Techdaily.id – Perkembangan artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara manusia bekerja, mengambil keputusan, memberikan layanan, hingga menciptakan nilai ekonomi. Jika sebelumnya infrastruktur identik dengan jalan, listrik, jaringan telekomunikasi, dan pusat data, kini kecerdasan berbasis teknologi mulai menjadi bagian penting dari infrastruktur ekonomi dan sumber daya manusia.
Strategic Advisor & Managing Partner FIP Advisory Firm | PT Ferali Investa Primatama, Feby M. Faisal, mengatakan perkembangan AI perlu dilihat bukan hanya sebagai kemajuan teknologi, tetapi sebagai perubahan fundamental yang akan memengaruhi produktivitas manusia dan organisasi.
“AI bukan lagi sekadar teknologi untuk mengotomatisasi pekerjaan. AI mulai mengubah cara manusia memahami informasi, mengambil keputusan, memberikan layanan, dan menciptakan nilai,” ujar Feby.
Menurutnya, pertanyaan strategis yang perlu dijawab bukan hanya teknologi apa yang akan berkembang, tetapi bagaimana manusia dan organisasi membangun kemampuan agar dapat menciptakan nilai yang lebih besar di masa depan.
Dalam konteks tersebut, strategic foresight menjadi semakin penting. Foresight tidak sekadar digunakan untuk memprediksi masa depan, melainkan untuk membaca berbagai sinyal perubahan yang berasal dari teknologi, ekonomi, demografi, perilaku masyarakat, hingga regulasi.
“Foresight bukan ramalan. Foresight adalah kemampuan membaca sinyal perubahan—teknologi, ekonomi, demografi, perilaku, dan regulasi—kemudian menerjemahkannya menjadi keputusan hari ini,” katanya.
AI dan Masa Depan Healthcare
Salah satu sektor yang dinilai akan mengalami perubahan signifikan akibat perkembangan AI adalah healthcare atau layanan kesehatan.
Feby menjelaskan, healthcare selama ini lebih banyak dipandang sebagai sektor pelayanan. Padahal, kesehatan memiliki hubungan erat dengan pembangunan human capital karena kondisi kesehatan masyarakat turut menentukan kemampuan seseorang untuk belajar, bekerja, beradaptasi, dan berkontribusi secara ekonomi.
Sebaliknya, penyakit dan keterlambatan penanganan tidak hanya menimbulkan persoalan medis, tetapi juga dapat memberikan dampak terhadap biaya sosial dan produktivitas.
Perkembangan teknologi kemudian membuka peluang pergeseran dari pendekatan reactive care menuju preventive intelligence. Pemanfaatan data dapat membantu memahami pola kesehatan, sementara AI dapat digunakan untuk mendukung risk stratification dan membantu mengidentifikasi risiko lebih awal.
“Teknologi membuka peluang pergeseran dari reactive care menuju preventive intelligence. Data dapat membantu memahami pola, AI dapat mendukung risk stratification, dan sistem digital dapat membantu mengidentifikasi risiko lebih awal serta memberikan edukasi yang lebih personal,” jelas Feby.
Meski demikian, menurut dia, pemanfaatan AI dalam healthcare tetap harus menempatkan manusia sebagai bagian utama dari proses pengambilan keputusan.
“AI bukan pengganti manusia. AI memperkuat kemampuan manusia. Dalam healthcare, masa depan bukan doctor versus AI, melainkan doctor with AI,” tegasnya.
AI dan Pertarungan Baru Produktivitas
Perubahan serupa juga terjadi dalam dunia kerja dan produktivitas. Kehadiran AI memungkinkan berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang untuk dilakukan secara lebih cepat, mulai dari pengolahan informasi hingga analisis dan dukungan terhadap proses pengambilan keputusan.
Namun, Feby menilai produktivitas tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan bekerja lebih cepat atau lebih lama. Produktivitas pada akhirnya ditentukan oleh seberapa besar nilai yang dapat dihasilkan dari sumber daya yang tersedia.
“Produktivitas bukan berarti bekerja lebih lama, tetapi menghasilkan nilai lebih besar dari sumber daya yang tersedia,” ujarnya.
Menurutnya, AI dapat membantu mengurangi cognitive friction, mempercepat proses analisis, serta membantu manusia mengambil keputusan secara lebih efektif. Namun, keberadaan teknologi tidak secara otomatis menghasilkan produktivitas.
“Teknologi tidak otomatis menciptakan produktivitas. Nilai baru muncul ketika manusia dan organisasi mampu menggunakannya secara efektif,” kata Feby.
Karena itu, adopsi AI tidak cukup hanya dengan menyediakan teknologi. Organisasi juga perlu menyiapkan sumber daya manusia, tata kelola, data, serta desain sistem yang mampu memastikan teknologi menghasilkan dampak nyata.
Human Capability Stack
Dalam melihat perkembangan tersebut, Feby memperkenalkan konsep Human Capability Stack yang terdiri dari lima lapisan, yakni digital infrastructure, data infrastructure, artificial intelligence, human capital, dan productivity.
Kelima lapisan tersebut saling berkaitan. AI membutuhkan data yang berkualitas. Data membutuhkan tata kelola yang baik. Teknologi membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menggunakannya. Seluruh lapisan tersebut pada akhirnya harus bermuara pada penciptaan nilai.
“AI membutuhkan data yang baik; data membutuhkan governance; teknologi membutuhkan SDM; dan seluruhnya harus bermuara pada penciptaan nilai. Tantangan akhirnya bukan sekadar technology adoption, tetapi system design,” jelasnya.
Perspektif tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama dalam transformasi berbasis AI bukan hanya mengenai seberapa cepat teknologi diadopsi, tetapi bagaimana seluruh ekosistem dapat dirancang agar teknologi, manusia, data, dan institusi dapat bekerja secara terintegrasi.
Tantangan Indonesia
Bagi Indonesia, perkembangan AI juga menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Menurut Feby, Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi yang dikembangkan untuk kebutuhan global.
Kebutuhan akan teknologi yang kontekstual menjadi penting, terutama karena Indonesia memiliki karakteristik bahasa, institusi, data, kebutuhan pembangunan, serta kondisi sosial dan ekonomi yang beragam.
“Bagi Indonesia, tantangannya bukan hanya mengadopsi AI, tetapi membangun AI yang kontekstual sesuai dengan bahasa, institusi, data, kebutuhan pembangunan, dan kondisi lokal,” katanya.
Untuk itu, diperlukan kombinasi antara teknologi yang dapat dipercaya, infrastruktur yang memadai, sumber daya manusia yang siap, serta governance yang mampu membangun kepercayaan.
Perubahan tersebut pada akhirnya membawa ekonomi memasuki fase baru. Jika sebelumnya transformasi digital berfokus pada digitalisasi layanan dan proses bisnis, perkembangan AI mendorong pergeseran menuju sistem yang semakin cerdas dan mampu mendukung pengambilan keputusan.
Feby melihat arah perubahan tersebut sebagai pergeseran dari digital economy menuju intelligent economy.
“Perubahannya bergerak dari digital services menuju intelligent systems, dari reactive healthcare menuju preventive intelligence, dari automation menuju human augmentation, dan dari digital adoption menuju measurable productivity,” ujarnya.
Menurutnya, pertanyaan terbesar mengenai AI bukan hanya seberapa pintar mesin akan berkembang, tetapi seberapa besar kemampuan manusia yang dapat dibangun melalui bantuan teknologi tersebut.
“Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya seberapa pintar mesin akan menjadi, tetapi seberapa besar kemampuan manusia yang dapat kita bangun dengan bantuan mesin,” kata Feby.
Ia menambahkan, masa depan tidak semata-mata sesuatu yang diprediksi, tetapi sesuatu yang perlu dirancang melalui keputusan dan investasi yang dilakukan sejak saat ini.
“Karena masa depan bukan sekadar sesuatu yang kita prediksi. Masa depan adalah sesuatu yang kita rancang,” pungkasnya.


















































