Selular.ID – Pendapatan tiga merek HP asal China, Xiaomi, Oppo, dan Vivo, kompak anjlok pada kuartal kedua (Q2) 2026.
Berdasarkan laporan terbaru Counterpoint Research, Xiaomi menjadi merek yang paling terpukul dengan penurunan pengiriman sampai 26 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Akibat penurunan yang paling tajam di antara lima merek smartphone terbesar dunia, pendapatan Xiaomi ikut turun 17 persen secara year-on-year (YoY).
Padahal, harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) HP Xiaomi justru naik 13 persen selama periode tersebut.
Baca juga:
- Perbedaan Redmi 17 dan 17 5G, HP Baterai Jumbo yang Sudah Dapat Sertifikasi SDPPI
- Vivo Perkuat Dominasi 5G Lewat S2 Berlayar Lengkung 120Hz
Counterpoint menyebut, ketergantungan Xiaomi terhadap pasar entry-level dan kelas menengah menjadi salah satu penyebabnya.
Dua segmen tersebut terkena dampak paling besar dari kenaikan harga memori.
Harga sejumlah HP Xiaomi pun ikut naik untuk mengimbangi biaya produksi yang makin tinggi.
Masalahnya, kenaikan harga tersebut justru membuat permintaan turun lebih cepat, sehingga peningkatan ASP belum mampu menutupi penurunan volume penjualan.
Xiaomi kini mulai mengubah strateginya dengan menaikkan harga beberapa model, merampingkan portofolio, serta lebih mementingkan profitabilitas daripada mengejar volume penjualan.
Perusahaan juga makin fokus ke smartphone upper mid-range dan premium yang menawarkan margin lebih besar.
Bukan cuma Xiaomi, merek asal China lainnya seperti Oppo dan Vivo juga menghadapi situasi yang serupa sepanjang Q2-2026.
Pendapatan Oppo turun 10 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, sedangkan Vivo mengalami penurunan sebesar 11 persen.
Sama halnya, ASP kedua merek tersebut juga naik. Harga jual rata-rata HP Oppo naik 9 persen, sementara Vivo naik 13 persen secara tahunan.
Nasib keduanya pun sama, di mana kenaikan harga belum mampu mengimbangi penurunan jumlah perangkat yang terjual.
Menurut Counterpoint, Oppo dan Vivo masih punya eksposur cukup besar terhadap segmen yang sensitif terhadap harga.
Alhasil, ketika harga perangkat naik akibat mahalnya komponen, permintaan pun ikut tertekan.
Naiknya ASP Oppo dan Vivo juga dipengaruhi oleh melemahnya penjualan perangkat entry-level, penyesuaian harga produk, serta strategi portofolio yang lebih disiplin, sehingga komposisi penjualan bergeser ke HP dengan harga lebih mahal.
Bagaimana dengan Apple dan Samsung?
Kondisi yang dialami Xiaomi, Oppo, dan Vivo cukup kontras dengan Apple dan Samsung.
Apple justru mencatat performa kuat pada Q2-2026. Pendapatan dari penjualan iPhone naik 22 persen secara tahunan, sementara jumlah pengirimannya tumbuh 13 persen.
Apple bahkan menguasai 49 persen dari total pendapatan pasar smartphone global, tertinggi yang pernah dicatat perusahaan pada kuartal kedua.
Kinerja tersebut ditopang permintaan terhadap iPhone 17 Series, terutama iPhone 17 dan iPhone 17 Pro Max.
Research Director Counterpoint Research, Tarun Pathak mengatakan, berbeda dari banyak vendor yang menaikkan harga secara agresif, Apple sejauh ini masih mempertahankan harga iPhone relatif stabil.
Kemampuan Apple menyerap kenaikan biaya produksi membuat perusahaan lebih terlindungi dari krisis memori.
Strategi tersebut sekaligus membuat iPhone terlihat semakin kompetitif ketika banyak HP Android justru mengalami kenaikan harga.
Namun, Counterpoint memperkirakan Apple juga tidak akan terus menahan kenaikan harga.
“Apple kemungkinan akan menaikkan harga dalam beberapa kuartal mendatang,” ujar Pathak.
Samsung juga masih mencatat pertumbuhan. Pendapatan dan pengiriman smartphone naik 9 persen secara tahunan, dengan pangsa pendapatan global sebesar 16 persen.
Pertumbuhan Samsung ditopang permintaan yang stabil terhadap Galaxy A Series serta berlanjutnya momentum Galaxy S26 Series di kelas flagship.
Samsung juga dinilai punya keuntungan dari integrasi vertikal dan kontrol yang lebih baik terhadap pasokan komponen.
Hal tersebut membantu perusahaan menahan kenaikan biaya dan menjaga harga jual rata-ratanya relatif stabil.
Adapun, total pendapatan pasar smartphone secara global naik 7 persen secara YoY pada Q2-2026, mencapai USD109 miliar atau lebih dari Rp1.936 triliun pada Q2-2026.
Nilai tersebut menjadi pendapatan tertinggi sepanjang sejarah untuk periode kuartal kedua, meski jumlah pengiriman smartphone secara global mengalami penurunan.
Hal ini dipicu oleh naiknya ASP menjadi 17 persen dibanding tahun lalu, menjadi USD400 atau setara Rp7,1 jutaan.
“Pasar smartphone global telah memasuki fase baru di mana volume pengiriman bukan lagi pendorong utama pertumbuhan,” ujar Senior Analyst Counterpoint, Shilpi Jain.
“Sebaliknya, nilai (harga) telah menjadi penggerak utama pertumbuhan, dengan kenaikan biaya komponen sebagai katalisnya,” tutupnya.



















































