Nvidia Dulu Kuasai China, Kini Nol Besar

13 hours ago 13

Selular.ID – CEO raksasa pembuat chip Nvidia, Jensen Huang, membeberkan fakta mengejutkan sekaligus ironis terkait nasib bisnis perusahaannya di China.

Pria yang identik dengan jaket kulit hitamnya itu mengungkapkan bahwa pangsa pasar Nvidia di Negeri Tirai Bambu tersebut kini telah terjun bebas hingga menyentuh angka nol.

Padahal, Nvidia sebelumnya sangat mendominiasi pasar chip semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI) di China.

Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Huang dalam sebuah sesi wawancara di program Memos to the President yang diselenggarakan oleh lembaga Special Competitive Studies Project pada akhir April lalu.

“Nvidia sebelumnya memiliki, sebut saja, sekitar 90-an persen pangsa pasar di sana,” ungkap Huang dalam wawancara tersebut.

“Namun hari ini, di China, pangsa pasar kami kini telah turun menjadi nol,” lanjutnya.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Yang menarik, anjloknya dominasi bisnis Nvidia di China ini justru menjadi sebuah ironi tersendiri.

Aturan kontrol ekspor yang dirancang secara ketat oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) awalnya ditujukan untuk melindungi posisi dominan dan keunggulan teknologi mereka.

Namun, kebijakan ini malah menjadi bumerang yang secara langsung menyebabkan hilangnya pangsa pasar Nvidia di China.

Ketidakmampuan Nvidia untuk menjual chip andalannya akhirnya menciptakan celah yang dengan cepat dimanfaatkan oleh para produsen chip lokal China untuk merebut pasar.

Persaingan Kian Panas

Kendati perusahaannya harus menelan pil pahit kehilangan pasar raksasa, Huang rupanya tetap satu suara dengan pemerintahnya.

Ia secara terbuka menyatakan setuju bahwa China memang tidak seharusnya memiliki akses terhadap cip AI paling mutakhir.

Dalam kesempatan yang sama, Huang secara spesifik menyebut nama arsitektur GPU AI generasi terbarunya, yakni Blackwell dan Rubin.

Baca juga:

Ia dengan tegas menyatakan bahwa China sama sekali tidak boleh mendapatkan akses ke dua jajaran chip super canggih tersebut.

Menurut Huang, dalam perlombaan kecerdasan buatan global saat ini, AS mutlak harus memegang kendali penuh.

Ia dengan mantap menegaskan bahwa Amerika Serikat harus memiliki “yang pertama, yang terbanyak, dan yang terbaik” dalam hal kepemilikan perangkat keras AI.

Minta Ruang untuk Bersaing

Meski mendukung penuh ambisi supremasi teknologi AS, bos Nvidia itu juga mendesak Washington agar tidak mematikan langkah perusahaan Amerika sepenuhnya di pasar global.

Ia meminta agar para pemain semikonduktor dari AS tetap diberikan kelonggaran dan diizinkan untuk terus bersaing secara kompetitif, termasuk tetap berbisnis di pasar China untuk menjual lini produk yang tidak melanggar aturan ekspor.

Kondisi pangsa pasar yang kini anjlok hingga “nol persen” ini cukup bertolak belakang dengan situasi Nvidia beberapa bulan ke belakang.

Pada Maret lalu, Huang sempat sesumbar bahwa Nvidia telah mengantongi pesanan chip dari “banyak pelanggan” asal China, menyusul persetujuan ekspor resmi untuk mendistribusikan chip AI seri H200.

H200 sendiri merupakan chip AI Nvidia yang kemampuannya sudah dipangkas khusus agar lolos aturan AS.

Namun, dinamika geopolitik, ketatnya sanksi ekspor AS yang berbalik menjadi bumerang, serta manuver agresif produsen chip lokal China membuat peta persaingan berubah sangat drastis dalam waktu singkat, sebagaimana Selular rangkum dari Tom’s Hardware.

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |