang lebih luas. Pengguna dapat memonitor status pengisian daya baterai secara langsung melalui smartphone. Informasi seperti kapasitas baterai tersisa, estimasi jarak tempuh, waktu pengisian hingga penuh, hingga riwayat pengisian daya dapat diakses kapan saja tanpa harus berada di dalam kendaraan.

Teknologi tersebut didukung sistem telematika, yaitu kombinasi perangkat komunikasi, sensor kendaraan, dan komputasi awan (cloud computing). Data dari kendaraan dikirim secara aman ke server produsen, kemudian diteruskan ke aplikasi pengguna dalam bentuk informasi yang mudah dipahami.

Selain pemantauan baterai, sejumlah kendaraan listrik modern juga telah mendukung fitur over-the-air update (OTA).

Teknologi ini memungkinkan perangkat lunak kendaraan diperbarui melalui jaringan internet tanpa perlu mengunjungi bengkel resmi.

Konsep OTA serupa dengan pembaruan sistem operasi pada smartphone. Produsen dapat mengirimkan peningkatan performa, pembaruan sistem keamanan siber, perbaikan bug, hingga penambahan fitur baru langsung ke kendaraan pengguna.

Tesla menjadi salah satu pionir teknologi ini, yang kemudian diikuti oleh banyak produsen otomotif global.

Perkembangan lain yang mulai banyak diterapkan adalah digital key atau kunci digital. Teknologi ini memungkinkan smartphone berfungsi sebagai pengganti kunci fisik kendaraan.

Dengan dukungan teknologi Near Field Communication (NFC), Bluetooth, atau Ultra-Wideband (UWB), pengguna dapat membuka pintu dan menyalakan kendaraan hanya menggunakan ponsel yang telah terotorisasi.

Pada kendaraan hybrid generasi terbaru, integrasi smartphone juga dimanfaatkan untuk mengoptimalkan efisiensi bahan bakar dan penggunaan energi listrik.

Sistem manajemen energi kendaraan dapat menampilkan analisis pola berkendara, konsumsi bahan bakar, penggunaan baterai, hingga rekomendasi gaya berkendara yang lebih hemat energi.

Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga mulai diterapkan pada sejumlah kendaraan listrik premium.

Sistem AI dapat mempelajari kebiasaan pengguna, mengatur suhu kabin secara otomatis, merekomendasikan rute yang lebih efisien, hingga menentukan lokasi stasiun pengisian daya terdekat berdasarkan kapasitas baterai yang tersedia.

Integrasi dengan ekosistem smartphone juga semakin luas melalui dukungan Android Auto dan Apple CarPlay.

Baca Juga:Mengapa Adopsi Mobil Listrik di Thailand Tidak Secepat Indonesia?

kedua platform tersebut memungkinkan pengguna mengakses navigasi, panggilan telepon, pesan singkat, hingga layanan streaming musik langsung melalui layar infotainment kendaraan.

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |