Harga RAM dan SSD Melonjak Drastis, Konsumen Terancam Tunda Rakit PC

2 hours ago 1

Selular.id – Kabar kurang sedap menghampiri para perakit PC dan pemburu gadget di seluruh dunia, termasuk Indonesia, seiring dengan laporan terbaru mengenai lonjakan harga memori pada kuartal kedua (Q2) tahun ini.

Kenaikan harga DRAM dan NAND Flash yang menjadi komponen utama RAM serta SSD dilaporkan mencapai angka yang cukup signifikan, bahkan menyentuh kenaikan hingga 15-20 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Kondisi ini dipicu oleh strategi para produsen memori besar yang mulai membatasi pasokan demi menyeimbangkan neraca keuangan mereka setelah sempat mengalami penurunan permintaan yang cukup tajam tahun lalu.

Dinamika pasar semikonduktor memang sedang berada dalam fase yang menantang bagi konsumen akhir. Menurut laporan dari rantai pasok global, manufaktur raksasa seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron mulai menyesuaikan kapasitas produksi mereka.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan sebagai upaya pemulihan margin keuntungan yang sempat tergerus habis-habisan.

Akibatnya, stok di pasar mulai menipis sementara permintaan untuk server kecerdasan buatan (AI) justru sedang tinggi-tingginya, sehingga mengalihkan fokus produksi dari memori kelas konsumen ke memori kelas enterprise yang lebih menguntungkan.

Fenomena ini tentu memberikan tekanan besar bagi vendor perangkat keras. Para produsen laptop dan komponen PC kini harus memutar otak untuk menetapkan harga jual produk mereka agar tetap kompetitif di mata pengguna.

Bagi konsumen yang sudah merencanakan untuk melakukan pemutakhiran atau upgrade perangkat dalam waktu dekat, situasi ini memaksa mereka untuk merogoh kocek lebih dalam atau justru memilih untuk menunda pembelian hingga kondisi pasar kembali stabil. Ketidakpastian harga ini diperkirakan akan terus berlanjut sepanjang paruh pertama tahun ini.

Melihat ke belakang, industri memori memang dikenal dengan siklus “boom and bust” yang sangat fluktuatif. Pada tahun 2023, pasar sempat mengalami banjir stok yang menyebabkan harga SSD dan RAM jatuh ke titik terendah, sebuah masa keemasan bagi para pemburu komponen murah.

Namun, hukum ekonomi berbicara saat suplai yang berlebih tersebut mulai diserap pasar dan produsen secara sengaja mengurangi output pabrik mereka.

Penyesuaian produksi ini kini mulai terasa dampaknya di level distributor dan peritel, di mana label harga di etalase mulai merangkak naik secara bertahap setiap minggunya.

Permintaan yang masif dari sektor pusat data untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI) menjadi faktor akseleran utama dalam kenaikan harga ini. Chip memori jenis High Bandwidth Memory (HBM) dan DDR5 kini menjadi primadona yang diperebutkan oleh perusahaan teknologi besar.

Karena lini produksi yang terbatas, manufaktur cenderung memprioritaskan pesanan dari sektor AI yang menawarkan profitabilitas jauh lebih tinggi dibandingkan memori DDR4 atau DDR5 standar untuk komputer rumahan.

Efek dominonya, kapasitas produksi untuk pasar konsumer menjadi berkurang dan memicu kelangkaan pasokan yang mendorong harga ke level yang cukup mengkhawatirkan.

Selain RAM, komponen penyimpanan berbasis NAND Flash atau SSD juga mengalami nasib serupa. Setelah sempat sangat terjangkau, harga SSD kini mulai bergerak liar mengikuti tren kenaikan bahan baku.

Para analis industri memprediksi bahwa kenaikan ini tidak hanya terjadi sekali, melainkan akan merembet ke kuartal berikutnya jika permintaan global tidak segera mendingin.

Hal ini tentu menjadi tantangan bagi ekosistem perangkat digital secara luas, mengingat hampir semua gawai modern sangat bergantung pada efisiensi dan kapasitas memori yang mumpuni.

Situasi pasar yang tidak menentu ini juga berdampak pada strategi pemasaran para vendor lokal di tanah air. Dengan kurs mata uang yang fluktuatif serta biaya logistik yang belum sepenuhnya stabil, kenaikan harga komponen dari hulu akan langsung terasa pada harga akhir di tangan konsumen.

Banyak pihak menyarankan bagi pengguna yang memang sangat membutuhkan perangkat baru untuk segera melakukan transaksi sebelum kenaikan harga di Q2 ini mencapai puncaknya.

Sebaliknya, bagi mereka yang tidak dalam kondisi mendesak, menahan diri mungkin menjadi pilihan yang lebih logis di tengah absrudnya angka-angka di tabel harga saat ini.

Perkembangan ke depan akan sangat bergantung pada seberapa cepat produsen memori memutuskan untuk kembali meningkatkan kapasitas produksi mereka.

Jika stok di gudang-gudang distributor mulai terisi kembali dan permintaan dari sektor AI mulai mencapai titik jenuh, ada kemungkinan harga akan kembali melandai.

Namun, untuk saat ini, para pemangku kepentingan di industri teknologi harus bersiap menghadapi periode harga tinggi yang mungkin akan bertahan lebih lama dari perkiraan semula.

Dinamika suplai dan permintaan ini menjadi pengingat betapa rapuhnya keseimbangan harga dalam industri komponen global.

Baca juga : HP Ungkap Biaya RAM Capai 35 Persen PC

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |