Selular.ID – Berbeda dengan koflik-konflik sebelumnya, perang Iran dengan AS dan Israel kini melibatkan teknologi tinggi, termasuk AI (Kecerdasan Buatan).
Dalam operasi militer besar yang dikenal sebagai Operation Epic Fury, militer AS dilaporkan menyerang sekitar 1.000 target di Iran hanya dalam 24 jam pertama, sebagian besar dengan bantuan teknologi AI.
Meski AS dibantu AI, Iran bukanlah Venezuela. Faktanya, perang yang tengah berlangsung di Timur Tengah, memasuki pekan kedua.
Tak ada kemenangan singkat seperti yang diharapkan oleh Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu, saat memulai kampanye militer.
Tak ada tanda-tanda Iran bakal menyerah, meski sebagian wilayahnya termasuk ibu kota Teheran luluh lantak akibat pemboman.
Bahkan pemimpin tertingginya Ayatullah Ali Khamenei mati syahid. Disebut-sebut bahwa tewasnya Khamenei salah satunya juga melibatkan teknologi AI yang secara presisi memudahkan pesawat AS dan Israel menyerang target.
Malah, negeri para mullah itu, mampu membalikkan keadaan, membuat AS dan Israel berfikir ulang dalam melanjutkan perang yang belum tentu bisa dimenangkan.
Alasan dibalik kemungkinan Trump untuk mengakhiri perang, tak hanya menggerogoti ekonomi AS karena tingginya biaya perang dan memberikan penderitaan kepada negara-negara Teluk yang selama ini menjadi sekuutunya, namun juga fakta di lapangan berbeda dari sekedar retorika di atas meja.
Harus diakui, AS dan Israel tak menyangka bahwa misil-misil yang dimiliki Iran ternyata memiliki dampak yang dashyat.
Berbagai jenis rudal telah ditembakkan. Menimbulkan dampak yang destruktif baik target militer maupun sipil, serta memunculkan traum psikologis bagi warganya.
Jauh sebelum pecah perang, Iran terlihat sangat siap dengan berbagai arsenal. Negara itu memiliki persenjataan rudal terbesar di Timur Tengah, mencakup rudal balistik jarak pendek hingga menengah dan rudal jelajah.
Jenis utamanya meliputi rudal hipersonik (Fattah-1/2), rudal balistik berbahan bakar cair/padat (Shahab, Ghadr, Khorramshahr, Emad), serta seri presisi tinggi seperti Fateh-110, Zolfaghar, dan Kheibar Shekan. Khusus Khorramshahr, rudal ini sudah memiliki generasi keempat.
Untuk diketahui, Iran dilaporkan telah menggunakan Khorramshahr 4, rudal balistik tercanggih buatan dalam negerinya, untuk menyerang pangkalan militer AS di Qatar dan Bahrain, sekaligus meluncurkan sekitar 600 rudal dan 2.000 pesawat nirawak ke berbagai wilayah di Israel.
Skala dan penyebaran geografis serangan tersebut menandakan eskalasi besar, yang secara langsung mengancam infrastruktur militer AS di seluruh Teluk dan menyoroti jangkauan pasukan serang jarak jauh Iran.
Pasca agresi AS dan Israel, Iran dilaporkan telah melakukan serangan terkoordinasi besar-besaran di Timur Tengah, menggunakan rudal balistik tercanggihnya, Khorramshahr 4.
Operasi ini menandai salah satu serangan gabungan rudal dan pesawat nirawak terbesar yang dikaitkan dengan Iran, secara signifikan memperluas cakupan geografis konflik di luar Israel dengan menyerang negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah instalasi militer AS utama.
Para analis pertahanan mencatat bahwa penggunaan Khorramshahr 4 yang dilaporkan, yang diyakini memiliki jangkauan mendekati 2.000 km dan mampu membawa muatan berat, menunjukkan kematangan operasional pasukan rudal strategis Iran dan kemampuan mereka untuk mengancam berbagai target regional secara bersamaan.
Setelah sukses menyerang pangkalan militer AS di Qatar dan Bahrain, Korps Garda Revolusi Islam Iran pada Kamis (5/3) mengkonfirmasi peluncuran rudal balistik Khorramshahr 4 yang menargetkan Bandara Ben Gurion, serta Pangkalan Udara ke-27 Angkatan Udara Israel yang terletak di bandara tersebut.
Rudal-rudal tersebut ditembakkan sebagai bagian dari gelombang ke-19 Operasi True Promise 4, sebuah kampanye terkoordinasi serangan rudal dan drone terhadap target-target Israel dan AS.
Juga disebut oleh sumber lokal sebagai Kheibar, rudal Khorramshahr 4 terkenal karena desainnya yang besar, yaitu 30 ton, dan membawa hulu ledak seberat 1.500 hingga 1.800 kilogram.
Baca Juga:
- Teknologi Drone Kamikaze Shahed-136 Mirik Iran Bisa Terbang ke Riyadh Tanpa Ketahuan
- Ketegangan AS–Iran Picu Gangguan Internet dan Ancaman Keamanan Siber

Korea Utara Terlibat Dalam Pengembangan Rudal Khorramshahr
Dinukilk dari laman Military Watch Magazine, pengembangan seri rudal Khorramshahr dilaporkan mendapat manfaat dari transfer teknologi ekstensif dari program rudal balistik Hwasong-10 Korea Utara pada 2000-an dan 2010-an.
