Selular.ID – Erajaya Digital menilai kenaikan harga smartphone pada kuartal pertama 2026 mendorong perubahan perilaku pasar, di mana konsumen mulai bergeser dari segmen entry-level ke perangkat kelas menengah, sekaligus memperkuat posisi ritel modern dalam ekosistem penjualan perangkat di Indonesia.
Joy Wahyudi, CEO Erjaya Digital menjelaskan bahwa penyesuaian harga yang dilakukan sejumlah brand berdampak langsung terhadap ketersediaan produk di kisaran harga Rp1 hingga 2 jutaan.
Kondisi ini membuat pilihan di segmen entry-level semakin terbatas dan mendorong konsumen mempertimbangkan perangkat dengan spesifikasi lebih tinggi.
Menurut Joy, dalam situasi tersebut Erajaya berada pada posisi yang relatif diuntungkan.
Model bisnis ritel modern yang berfokus pada produk kelas menengah hingga premium dinilai lebih siap mengakomodasi pergeseran tersebut.
Ia melihat adanya perubahan pola belanja, di mana konsumen yang sebelumnya mengandalkan toko tradisional mulai beralih ke ritel modern untuk mendapatkan perangkat dengan kualitas dan pengalaman yang lebih baik.
Meski demikian, Joy mengakui bahwa kenaikan harga tetap menjadi tantangan bagi daya beli masyarakat.
Untuk menjaga daya tarik pasar, Erajaya mengandalkan berbagai program pembiayaan, termasuk skema cicilan dan tukar tambah perangkat.
“Salah satu program yang dikembangkan adalah “bebas tukar”, yang memberikan fleksibilitas bagi konsumen untuk mengganti perangkat dari berbagai merek dalam satu ekosistem ritel,’ujar Joy, Kepada Selualr, Dalam Bincang Eksekutif, di Jakarta (07/04/2026).
Joy menekankan bahwa dalam industri ritel perangkat teknologi, kesan pertama atau first impression terhadap brand menjadi faktor penting dalam keputusan pembelian.
Oleh karena itu, Erajaya tidak hanya fokus pada distribusi produk, tetapi juga pada penyediaan pengalaman ritel yang lebih komprehensif, termasuk layanan purna jual dan integrasi dengan platform digital.
Pendekatan ini tidak hanya bertujuan mendorong penjualan, tetapi juga memperpanjang siklus penggunaan perangkat di kalangan konsumen.
Dengan adanya opsi trade-in, pengguna dapat lebih mudah melakukan upgrade tanpa harus menanggung beban biaya secara langsung dalam jumlah besar.
Selain strategi pembiayaan, Erajaya juga memperkuat kolaborasi dengan mitra layanan digital berbasis over-the-top (OTT).
Langkah ini dilakukan untuk membangun ekosistem yang terintegrasi antara perangkat, layanan, dan konten digital.
Melalui pendekatan tersebut, perusahaan berupaya menciptakan pengalaman pengguna yang lebih menyeluruh sejak tahap awal interaksi dengan produk.
Di sisi lain, tantangan industri tidak hanya berasal dari faktor harga. Kondisi geopolitik global turut memengaruhi rantai pasok dan stabilitas pasar perangkat teknologi.
Fluktuasi ini berdampak pada biaya produksi dan distribusi, yang pada akhirnya tercermin pada harga jual di tingkat konsumen.
Dalam menghadapi situasi tersebut, Erajaya menerapkan pendekatan ekspansi yang lebih terukur.
Perusahaan tetap melihat peluang pertumbuhan, namun dengan mempertimbangkan faktor risiko yang ada.
Baca Juga:Erajaya Catat Pertumbuhan 17% di Tengah Stagnasi Industri, Ini Upaya yang Dilakukan
”Strategi ini mencerminkan upaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan keberlanjutan operasional,’ujar Joy.













































