Selular.id – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) berencana memangkas anak dan cucu usaha yang berjumlah 60 perusahaan menjadi 22 perusahaan saja.
Hal ini merupakan permintaan BPI Danantara selaku pemegang saham perusahaan.
“Dalam dua hingga tiga tahun ke depan jumlah anak usaha akan menjadi 22 anak usaha. Harapannya bakal finish di akhir 2027,” ungkap Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Telkom Indonesia Arthur Angelo Syailendra di Jakarta, Senin (11/8/2025).
Perampingan jumlah anak usaha ini adalah bagian dari usaha transformasi bisnis yang dijalankan Telkom.
Saat ini ada beberapa anak usaha yang memiliki bisnis yang sama bahkan Telkom juga memiliki anak usaha non bisnis inti perusahaan.
Contohnya, Telkom memiliki 5% PT Pefindo Biro Kredit.
Bentuk transformasi bisnis lain dari Telkom adalah merambah bisnis lain di luar bisnis seluler.
Bisnis tersebut berisikan bisnis tower, fiber optik, pusat data, satelit, hingga bisnis internasional.
Selain itu, Telkom juga hanya akan berinvestasi pada proyek besar dengan tingkat pengembalian modal (yield) tinggi.
Strategi ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Telkom pada Telkomsel sebagai penyumbang pendapatan terbesar.
“Mindset diubah menjadi partnership, bukan lagi lakukan sendiri. Menggandeng swasta yang memiliki teknologi dan kemampuan dalam bidang tersebut,” tegas Arthur.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi transformasi menuju visi “Telkom 30” yang menitikberatkan fokus pada penguatan infrastruktur digital.
Lakukan Penilaian Anak Perusahaan
Sementara itu, Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan perusahaan saat ini tengah melakukan penilaian menyeluruh terhadap seluruh anak usaha yang dimiliki.
Penilaian tersebut bertujuan memastikan setiap entitas benar-benar memberikan nilai tambah dan sejalan dengan arah bisnis utama perseroan.
Perampingan ini, menurut Dian, menyasar anak usaha yang dinilai tidak relevan atau berada di luar koridor telekomunikasi dan infrastruktur digital.
Anak usaha tersebut akan ditertibkan melalui sejumlah opsi mulai dari divestasi hingga penutupan.
“Formulasi yang nantinya menentukan apakah akan di-divest, jual, apakah akan ditutup, apakah akan digabungkan diantara beberapa anak perusahaan di dalam Telkom, ataupun bahkan digabungkan dengan anak perusahaan lain di dalam Danantara,” ujar Dian dalam program The Fundamentals IDX Channel, dikutip Selasa (13/1/2026).
Baca juga:
- Telkomsel Alami Lonjakan Trafik 12,42% Selama Libur Natal dan Tahun Baru
- TelkomGroup Rampungkan Infrastruktur di Sumatera, Jaringan Digital Kembali Normal
Ia menjelaskan opsi penggabungan ke induk BUMN baru, Danantara, terbuka lebar mengingat sejumlah anak usaha Telkom memiliki kesamaan lini bisnis dengan BUMN lain, seperti di sektor perhotelan, kesehatan, dan asuransi.
“Jadi memang ada yang tadi ya, di-divest, ada yang akan dijual, ada yang akan ditutup, ada yang akan digabungkan, akan ada yang di-simplify, di-multiply. Maksudnya, akan diperbesar, di-expand,” lanjut Dian.
Langkah agresif ini diarahkan untuk mencapai target utama Telkom pada 2030, yakni meningkatkan Total Shareholder Return (TSR) sekaligus mendorong efisiensi alokasi modal.
Dian menargetkan kapitalisasi pasar Telkom dapat berlipat ganda pada akhir dekade ini.
“Akan dilakukan perampingan supaya memang anak perusahaan yang dimiliki itu bergerak di dalam koridor telekomunikasi, koridor infrastruktur digital. Kami mengeliminasi hal-hal yang tidak ada hubungannya, yang tidak perlu atau yang tidak create value for the group,” tegas Dian.











