Varian rudal Korea selanjutnya mencapai jangkauan 4.000 kilometer yang memungkinkan mereka untuk menyerang pangkalan-pangkalan penting AS di Guam.
Khorramshahr memiliki jangkauan yang lebih pendek (sekitar 2.000 kilometer), tetapi membawa hulu ledak yang jauh lebih besar, yang merupakan hulu ledak terberat yang diketahui ada di persenjataan rudal Iran.
Rudal-rudal tersebut diperkirakan mampu mengirimkan muatan konvensional besar atau beberapa submunisi. Ukuran hulu ledak rudal tersebut mungkin membuatnya optimal untuk menembus target yang sangat terlindungi, termasuk tempat perlindungan pesawat di pangkalan-pangkalan penting.
Khorramshahr 4 dilaporkan mengintegrasikan kendaraan masuk kembali yang dapat bermanuver, sebuah teknologi yang pertama kali dilaporkan ditransfer dari Korea Utara ke negara tersebut dan ke Suriah pada 1990-an.
Memberikan kemampuan penetrasi yang unggul terhadap jenis rudal yang dipasok Korea terhadap pertahanan udara canggih AS dan Israel.
Kendaraan ini dapat mengubah lintasan selama penurunan, menggunakan pendorong kecil untuk manuver akhir.
Teknologi kendaraan masuk kembali Iran telah berkembang pesat sejak 1990-an, mungkin melalui kerja sama berkelanjutan dengan Korea Utara, dengan generasi rudal baru, terutama Fattah, menggunakan kendaraan yang lebih canggih yang lebih mampu menghindari generasi pertahanan udara yang lebih baru.
Meskipun kekurangan Khorramshahr 4 dibandingkan dengan desain rudal balistik Iran baru lainnya adalah kurangnya komposit bahan bakar padat, yang berarti tidak dapat disimpan dalam keadaan terisi penuh bahan bakar, namun rudal ini menggunakan bahan bakar cair hipergolik, yang menyala secara otomatis ketika komponen bercampur. Hal ini memungkinkan waktu persiapan yang jauh lebih singkat.
Iran bergantung pada beberapa jenis rudal balistik yang saling melengkapi untuk mengoptimalkan kemampuannya menyerang target militer Blok Barat dan Israel di seluruh Timur Tengah.
Kehadiran Khorramshahr 4 telah mendapatkan publisitas yang cukup besar karena kekuatan hulu ledaknya, yang merupakan ancaman khusus bagi Israel karena ketergantungannya yang tinggi pada benteng bawah tanah.
Hulu ledak berkelompok yang diangkut rudal Khorramshahr 4 menyebarkan submunisi sejauh sepuluh kilometer, merenggut para pemukim Zionis dari tidur mereka dan memaksa mereka berlindung di tempat perlindungan bom sebelum matahari terbit.
Sumber-sumber Israel baru-baru ini melaporkan bahwa penghancuran radar peringatan dini telah membatasi waktu peringatan ketika rudal Iran diluncurkan, yang dapat berfungsi untuk membatasi korban jiwa.
Citra satelit menunjukkan kerusakan besar pada fasilitas militer AS di seluruh Timur Tengah akibat serangan rudal balistik Iran, serta pada target di seluruh Israel. Kehadiran Khorramshahr 4 menambah penderitaan tersebut.
Meskipun telah menempatkan konsentrasi aset pertahanan rudal yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah tersebut, Amerika Serikat menderita akibat menipisnya persediaan secara cepat.
Hal itu mengakibatkan tindakan putus asa termasuk laporan tentang pemindahan pencegat anti-rudal untuk sistem Patriot dan THAAD dari Korea Selatan, tempat sistem tersebut terkonsentrasi. Pemindahan sistem lengkap dari Korea juga dilaporkan sedang dipertimbangkan.
Efektivitas pertahanan rudal yang dimiliki AS dan Israel semakin dipertanyakan, terutama terhadap generasi rudal yang lebih baru, termasuk Khorramshahr 4, rudal balistik paling canggih yang dimiliki Iran.
Padahal sebelumnya, Iran hanya mengerahkan sejumlah kecil rudal balistik Fattah-2 dengan kendaraan luncur hipersonik, yang telah difilmkan menghantam target strategis di Israel.
Tak dapat dipungkiri, Khorramshahr-4 memberikan keunggulan telak Iran terhadap musuh bebuyutannya, AS dan Israel.
Seperti dilaporkan Army Recognition, penggunaan rudal balistik Khorramshahr 4 terhadap instalasi militer di kawasan Teluk akan menjadi salah satu demonstrasi paling langsung hingga saat ini tentang kemampuan Iran untuk mengancam arsitektur pangkalan regional yang mendukung operasi militer AS di Timur Tengah.
Serangan tersebut juga akan menggarisbawahi peran sentral yang kini dimainkan rudal balistik dalam doktrin militer Iran, memberikan Teheran keunggulan asimetris yang kuat untuk memproyeksikan kekuatan di seluruh wilayah meskipun kemampuan udara konvensionalnya terbatas.
Baca Juga: Giliran Korea Selatan Khawatirkan Dampak Perang Iran – AS Israel, Ganggu Pasokan Semikonduktor



















































