Nabire, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Papua Tengah mulai memperkuat fondasi organisasi cabang olahraga sebagai bagian dari persiapan menghadapi agenda olahraga nasional dalam beberapa tahun mendatang.
Langkah tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang digelar KONI Papua Tengah di kantor KONI, Jalan A. Gobai, Grimulyo, Kabupaten Nabire, Kamis (10/9/2026) sore.
Rakor dipimpin Ketua KONI Papua Tengah Yosua Tipagau, didampingi Sekretaris Yeki Tobai dan bendahara. Pertemuan tersebut diikuti perwakilan 32 cabang olahraga (cabor) tingkat Provinsi Papua Tengah.
Dua hal menjadi perhatian utama dalam pertemuan itu, yakni penyusunan gambaran umum program kerja masing-masing cabor serta persiapan proses pengukuhan atau pelantikan pengurus cabang olahraga.
Legalitas Cabor Jadi Prioritas
Yosua Tipagau mengatakan konsolidasi organisasi merupakan tahapan penting sebelum KONI Papua Tengah masuk lebih jauh pada agenda pembinaan dan peningkatan prestasi atlet.
Menurut dia, keberadaan organisasi cabor yang memiliki administrasi dan legalitas jelas akan mempermudah koordinasi antara pengurus tingkat provinsi dan kabupaten.
“Segera bereskan masalah internal terkait legalitas administrasi organisasi,” kata Tipagau dalam arahannya.
Ia menjelaskan KONI Papua Tengah saat ini sedang memetakan kondisi masing-masing cabor. Dari hasil pemetaan tersebut, cabor dikelompokkan berdasarkan status legalitas dan proses pembentukan kepengurusan.
Kategori pertama mencakup cabor yang telah mengantongi surat keputusan (SK), tetapi belum menjalani proses pengukuhan. Kelompok ini menjadi prioritas untuk segera dilantik.
KONI menargetkan proses pengukuhan bagi cabor yang telah memiliki SK dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua pekan.
Kategori kedua terdiri dari cabor yang telah memperoleh rekomendasi, tetapi belum mendapatkan SK dari tingkat pusat dan belum melaksanakan musyawarah organisasi.
Sementara kategori ketiga merupakan cabor yang belum memperoleh rekomendasi dan belum melaksanakan musyawarah serta belum memiliki kepengurusan di Papua Tengah.
Pembagian tersebut dilakukan agar KONI dapat menentukan langkah berbeda sesuai kondisi masing-masing organisasi.
Konsolidasi Jadi Fondasi Pembinaan Atlet
Tipagau menilai pembenahan organisasi harus dilakukan terlebih dahulu agar program pembinaan atlet dapat berjalan secara berkelanjutan.
Sebagai provinsi yang relatif baru, Papua Tengah membutuhkan fondasi kelembagaan olahraga yang kuat. Legalitas, kepengurusan, dan mekanisme koordinasi dinilai menjadi bagian penting untuk mendukung pembinaan prestasi.
“Ini provinsi baru, jadi memang harus kita meletakkan pondasi dengan cara membenahi organisasi ini dulu, supaya organisasi benar, kuat, baru pembinaan atlet itu jalan,” ujarnya.
Setelah proses pengukuhan cabor tingkat provinsi selesai, KONI Papua Tengah akan mendorong konsolidasi hingga tingkat kabupaten.
Langkah itu diperlukan agar kepengurusan cabor di kabupaten dapat berkoordinasi dengan KONI kabupaten dan KONI provinsi secara lebih terarah.
Kejurda hingga Pra-PON 2027
Konsolidasi organisasi juga berkaitan erat dengan agenda kompetisi daerah yang direncanakan berlangsung tahun ini.
KONI Papua Tengah tengah menyiapkan kemungkinan penyelenggaraan kompetisi dalam bentuk Pekan Olahraga Provinsi, Kejuaraan Daerah (Kejurda), atau Piala Gubernur.
Kompetisi tersebut tidak hanya ditujukan sebagai ajang pertandingan. KONI ingin menjadikannya sebagai salah satu instrumen untuk melihat kemampuan atlet Papua Tengah sekaligus melakukan seleksi menuju Pra-PON 2027.
Atlet yang menunjukkan performa terbaik dalam kompetisi daerah nantinya berpeluang masuk dalam persiapan kontingen Papua Tengah menghadapi Pra-PON.
“Kita mempersiapkan atlet yang nanti akan masuk di Pra-PON 2027. Kalau sudah seleksi di Pekan Olahraga Daerah, nanti itu yang akan mewakili Pra-PON 2027,” jelas Tipagau.
Tahapan tersebut kemudian diarahkan pada target yang lebih besar, yakni keikutsertaan dalam PON 2028 yang menurut rencana akan berlangsung di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Jakarta.
Atlet Diminta Tetap Berlatih
Di tengah proses pembenahan administrasi organisasi, Tipagau memastikan aktivitas atlet tidak boleh berhenti.
Ia meminta atlet asal Papua Tengah yang saat ini sedang menjalani latihan atau persiapan di berbagai daerah di Indonesia untuk tetap melanjutkan program latihan.
Menurutnya, pembenahan yang dilakukan KONI lebih difokuskan pada sisi kelembagaan dan koordinasi organisasi, sementara atlet harus terus menjaga kesiapan fisik dan kemampuan teknis.
“Jadi atlet tetap latihan di lapangan,” katanya.
KONI Papua Tengah juga akan menyesuaikan pembentukan dan pengukuhan cabor dengan kebutuhan pembinaan atlet yang tersedia di wilayah tersebut.
Efisiensi Anggaran Jadi Perhatian
Dalam rapat tersebut, Tipagau turut mengingatkan pengurus cabor mengenai kondisi pemerintahan yang saat ini menghadapi kebijakan efisiensi anggaran.
Menurut dia, kondisi tersebut dapat memberikan dampak terhadap berbagai sektor, termasuk kegiatan organisasi olahraga. Karena itu, pelaksanaan program KONI perlu disesuaikan dengan arahan dan kebijakan pemerintah.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, ia menegaskan proses konsolidasi organisasi tetap harus berjalan.
Dengan pembenahan legalitas 32 cabor, penguatan koordinasi hingga tingkat kabupaten, serta rencana kompetisi daerah, KONI Papua Tengah mulai menyiapkan jalur pembinaan menuju Pra-PON 2027.
Tahapan tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun sistem olahraga Papua Tengah yang lebih tertata dan kompetitif menuju PON 2028.
[Nabire.Net/Marten Dogomo]

2 hours ago
2

















































