Danantara Jajaki Pendanaan Rp2 Triliun untuk Ekspansi VKTR

6 hours ago 7

Selular.ID – Danantara Investment Management atau DIM dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) bersama PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menandatangani non-binding term sheet pada 28 Agustus 2026 untuk menjajaki kolaborasi pendanaan strategis hingga Rp2 triliun.

Kerja sama awal ini diarahkan untuk mengembangkan bisnis mobility as a service (MaaS) VKTR, termasuk pengadaan bus listrik dan truk listrik di Indonesia.

Dalam keterbukaan informasi VKTR kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 1 September 2026, VKTR menjadi pihak yang direncanakan menerima pendanaan, sementara DIM dan/atau afiliasinya berperan sebagai investor.

PT Bakrie & Brothers Tbk sebagai induk usaha VKTR tercatat sebagai penanggung.

Nilai pokok pendanaan yang tercantum dalam indikasi awal mencapai maksimal Rp2 triliun dan direncanakan memiliki hak opsi konversi, dengan mekanisme yang akan ditentukan dalam dokumen definitif.

Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengatakan term sheet tersebut masih menjadi kerangka awal. DIM akan menjalankan proses uji tuntas secara komprehensif sebelum transaksi dapat direalisasikan.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

“Non-binding term sheet yang ditandatangani merupakan kerangka awal. Proses uji tuntas yang komprehensif akan dilakukan untuk memastikan transaksi dapat memberikan nilai komersial yang baik dan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan ekonomi Indonesia,” ujar Pandu.

Dorong Ekosistem Kendaraan Listrik Komersial

Kolaborasi DIM dan VKTR berfokus pada kendaraan listrik komersial, terutama bus dan truk. Melalui model MaaS, para pihak membidik ekosistem mobilitas terintegrasi yang dapat mencakup kendaraan, pembiayaan, serta kebutuhan operasional armada.

Model tersebut ditujukan untuk mengurangi hambatan yang dihadapi operator ketika beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah akses pembiayaan, sehingga operator armada tidak harus menanggung seluruh kebutuhan investasi kendaraan dan pendukungnya sejak awal.

VKTR menyebut pengembangan MaaS juga mencakup kebutuhan operator bus listrik di berbagai daerah di Indonesia.

Selain memperluas penggunaan kendaraan listrik komersial, kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat rantai nilai industri baterai nasional dan mendukung agenda hilirisasi mineral kritikal yang menjadi salah satu sektor prioritas investasi Danantara.

Pandu Sjahrir mengatakan elektrifikasi mobilitas komersial berkaitan dengan agenda transisi energi jangka panjang. Menurut dia, investasi pada sektor tersebut juga dapat dikaitkan dengan penguatan industri nasional dan hilirisasi.

“Investasi pada elektrifikasi mobilitas komersial merupakan investasi pada transisi energi jangka panjang yang dapat membawa dampak positif pada percepatan adopsi kendaraan listrik nasional,” kata Pandu.

Danantara sebelumnya menetapkan proyek strategis dan sektor prioritas sebagai bagian dari arah investasi 2026. Dalam rencana kerja tersebut, Danantara Investment Management juga menekankan pentingnya uji tuntas, tata kelola, mitigasi risiko, dan kesiapan proyek sebelum investasi direalisasikan.

VKTR Masuk Fase Komersialisasi

Bagi VKTR, penjajakan pendanaan ini berlangsung ketika perusahaan memperluas bisnis kendaraan listrik komersial dari pengembangan produk menuju tahap komersialisasi.

Dalam laporan kinerja semester I 2026, VKTR mencatat penjualan sekitar Rp647 miliar, tumbuh 56 persen secara tahunan.

Perusahaan menyebut pertumbuhan tersebut didukung perkembangan bisnis kendaraan listrik komersial serta kontribusi segmen manufaktur komponen otomotif.

Pada awal 2026, VKTR juga menyatakan telah memperoleh pesanan bus listrik dari perusahaan pengembang properti di Jakarta dan pesanan kendaraan transporter dari perusahaan transportasi antarkota di Malang.

Perusahaan juga memproduksi dua unit bus shuttle listrik untuk sebuah institusi pendidikan di Jawa Tengah.

Untuk bisnis Transjakarta, VKTR menyebut telah memasok 152 unit bus listrik setelah penyelesaian proyek yang tersisa pada awal 2026.

Perusahaan juga menyatakan sedang menyeimbangkan portofolio produk dari bus menuju truk untuk memperluas cakupan pasar kendaraan komersial.

Langkah tersebut sejalan dengan pengembangan ekosistem yang lebih luas. VKTR tidak hanya menempatkan kendaraan listrik sebagai produk, tetapi juga mengembangkan model layanan yang menghubungkan kendaraan, operator, dan kebutuhan pembiayaan dalam satu ekosistem MaaS.

Masih Menunggu Dokumen Definitif

Anindra Ardiansyah Bakrie, Direktur Utama VKTR, menyebut kerja sama dengan Danantara sebagai bagian dari fase pertumbuhan berikutnya perusahaan.

Menurut Anindra, kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun solusi mobilitas listrik yang lebih maju, berkelanjutan, dan mandiri sekaligus memperluas kontribusi industri nasional terhadap perkembangan kendaraan listrik di Indonesia.

Namun, kesepakatan yang ditandatangani pada 28 Agustus 2026 belum menjadi perjanjian investasi yang mengikat.

Realisasi pendanaan masih bergantung pada proses uji tuntas dan pembahasan antara para pihak, termasuk penyusunan serta penandatanganan dokumen definitif.

Jika transaksi berlanjut ke tahap definitif, penggunaan dana antara lain diarahkan untuk pengadaan bus listrik dan/atau truk listrik. Ketentuan mengenai opsi konversi serta penggunaan pendanaan lainnya masih akan ditetapkan dalam dokumentasi final.

Kolaborasi DIM, VKTR, dan BNBR tersebut menempatkan pengembangan kendaraan listrik komersial dalam konteks yang lebih luas, yakni pembentukan ekosistem MaaS, penguatan industri dalam negeri, serta pengembangan rantai nilai yang berkaitan dengan baterai dan mineral kritikal.

Tahap berikutnya akan ditentukan oleh hasil uji tuntas dan kesepakatan definitif para pihak.

Baca Juga: Sinergi Danantara, NeutraDC gandeng PLN Siapkan Ekspansi Hyperscale Data Center

Read Entire Article
Kepri | Aceh | Nabire | |